Sketsa News
Home Berita Terkini, Editorial, News Kerusuhan di Mako Brimob Bentuk Ketidakadilan Penegak Hukum

Kerusuhan di Mako Brimob Bentuk Ketidakadilan Penegak Hukum

Mako Brimob Kelapa Dua Depok (foto: Sholeh Habibi / Sketsanews.com)

Sketsanews.com, Jakarta – Ibu kota negara memanas lagi dengan adanya kerusuhan yang terjadi di Mako Brimob Kelapa Dua Depok. Kerusuhan itu terjadi antara napi terorisme dengan aparat, Selasa (7/5/2018).

Kerusuhan di Markas Komando Brimob, Kelapa Dua, Depok mengakibatkan lima orang polisi tewas. Kelimanya tewas dengan mengalami luka di sekujur tubuh.

Karopenas Divhumas Polri Brigjen Mohammad Iqbal menyebutkan, empat dari lima anggota Polri gugur dalam kerusuhan di Mako Brimob merupakan anggota Densus 88 Antiteror.

Empat anggota Densus 88 yang gugur yakni:

  1. Iptu Luar Biasa Anumerta Yudi Rospuji Siswanto,
  2. Brigpol Luar Biasa Anumerta Fandy Setyo Nugroho,
  3. Briptu Luar Biasa Anumerta Sykron Fadhli, dan
  4. Briptu Luar Biasa Anumerta Wahyu Catur Pamungkas.
  5. Aipda Luar Biasa Anumerta Denny Setyadi, yang bertugas di Polda Metro Jaya.

Sebenarnya kerusuhan yang terjadi di Mako Brimob Kelapa Dua Depok ini bukanlah kerusuhan yang pertama kali terjadi. Namun, kerusuhan antara napi terorisme dengan petugas di Mako Brimob ini pernah terjadi pada 10 November 2017.

Kericuhan bermula saat petugas rutan menemukan empat unit telepon seluler milik tahanan kasus terorisme, namun tidak ada korban.

Pro dan kontra pun tidak bisa dihindari berkenaan dengan pemicu terjadinya kerusuhan tersebut.

Sebagaimana informasi yang beredar di media-media, bahwa penyebab kerusuhan berawal dari makanan. Hal ini disampaikan oleh pihak kepolisian, seperti  Karopenmas Polri Brigjen Muhammad Iqbal, Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto.

Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), Budi Gunawan mengutuk keras tindakan pembunuhan secara keji dan sadis terhadap 5 orang anggota Polri dan penganiayaan kepada 4 orang lainnya yang dilakukan oleh sejumlah narapidana (napi) teroris di Rutan Mako Brimob Polri.

Menurutnya, kerusuhan di Rutan Brimob secara teritorial adalah kerusuhan domestik dalam lingkup yang bisa dikendalikan dan tidak menimbulkan gangguan stabilitas keamanan nasional.

“Namun demikian, tindakan perlawanan narapidana dan tahanan tersangka terorisme tersebut mengirimkan pesan nyata bahwa terorisme adalah ancaman laten yang terus terjadi dan menuntut kerjasama semua pihak untuk menanganinya secara tegas dan tuntas,” kata BG, Kamis (10/5/2018).

Lain lagi dengan Fahri Hamzah, menurutnya, bahwa penyebab kerusuhan tersebut karena ada perlakuan tidak adil, dimana ada seorang mantan pejabat yang sudah berstatus narapidana namun tak mau dipindahkan ke Lembaga Permasyarakatan (LP).

“Mungkin ada perlakuan tidak adil. Ada peristiwa pejabat tak mau dipindah ke LP. Ada perasaan tidak adil, itu kadang-kadang memancing orang melakukan tindakan perlawanan,” ujar Fahri di kompleks parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (9/5/2018).

Namun yang paling menarik justru apa yang disampaikan oleh Jusuf Kalla. Menurutnya,  bahwa kerusuhan yang terjadi di Mako Brimob Kelapa Dua Depok itu bukan masalah terorisme.

Pertanyaan yang muncul adalah kenapa kerusuhan itu bisa terjadi dan bahkan memakan korban.

Ada ketidakterbukaan dari pihak aparat dalam kasus ini. Berita yang tersebar di media-media bahwa penyebab kerusuhan adalah berawal dari soal makanan.

Ketua Presidium Indonesia Police Watch, Neta S Pane menilai pihak kepolisian perlu menjelaskan secara transparan tentang apa sesungguhnya yang terjadi di Mako Brimob Kelapa Dua Depok.

“Kenapa situasi mencekam di Mako Brimob itu belum juga terkendali hingga 11 jam dan membuat aktivitas masyarakat terganggu akibat jalanan diblokir,” kata Neta lewat keterangan tertulis, Rabu (9/5).

Neta menjelaskan,  Indonesia Police Watch (IPW) mencatat, kekacauan di Rutan Mako Brimob sebenarnya sudah terjadi sejak pukul 15.00 Selasa sore dan hingga pukul 10.00 Rabu pagi jalanan di sekitar Mako masih diblokir.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh Fahri Hamzah. Dia mengatakan bahwa kejadian yang telah memakan korban jiwa ini harus ada kejelasan dan keterbukaan, karena itu tidak mungkin terjadi kalau tidak ada kesalahan.

status Fahri Hamzah : //twitter.com/Fahrihamzah/status/994405724301115397?s=19

Berikutnya menurut Fahri, “Penegak hukum itu tidak hanya harus adil, tapi harus nampak adil”.

Dia menilai bahwa di Mako Brimob ada masalah Sebelumnya. Di antaranya adalah perlakuan istimewa kepada Ahok. Ternyata kata POLRI justru penyebabnya lebih sepele, yaitu soal makanan.

Status Fahri Hamzah : //twitter.com/Fahrihamzah/status/994396102945193985?s=19

Kesimpulannya adalah Polri harus bersikap transparan dalam menangani kasus ini. Dan juga harus adil dalam menyelesaikan masalah jangan sampai tebang pilih.

(jp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: