Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Headlines, News, Peristiwa Jasad Bomber Gereja Surabaya yang Tak Kunjung Diambil Keluarga

Jasad Bomber Gereja Surabaya yang Tak Kunjung Diambil Keluarga

Bom Surabaya. ©2018 REUTERS/Beawiharta

Sketsanews.com, Magetan – Jasad keluarga yang melakukan teror pengeboman di tiga gereja di Surabaya masih berada di RS Bhayangkara. Belum ada keluarga yang mengambil.

Pelaku pengeboman tiga gereja di Surabaya adalah satu keluarga. Dita Oepriarto yang merupakan kepala keluarga mengebom Gereja Pantekosta yang ada di Jl Arjuna, istrinya Puji Kuswati yang mengajak dua anak perempuanya menyerang Gereja Santa Maria Tak Bercela. Terakhir dua anak laki-laki pasangan Dita dan Puji menyerang GKI di Jl Diponegoro.

Sampai saat ini enam jenazah tersebut masih berada di RS Bhayangkara. Belum ada tanda-tanda pengambilan jenazah itu.

“Saya mengimbau melalui media untuk disampaikan kepada siapa saja yang memiliki ikatan keluarga dengan saudara Anton, saudara Tri dan saudara Dita bahwa Bapak Ibu saudara-saudara sekalian bisa hadir ke Polda Jawa Timur, ke Rumah Sakit Bhayangkara,” kata Kabid Humas Polda Jatim Frans Barung Mangera baru-baru ini.

Selain untuk mengambil jenazah, kedatangan keluarga dibutuhkan untuk diambil DNA-nya guna mengetahui kelanjutan identifikasi pelaku.

Selain tak ada yang mengambil, muncul penolakan terhadap pemakaman keluarga itu. Penolakan itu dilontarkan tetangga Dita di Surabaya. Begitu juga dengan keluarga di Banyuwangi.

Khusus untuk Puji, persoalan pemakaman jenazahnya menemui titik terang. Keluarganya di Magetan menyatakan siap menerima jenazah Puji.

Bila diizinkan dan dikehendaki, pemakaman jenazah Puji dapat dilaksanakan di Desa Krajan, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan.

“Kami tidak punya hak menolak bila keluarga Puji Kuswati dimakamkan disini. Pertimbangan saya dan warga Desa Krajan bersedia menerima jenazah Puji Kuswati karena Bumi dan isinya ini milik Allah SWT. Saya hanya berdasarkan keyakinan agama saya, untuk tidak membedakan semua umat,” jelas Kepala Desa Krajan, Kecamatan Parang, Kabupaten Magetan, Mujiono, seperti dikutip dari  detik, Jumat (18/5/2018).

Mujiono menambahkan, pihaknya juga memahami jika sampai detik ini pihak keluarga Banyuwangi masih syok. Namun di sisi lain, keluarga Banyuwangi juga telah menghubungi keluarga Magetan dan meminta untuk tidak mengurusi jenazah Puji.

“Sampai detik ini informasi juga belum ada keputusan dari Banyuwangi. Sedangkan ortu asli Banyuwangi sudah telepon ke bapak angkat untuk tidak ngurusi jenazahnya Puji,” katanya.

Dijelaskan Mujiono, Puji memang bukan kelahiran Desa Krajan namun diasuh dan dibesarkan pamannya yang bernama Rijan di Desa Krajan sejak usia 18 bulan.

Puji tinggal bersama sang paman hingga duduk di bangku kuliah di Akademi Keperawatan (Akper) RSI Surabaya, bahkan Puji dimasukkan ke dalam Kartu Keluarga (KK) sang paman. Ibu empat anak itu baru keluar dari KK pamannya setelah menikah dengan Dita Oepriarto.

“Jadi Puji Kuswati ini diasuh Mbah Rijan (pamannya) sejak umur 18 bulan. Usia saya selisih tiga tahun lebih tua dengannya (almarhum Puji Kuswati). Jadi saya masih paham wajah dan gayanya. Kalau disapa hanya senyum malu-malu,” tutupnya.

Mbah Rijan atau ayah angkat Puji saat ini telah berusia 80 tahun dan tinggal seorang diri. Saat ini kondisinya juga sering sakit-sakitan, bahkan untuk wawancara harus diwakili oleh Mujiono.  (Ro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: