Kasus Bunuh Diri Kuatkan Indikasi Adanya ‘Inflasi Pendididkan’

Bunuh diri


Bunuh diri

Sketsanews.com, Yogyakarta – Kasus seorang wanita yang tewas bunuh diri melompat dari lantai 4 sebuah mal di Pluit, Jakarta, pekan lalu memancing keprihatinan banyak pihak. Bukan hanya karena peristiwanya yang tragis, melainkan juga karena indikasi penyebabnya yakni karena wanita tersebut belum mendapatkan pekerjaan. Padahal yang bersangkutan adalah seorang lulusan sebuah perguruan tinggi di Australia.

Pengamat pendidikan, Muhammad Nur Rizal, mengatakan dilihat secara sistem maka hal ini kian menguatkan indikasi adanya ‘inflasi pendidikan’. “Dimana lulusan luar negeri tidak memberi jaminan pekerjaan yang berkualitas dan bergengsi,” kata Rizal kepada Republika beberapa waktu lalu.

Menurut Rizal, sekolah atau kampus yang terlalu berorientasi pada nilai akademis lupa menciptakan kultur untuk membangun keterampilan seperti daya juang, kegigihan, etos kerja, dan pengembangan keterampilan bekerja berdasarkan minat. Hal ini diperparah jika sekolah kurang memberikan ruang eksplorasi bagi siswa untuk mengembangkan dirinya secara utuh sehingga spiritualitas, intelektual, hingga kemampuan pengelolaan emosi dan sosialnya rendah.

“Akibatnya ketika menghadapi persoalan mereka mudah menyerah, tidak mampu mengelola diri, dan tidak bisa mengkomunikasikan dengan orang lain secara proporsional. Lalu bisa jadi memilih jalan pintas bunuh diri tersebut,” kata pendiri Gerakan Sekolah Menyenangkan (GSM) itu.

Sementara itu dilihat dari sisi keluarga, kata Rizal, hal ini bisa dipandang sebagai minimnya ruang dialog antara anak dengan orang tua sehingga keputusan untuk sekolah atau bekerja bisa jadi didominasi oleh orang tua. “Sehingga anak merasa tertekan dan kurang memiliki ruang untuk mengembangkan keinginan dan minatnya sendiri,” kata dosen Teknik Elektro UGM ini menambahkan.

Sementara itu psikolog remaja, Novi Candra, mengungkapkan peristiwa bunuh diri tersebut bisa jadi diakibatkan oleh banyak faktor. Meskipun demikian, terdapat kemungkinan adanya krisis kesehatan mental (health crisis), yaitu meningkatnya problem dan gangguan mental dari stres, depresi bahkan bunuh diri karena ketidaksesuaian antara perubahan global (era disrupsi) dengan model pendidikan.

Ketidaksesuaian ini, ujar Novi, membuat anak-anak muda yang dididik memakai pola lama merasa kebingungan. Apalagi jika institusi pendidikan atau rumah tidak menggunakan pendidikan berbasis manusia. Karena paradigma pendidikan lama berorientasi mencari kerja, maka anak muda yang tidak sadar bahwa kebutuhan kerja telah berubah akan merasa ditekan baik oleh sosial maupun orang tua.

“Lihat bagaimana saking malunya menyandang gelar pengangguran. Alih-alih mencoba wirausaha misalnya, orang tua dan anak-anak memilih sekolah lagi ke jenjang yang lebih tinggi hanya untuk menghindari status sosial,” tutur dosen Psikologi UGM ini. (Ad)

Sumber: Republika

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: