Sketsa News
Home Citizen-Jurnalism Kaos Yang Bikin Otak Politisi Chaos

Kaos Yang Bikin Otak Politisi Chaos

KAOS YANG BIKIN OTAK POLITISI CHAOS

Oleh : Agi Betha

Sketsanews.com –ย Saat ini pikiran para politikus lagi CHAOS. Kacau balau. Mereka menghadapi situasi dimana struktur dan sistem baku dalam berpikir sudah ruwet. Dan itu semua hanya gara-gara KAOS.

Bayangkan..! Tahun lalu, hanya karena kalimat ‘Jangan mau dibohongi pakai Al Maidah 51’, jutaan masyarakat Indonesia disatukan. Sekarang, hanya dengan kata-kata yang lebih singkat lagi ‘2019 Ganti Presiden’, jutaan massa di berbagai kota besar di-euphoriakan.

 

 

 

 

 

 

LUCUNYA. Nah ini bagian yang paling menggelikan untuk diamati. Salah satu petinggi PDIP, Dwi Ria Latifa, terserang cara berpikir Chaos itu tadi. Ia dilanda kepanikan. Saking bingungnya menghadapi kondisi psikologi massa yg unpredictable, ia sampai menuduh: “Saya dapat info bahwa kaos ganti presiden dimana-mana dijual murah, bahkan dijual ketengan. Saking gak lakunya.”

KURANG INFORMASI. Sepertinya bu Latifa sekali-kali perlu jalan-jalan ke MARKETPLACE. Selama ini PDIP ajak kader jalan-jalan ke Tiongkok untuk anjangsana belajar ke Partai Komunis China saja bisa, masak ngiter di dunia maya yg cuma pakai jari jempol, berat dilakukan.

NAH, di marketplace bu Latifa yang tangan kanan bu Mega itu akan bisa menyaksikan: Betapa kaos GantiPresiden memang laku keras. Pada beberapa seller malah out of stock. Dan feed back yang diterima penjual bisa mencapai puluhan, bahkan ratusan. Jangan dikira ini perkara kecil, karena satu orang buyer jarang yg hanya membeli 1 lembar kaos. Mereka bisa order beberapa, bahkan sampai puluhan kaos. Pengirimannya tak cuma ke pelosok Indonesia, tapi juga ke negara lain.
Bagaimana pembayarannya? GAK PAKAI NGUTANG.

Ini menandakan Ganti Presiden sudah menjadi SOCIAL MOVEMENT. MENASIONAL, BAHKAN MENGINTERNASIONAL. Sebuah Social Movement akan terjadi ketika rakyat sudah tidak perlu lagi diojok-ojoki. Tidak perlu diiming-imingi. Tidak perlu digerojok barang gratisan. Social Movement adalah gerakan yang tumbuh dari bawah, atas kesadaran swadaya masyarakat sendiri mereka bergerak. Dari mulanya hanya sebuah geliat kecil, lalu merangsek meluas, dan akhirnya menjadi gelombang raya yg bergulung-gulung.

Pengikut Gerakan Sosial itu akan saling menghampiri meski tak kenal. Saling menguatkan meski bukan saudara. Saling membantu tanpa bertanya engkau siapa. Semuanya semata karena adanya kebutuhan untuk mengisi jiwa yg resah dan masa depan yg tercabik-cabik.

Sebuah Social Movement yang padat, solid, dan kuat, akan menggelinding bak bola salju. Kian lama kian membesar. Tahan terhadap ancaman, kuat menghadapi makian, dan water proof dari perundungan perundang-undangan.
Kenapa? Karena Social Movement bukan makar. SOCIAL MOVEMENT ADALAH ANAK KANDUNG DEMOKRASI. Ia lahir dari rahim demokrasi itu sendiri.

Kembali ke soal kaos. Lalu bagaimana nasib kaos bertagline ‘2019 Tetap Jokowi’?. Sorry to say, nasibnya mengenaskan. Masa depannya suram. Menjadi sebuah gerakan sosial yang sia-sia dilakukan. Layu sebelum berkembang, boro-boro akan berbuah. Entah bagaimana sisa-sisa kaos itu nantinya akan dikemanakan.

MENJAWAB TUDINGAN. Dan menjawab tudingan mbak PDIP bahwa kaos ‘Ganti Presiden’ sudah dijual KETENGAN karena gak laku, maka sebenarnya si embak sedang membuat Ujaran Kepanikan. BERHALUSINASI. Tak sadar ia menunjuk ke mukanya sendiri. Ia mengatai dan membuka borok kelompoknya.

Taukah bagaimana history dari kaos ‘Dia Sibuk Kerja’ yg dipakai pro-Jkw di CFD hari minggu lalu? BETUL, KAOS ITU DIBAGIKAN. Banyak yg bersaksi melihat pembagian gratisnya di sekitar Sarinah. Kenapa kok disebar gratis? Karena kalo dijual tidak laku, meski harganya ketengan.

Apa tanda-tanda dari kaos gratisan? Kaos gratisan untuk kebutuhan politis ditandai dari bahannya yang sangat tipis, mulur, terlihat sangat murah, karena memang disiapkan untuk sekali pakai.
Persis seperti filosofi pembuatan kondom, kata netizen, sekali pakai lalu buang.

๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž๐Ÿ˜Ž

 

 

(in)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: