Jadikan Hutan Riam Cindai sebagai Daerah Ekowisata yang Menarik

Sketsanews.com – Ekowisata adalah suatu kegiatan wisata atau tourism di mana para wisatawan diajak mengunjungi suatu daerah yang masih alami dan para wisatawan diharapkan mempunyai tanggung jawab terhadap proses konservasi alam dan peningkatan kemampuan ekonomi penduduk lokal yang tinggal di daerah tersebut. Ekowisata ini menekankan berwisata ke suatu daerah di mana kekayaan flora dan fauna serta kebudayaan setempat yang dijadikan andalan pemikat suatu kegiatan wisata.

Jadikan Hutan Riam Cindai sebagai Daerah Ekowisata yang MenarikPhoto :Jadikan Hutan Riam Cindai sebagai Daerah Ekowisata yang Menarik – vstory

Di mana lokasi Riam Cindai? Riam Cindai terletak di Kecamatan Tayan Hulu (sosok – Entawak), Kabupaten Sanggau, Kalimantan Barat. Kurang lebih sekitar 3 jam perjalanan darat dari Pontianak. Hutan yang masih alami dilengkapi aliran sungai yang teramat jernih merupakan sesuatu yang dapat menjadi daya jual tempat ini.

Di Riam Cindai kita akan menemukan sungai yang amat jernih dengan batu-batuan yang tampak jelas dan ikan-ikan yang berenang bebas di sekitarnya. Pemandangan seperti ini agak sulit didapatkan di sungai-sungai lain yang ada di Kalimantan Barat. Karena hampir sebagian besar air sungai sudah berwarna cokelat kotor karena tercemar oleh kegiatan pertambangan emas ilegal.

Berbagai kegiatan yang bisa dilakukan di Riam Cindai adalah kemping, berenang, memancing atau hanya sekadar duduk-duduk santai di tepi sungai. Selain sungai yang jenih, di daerah Hutan Cindai ini masih didapatkan pohon-pohon kayu berukuran besar dan tinggi dan beraneka ragam anggrek hutan yang berwarna indah. Pokoknya boleh dikatakan siapapun yang hobi berwisata ke alam terbuka akan merasakan sensasi damai di tempat ini dan pasti tidak mau pulang.

Menyusuri sungai di Cindai sampai ke puncaknya bagi saya pribadi merupakan pengalaman yang teramat menyenangkan. Air yang dingin, suasana udara yang sejuk, pepohonan yang rindang dengan sesekali terdengar kicauan burung membuat kita betah berlama-lama tinggal di dalam hutan. Sesekali terlihat anak-anak penduduk lokal bermain seluncuran dari batu dan air yang deras begitu jernihnya.

Ketika suatu daerah mempunyai hutan alami yang begitu cantik kenapa pemerintah setempat tidak menjadikannya suatu tempat wisata yang bisa mendatangkan pundi-pundi untuk penduduk lokal? Jawabannya tentu banyak sekali.

Selain akses jalan yang belum memadai, faktor sumber daya manusianya juga masih harus dibenahi. Seandainya kawasan ini sudah sangat terbuka untuk masyarakat umum niscaya akan banyak sampah plastik bertebaran. Karena kebiasaan orang Indonesia walaupun katanya pencinta alam tetapi hobinya buang sampah sembarangan.

Sebuah pekerjaan rumah untuk Dinas Pariwisata Kabupaten Sanggau untuk memperkenalkan alamnya yang begitu indah untuk dijadikan daerah ekowisata. Sebelum daerah tersebut berubah menjadi perkebunan sawit dan sungai serta air terjunnya kering dan hanya batu-batu yang tersisa. Harus ada peraturan konservasi alam yang mencegah ekspansi perkebunan sawit secara berlebihan.

Beberapa panduan yang harus dipenuhi untuk menjadikan suatu daerah menjadi daerah ekowisata adalah minimal impact jadi kegiatan wisata hanya boleh memberikan dampak yang minimal terhadap alam di lingkungan sekitar, mampu membangun kesadaran dan pemahaman akan menjaga lingkungan dan kebudayaan setempat.

Dan memberikan pengalaman positif kepada pengunjung dan penduduk lokal yang dikunjungi, serta mampu memberikan dampak ekonomi terhadap kegiatan konservasi alam. Yang terakhir mampu memberikan dampak ekonomi kepada penduduk lokal.

Jadi intinya, pada kegiatan ekowisata ini proses konservasi alam harus tetap terjaga sehingga jangan sampai kegiatan wisata malah merusak ekosistem yang sudah ada.

Source : Viva.co.id

2019-11-23 10:56:02

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: