Sketsa News
Home Analisis, Berita, Berita Terkini, Headlines, News Jefri, Berstatus Terduga Dibayar dengan Nyawa

Jefri, Berstatus Terduga Dibayar dengan Nyawa

Muhammad Jefri, sehari sebelum ditangkap Densus 88 AT. Foto:Istimewa

Sketsanews.com, Jakarta – Awal bulan Februari 2018 ini, Densus 88 kembali bertindak agresif menangkapi terduga teroris. Kali ini, seorang pria asal Indramayu meninggal setelah sebelumnya ditangkap Densus 88 AT.

Adalah Muhammad Jefri (MJ, 32 tahun), bapak 1 anak yang berprofesi sebagai pedagang asongan, diciduk oleh Densus 88 AT di Jalan Jendral Sudirman Desa Cipancuh, Kecamatan Haurgeulis, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat pada Rabu (07/02) sekitar pukul 08.15 WIB. Diamankan pula istri Jefri, yakni Ardilla(18th) untuk menjalani pemeriksaan. Dua hari setelah penangkapan, Jefri dipulangkan dalam keadaan tak bernyawa, istrinya pun syok.

Polri membenarkan Jefri tewas setelah sebelumnya ditangkap tim Densus 88 Antiteror Polri di Indramayu, Jawa Barat, pada Rabu (07/02) lalu. Jefri diduga merupakan jaringan dan Binaan Ali Hamka yang merupakan Narapidana Teroris di LP Cipinang.

Proses penangkapan yang kemudian berakhir dengan kematian ini menjadi catatan dan polemik yang berkepanjangan. Seorang yang masih berstatus “terduga” ditangkap dalam keadaan sehat, ditangkap tanpa surat penangkapan, dan dua hari kemudian diantar pulang dalam kondisi meninggal.

Kasus ini mirip dengan kejadian tahun 2016 silam, yakni penangkapan Siyono, pemuda asal Desa Pogung, Klaten, Jawa Tengah, yang ditangkap dan diinterogasi satuan Densus 88 hingga meninggal. Komisioner Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) Maneger Nasution mengatakan bahwa menurut data Komnas HAM, Siyono adalah orang ke-121 yang tewas sebagai terduga teroris tanpa menjalani proses hukum sejak Detasemen Khusus 88 Antiteror dibentuk.

Selain Siyono, masih ada sederet nama lain yang diduga menjadi korban kekerasan Densus 88, seperti Andika Bagus Setiawan, siswa kelas 2 MAN Jamsaren, Solo, Jawa Tengah, yang dianggap terlibat dalam jaringan teroris. Andika ditemui orang tuanya dalam keadaan babak belur di tahanan.

Terduga teroris lain banyak yang bernasib lebih naas dari Andika. Mereka belum sempat ditanyai tapi langsung ditembak mati, atau diklaim ditembak mati, ada juga ditemukan bekas-bekas penyiksaan di tubuh mereka.

Sekretaris The Islamic Study and Action Center (ISAC) Endro Sudarsono menyebutnya dengan istilah “extrajudicial killing atau Eksekusi di luar keputusan pengadilan.”

Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto menuturkan, terduga teroris Indramayu, Jawa Barat, Muhammad Jefri (MJ) alias Abu Umar, meninggal lantaran serangan jantung. Penyakit itu sudah lama dideritanya.

Namun, istri mendiang MJ membantah pernyataan dari Kadiv Humas Polri tersebut. Menurutnya, suaminya tidak pernah punya riwayat penyakit jantung. Aci, adik kandung MJ juga sependapat dengan kakak iparnya.

Seandainya benar almarhum Jefri meninggal karena serangan jantung, maka layak dipertanyakan tindakan apa yang telah dilakukan terhadap terduga yang masih dalam proses pemeriksaaan 7×24 jam oleh Densus 88 AT. Sebagaimana diketahui, pemicu serangan jantung adalah situasi dan kondisi tertentu.

Penanganan tindak pidana terorisme secara jelas aturannya menekankan pentingnya akuntabilitas dalam penindakan terhadap tersangka sesuai dengan prosedur dalam perundang-undangan yang ada, dan penindakan yang menyebabkan kematian tersangka harus dapat dipertanggungjawabkan (Perkap Kapolri No 23/2011 Tentang prosedur penanganan tindak pidana terorisme, pasal 3 huruf e, dan pasal 19, ayat 3)

Mungkinkah tindakan Densus 88 AT terkait penangkapan yang berakhir dengan kematian terduga teroris Muhammad Jefri bisa dikategorikan Terorisme juga ?

Cara-cara penanganan terorisme oleh Densus 88 yang kontroversial, tidak transparan, dan tidak memperhatikan parameter HAM dan aturan hukum yang ada justru akan memicu, menyuburkan, atau membuat rantai ekspresi atau tindakan terorisme lainnya bermunculan.

(Fya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: