Kemarau Panjang, Produksi Gabah Kering Jateng Susut

Sketsanews.com SEMARANG — Produksi pangan Jawa Tengah (Jateng) diprediksi mengalami penurunan sepanjang tahun 2019 ini. Penurunan produksi gabah kering atau bahan baku beras ini tak lain disebabkan musim kemarau yang cukup panjang.

Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Jateng, Sentot Bangun Widoyono, mengatakan musim kemarau yang berkepanjangan membuat luas panen mengalami penurunan. Jika pada 2018, luas lahan pertanian yang mengalami panen di Jateng mencapai 1,7 juta hektare, maka tahun ini hanya sekitar 1,577 juta hektare.


Ilustrasi panen padi. (JIBI/Solopos/Antara/Siswowidodo)

“Dengan luas panen yang berkurang tentu hasil produksinya juga berkurang. Prediksi kami produksi gabah tahun ini sekitar 9,1 juta ton atau turun sekitar 700.000 ton dari produksi tahun lalu, yakni 9,8 juta,” ujar Sentot saat dijumpai Semarangpos.com di Hotel Room Inc,. Kota Semarang, Kamis (21/11/2019).

Sentot mengatakan turunnya produksi gabah kering di Jateng itu kemungkinan besar dikarenakan faktor cuaca dan bukan karena dampak lain, seperti pembangunan infrastruktur.

Hal itu dikarenakan pihaknya menghitung turunnya produksi gabah kering petani itu sesuai dengan luas lahan baku pertanian yang sudah dikurangi dengan dampak pembangunan infrastuktur sejak 2018 lalu, yakni sekitar 980.000 hektare.

“Di Jateng itu luas lahan bakunya sekitar 980.000 hektare. Yang kami hitung adalah luas lahan panen, karena setiap lahan baku memiliki masa tanam atau bisa panen beberapa kali dalam setahun,” ujarnya.

Musim kemarau tahun ini memang terbilang panjang dan berdampak buruk bagi lahan pertanian petani di Jateng. Data yang diterima Semarangpos.com dari Dinas Pertanian dan Perkebunan (Distanbun) Jateng hingga Oktober kemarin, jumlah sawah yang gagal panen atau mengalami puso di Jateng hingga September 2019 kemarin telah mencapai 17.902 hektare.

Sawah puso itu pun merata di hampir semua daerah di Jateng. Tercatat ada 32 kabupaten/kota di Jateng yang sawah petaninya mengalami puso, dengan jumlah terbanyak di Cilacap, yakni sekitar 4.000 hektare.

“Dari 17.902 hektare sawah yang terkena puso itu paling banyak ada di Cilacap, yakni sekitar 4.000 hektare. Kedua terparah di Kebumen dan disusul Grobogan,” ujar Kepala Balai Perlindungan Tanaman Pangan Hortikultural dan Perkebunan (BPTPHP) Distanbun Jateng, Herawati.

Solopos

2019-11-23 10:50:14

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: