KEBODOHAN atau PURA-PURA BODOH

ILustrasi Foto Geologinesia, Google

ILustrasi Foto Geologinesia, Google

Oleh : Nanik Sudaryati

Sketsanews.com – Seorang menteri bercerita dengan bangganya soal investasi Pabrik Nikel oleh investor Cina di Morowali sebesar 5 miliar dolar AS atau sekitar Rp 65 Triliun.

Dia juga bangga karena investor Cina itu mengekspor dari Indonesia ke Amerika nikelnya. Lalu apa yang diperoleh Indonesia atas investasi sebesar itu ? Tenaga kerja yang jumlahnya sekitar 500 orang pada saat pabrik tersebut beroperasi. Kok hanya 500 orang ? Lha pabriknya sudah komputer semua, jadi gak perlu tenaga banyak. Sedangkan saat pembangunan semua tenaga dari Cina.

Selain tenaga kerja apa yang diperoleh Indonesia ? Ya pajak -pajak semacam PPN dan pajak ekspor yang tidak besar.
Lalu apa keuntungannya Cina ?… Wouw tentu kekayaan alam Indonesia (Nikel) yang di ekspor ke Amerika, dan duitnya langsung masuk ke Cina, bukan ke Indonesia.

Di luar itu ada MODUS BARU Cina mengapa mereka sekarang mengincar Indonesia ? Karena kalau dia ekspor dari Indonesia ke Amerika seperti Investasi Nikel di atas, maka mereka tidak dikenakan pajak ekspor alias pajaknya 0 persen oleh Amerika, karena dianggap Indonesia sebagai negara berkembang (padahal yang ekspor investor Cina yang ngeruk kekayaan alam Indonesia). Sebaliknya kalau Cina bangun pabrik nikel di negaranya sendiri dan ekspor ke Amerika maka akan dikenakan Pajak ekspor oleh Amerika sebesar 16 persen, karena Cina dianggap sebagai negara maju.
Sumpah kalau orang waras nggak bangga dengan investasi Cina di Indonesia, tapi nangis darah !!

Bagaimana tidak ? Saat membangun pabrik dengan alasan turnkey project mereka bawa tenaga kerja dari negaranya, saat pabriknya jadi ternyata bukan tipe pabrik yang padat karya karena semua sudah sistim kompiuter jadi cuman sedikit nyerap tenaga kerja kita, dan saat ekspor karena berangkat dari Indonesia dapat BONUS pajak ekspor 0 persen ke negara-negara maju, karena dikira ekspornya bangsa Indonesia yang dianggap sebagai negara berkembang. Dan yang jelas kekayaan alam kita yang dikeruk dan di ekspor duitnya bukan kembali ke Indonesia tetapi ke negaranya.

Saya jadi ingat Iran (tolong jangan dilihat syiahnya, tapi lihat bagaimana dia mengelola ekonominya). Iran yang tidak dicampuri Amerika dalam kebijaksanaan ekonominya sejak tahun 1979 dan malah di embargo oleh Amerika dan sekutunya, ternyata luar biasa maju ekonominya. Hutang luar negeri 0 persen, dan rakyat miskin di jamin negara. Kenapa ? Karena semua kekayaan alam dan perekonomian yang menguasai hajat hidup orang banyak dipegang atau dikuasai oleh BUMN-nya atau dikuasai negara.

Saya jadi mikir kenapa kita yang punya kekayaan alam yang LUAR BIASA dari tambang batubara , emas, nikel, minyak , hutan, kebun dll selalu mengundang asing ????? Mengapa kita punya BUMN malah cuman jadi ATM politik, tapi tidak didayakan untuk mengelola kekayaan alam kita ??? Apa susahnya mengambil nikel, minyak atau emas kita ??? Lha wong kita punya SDM Geologi, sampai Ir Perminyakan, Ir Perkebunan , Ir Kehutanan , Ir Pertanian, ahli-ahli IT serta tenaga lainnya yang tidak kalah dengan negara lain.

Sedih dan gemes serta marah lihat pengelolaan negara ini dari waktu ke waktu, jaman Orba kita di jajah Amerika dll, dan di jaman sekarang ganti Cina yang menjajah . Mengapa bisa begitu ? Karena 72 tahun MERDEKA kita hanya punya pejabat-pejabat bermental CALO dan jadi KAKI TANGAN asing yang lebih senang dapat tip sedikit masuk kantongnya, lalu dia dengan mudah menjual kekayaan alam dan aset negara ke asing, dari pada berpikir bagaimana Merdeka di atas kaki sendiri !!!

Kalau lihat kenyataan kita ini negara kaya tapi dililit hutang hingga ribuan triliunan dan rakyat miskin makin merajalela, rasanya naik darah banget !!! (Mungkin karena saya waras dan punya hati nurani ya ? Seperti yang sepakat dengan tulisan saya ini) ***

 

(in)

1 thought on “KEBODOHAN atau PURA-PURA BODOH

  1. *Kepinteran, atau pura-pura pinter?*

    _Sebuah catatan untuk kampret, yang otaknya selalu di bawah._

    Jangan pernah membayangkan bisnis pertambangan seperti kita punya halaman, lalu kita ajak orang menggali pasir di halaman rumah kita, dan menjualnya. Kita hanya dapat ongkos tukang dan sisanya diambil orang itu.

    Cara berpikir seperti inilah yang dipakai Sketsanews.

    Jika ada pertambangan di Indonesia, kita dapatnya banyak. Mulai dari royalti, pajak pertambahan nilai, pajak penghasilan, devisa hasil ekspor, dan tentu saja bagi hasil yang lebih banyak di kita. Memang, kalo jaman dulu banyak bocor karena diambil penguasa. Sekarang sih lebih transparan.

    Belum lagi soal pendapatan tidak langsung. Munculnya jasa sekitar lokasi, sebagai supporting system. Muncul pusat ekonomi baru. Dan lain sebagainya.

    Kenapa ga dikelola BUMN saja? Lha, kan tambang-tambang ini dikelola asing karena kontrak karya yang ditandatangani pemerintahan sebelumnya? Kita kena getahnya, dan sekarang lagi diberesin Jokowi.

    Lihat saja, Freeport dikuasai Inalum. Blok Mahakam dikuasai lagi Pertamina. Perkebunan dikelola PTPN dengan melibatkan masyarakat. Bukan lahan ratusan hektar yang dikelola perorangan kayak Prabowo.

    Ingat juga siapa yang bagi-bagi 30 juta hektar hutan ke kroni-kroninya, kalau bukan Soeharto, mertua Prabowo (meski akhirnya diceraikan Titiek). Siapa yang mengalihkan fungsi hutan saat jadi Menhut? Tanya Amien Rais dan Zulkifli Hasan.

    Begitulah seharusnya melihat persoalan: pakai logika, fakta dan akal karunia Allah SWT.

    Jangan otak ditaruh di bawah dan mikirnya pake nafsu setan. Kendalilan nafsu, salah satunya dengan ngaji dan sholat. Tapi, emang Prabowo bisa ngaji dan sholat?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: