Sketsa News
Home Analisis Ketika Slogan Komunis Kian Terseok di China

Ketika Slogan Komunis Kian Terseok di China

wangfujing. ©2018 Merdeka.com/Ramadhian Fadillah

Sketsanews.com – Seandainya Karl Marx dan Mao Zedong bangkit dari kubur dia bisa mati berdiri melihat China hari ini.

Bapak kaum komunis itu menciptakan ideologi yang bertujuan menggulingkan kaum kapitalis. Memeratakan ekonomi untuk seluruh rakyat dan tak mengakui kepemilikan pribadi. Tapi di China hari ini, ekonomi kapitalis justru berjaya.

Pertumbuhan pesat ekonomi China milenium ini membuat Presiden Xi Jinping mengatakan Negeri Tirai Bambu siap ‘mengambil alih panggung dunia’.

Sejak berdiri pada 1949 hanya ada satu partai berkuasa di China, yakni Partai Komunis. Namun dengan kondisi sekarang masihkah China layak disebut negara komunis?

Terinspirasi dari Karl Marx dan Vladimir Lenin, Mao Zedong mendirikan dan menjadi pemimpin Partai Komunis China pada 1949 sekaligus Republik Rakyat China sebagai negara pengusung sosialis garis keras.

Dikutip dari laman Business Insider, Mao bercita-cita mencapai masyarakat sosial yang sama rata sama rasa dalam hal kesejahteraan. Untuk mencapai itu dia membuat lahan pertanian, pabrik-pabrik dan bisnis lainnya di bawah kepemilikan pemerintah.

Antara 1959 hingga 1961 produksi pertanian dan industri merosot. Kelaparan merajalela hingga menyebabkan jutaan warga meregang nyawa. Jatuhnya sektor swasta membuat negara kian kesulitan.

Reformasi ekonomi pada 1978 di bawah kepemimpinan Deng Xiaoping, membuat China mulai bangkit. Deng Xiaoping adalah seorang veteran Partai Komunis yang tak keberatan mengadopsi metode kapitalis untuk membangun pertumbuhan ekonomi. Sejumlah kebijakannya membuat sektor swasta kembali dibolehkan berperan dan menjalankan bisnis mereka sendiri. Dia juga menciptakan empat zona ekonomi khusus di sepanjang pesisir China guna menarik investor asing.

Berkat reformasi Deng, China beralih dari negara yang tadinya menolak kapitalisme menjadi negara yang mendukung hak kepemilikan tanah dan pasar bebas.

Profesor sekaligus penulis dan pengamat ekonomi asal Amerika, Ann Lee mengatakan Deng Xiaoping terinspirasi oleh Singapura, sosialisme Prancis dan kekuatan serta kekayaan Amerika.

Lee berpendapat China bukan lagi sosialis komunis tapi lebih kapitalis ketimbang beberapa negara Barat.

“Menurut saya dalam banyak hal China lebih kapitalis ketimbang negara Barat yang mengaku sebagai kapitalis seperti Amerika. Masalahnya tidak ada negara yang murni kapitalis, bahkan Amerika pun campuran dari peran swasta dan publik,” kata dia, seperti dilansir laman Independent.

Hari ini ekonomi China adalah yang terbesar kedua di dunia dan diyakini akan menyalip Amerika Serikat sebagai negara ekonomi terkuat abad ini. Namun tak ada lagi slogan sama rata sama rasa yang dulu diagungkan para petinggi Partai Komunis zaman Mao.

Prada, Chanel, Rolex, Gucci, Estee Lauder, puluhan brand internasional lain kini tersedia lengkap di Wangfujing, salah satu distrik belanja di Beijing. Tak kalah megah dengan Orchard Road di Singapore.

Mobil mewah Eropa dikendarai para eksekutif muda lalu lalang di Ibukota China itu. Jika mampu naik Porsche dan Audi, untuk apa naik sepeda seperti rakyat kebanyakan?

Di belakang deretan mal megah dan gedung-gedung tinggi perkantoran itu bendera merah bintang kuning Republik Rakyat China berkibar. Cuma itu pengingat negara China masih menganut komunisme. Sisanya nyaris tak ada.

Entah apa kata Mao kalau melihat anak muda China sekarang doyan nongkrong di Starbucks, menghirup kopi puluhan Yuan sambil main ponsel Samsung. Tak ada lagi dogma sama rasa sama rata ajaran komunis.

Sumber : Pandasurya Wijaya, Ramadhian Fadillah

(Ad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: