Kecanduan Gadget Menyerang Prefrontal Cortex, Efeknya Mirip Gila karena Judi

Sketsanews.com –  SEMARANG – Game online yang memberikan efek kecanduan bakal memperparah bakat gangguan jiwa dari para pemainnya. Guna mengembalikan kondisi kesehatan mereka, diperlukan perawatan dari psikiater hingga di rumah sakit jiwa.

“Game online kalau diagnosis kami adalah judi patologis. Itu sama. Jadi orang-orang judi itu sama otaknya yang kena adalah prefrontal cortex,” kata psikolog klinis Indra Dwi Purnomo S.Psi M.Psi, Jumat 25 Oktober 2019.

“Yang perlu digarisbawahi kalau sampai gila, schizofren, gangguan jiwa berat itu menurut saya bukan karena itu (kecanduan game online). Itu diagnosis ganda. Biasanya sudah ada bibit atau riwayat (gangguan jiwa) sebelumnya, tidak mungkin pencetusnya karena game-nya,” tegas Indra.

Lipsus Gila Gadget. (Foto: Okezone)

Ketika anak atau gamer mulai kecanduan permainan di gawai, secara perlahan perilakunya akan sulit dikendalikan. Dia bakal terus-menerus main game dan mulai mengabaikan lingkungan sekitarnya. Hal itu akan semakin parah jika memiliki riwayat gangguan jiwa.

“Jadi kalau istilahnya ya kompulsinya itu tampak kalau kita ngomong orang kecanduan itu kompulsif untuk melakukan terus-menerus. Kalau kami istilahnya kompulsif itu pasti ada, kemudian mengabaikan hal yang lain (lingkungan),” tambah dia.

Indra mengungkapkan hingga kini sudah menangani sejumlah anak yang didiagnosis terindikasi kecanduan game online. Kebanyakan merupakan usia remaja yang berasal dari keluarga golongan ekonomi berkecukupan.

“Untuk klien saya terkait game online ini ada enam orang. Ada yang masih anak SD dan SMP. Mereka, saya tangani, dan enggak sampai masuk ke rumah sakit jiwa. Karena kalau sampai psikotik (gangguan jiwa) itu pasti ada bibit lain. Tidak mungkin hanya karena itu (game online),” lengkapnya.

Sementara untuk video viral anak-anak pecandu game online hingga tangannya bergerak tanpa kendali disebut karena gerakan tersebut telah terprogram di otak. Anak yang kecanduan itu mesti mendapat perawatan agar bisa kembali sembuh.

“Itu karena reaksi kompulsif yang tangan gerak sendiri di luar kesadaran. Pikiran obsesif mikirin terus sehingga tangan gerak sendiri, sudah terprogram di otaknya jadi gerak terus. Seperti orang dulu yang nyabu dan gerak terus anggota tubuhnya,” lugas dia.

“Jadi yang diterapi oleh psikolog itu rindunya bocah itu seperti craving, itu istilah kami. Craving itu seperti orang kangen atau rindu. Jadi, bagaimana menghilangkan perilakunya itu. Itulah yang di-treatment psikolog,” jelas dia.

Lipsus Gila Gadget. (Foto: Okezone)

(han)

Sumber : Okezone

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: