Kisah Eks Agen Intelijen Korut yang Meledakkan Pesawat Korsel

Kim Hyun-Hui dalam foto tahun 2009 (REUTERS/Kim Kyung-Hoon)

Sketsanews.com, Seoul – Kim Hyun-Hui yang merupakan mantan agen intelijen Korea Utara (Korut), tidak terlihat seperti seorang pembunuh masal. Padahal wanita berusia 51 tahun ini, bertanggung jawab atas pengeboman pesawat Korean Air tahun 1987 yang menewaskan 115 orang.

Seperti dilaporkan BBC dalam artikelnya beberapa waktu lalu, seperti dikutip detikcom, Selasa (21/2/2017), Hyun-hui kini tinggal di suatu lokasi yang dirahasiakan di Korea Selatan (Korsel). Saat bertemu dengan wartawan BBC, Rupert Wingfield-Hayes, dia didampingi sejumlah pengawal berseragam. Hyun-Hui mengaku dirinya khawatir rezim Korut masih mengejarnya dan berniat membunuhnya.

Hyun-Hui memang pernah menjadi agen intelijen Korut. Sekitar 25 tahun lalu, atas perintah rezim Korut, dia meledakkan sebuah pesawat Korean Air yang terbang dari Baghdad, Irak ke Seoul, Korsel. Sedikitnya 115 penumpang dan awak, yang sebagian besar warga Korsel, tewas dalam ledakan itu.

Dia dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan Korsel tahun 1989. Namun kemudian Presiden Korsel Roe Tae-Woo memberikan grasi kepadanya pada tahun 1990-an. Alasan pemberian grasi karena Hyun-Hui dianggap sebagai korban pencucian otak oleh rezim Korut.

Setelah bebas, Hyun-Hui menikahi seorang agen intelijen Korsel dan memiliki dua anak. Meski kini menjalani kehidupan normal dan damai, Hyun-Hui mengaku dirinya masih merasa sangat bersalah atas tindakannya di masa lalu.

Menceritakan kisahnya, Hyun-Hui menyebut dirinya direkrut dari kampus elite, Pyongyang University, saat dirinya kuliah jurusan Bahasa Jepang. Dia dilatih menjadi agen intelijen Korut selama 6 tahun. Selama 3 tahun masa pelatihan, dia dipasangkan dengan seorang wanita muda Jepang bernama Yaeko Taguchi, yang diculik dari Jepang. Hyun-Hui menyebut Taguchi banyak mengajarinya berbicara dan berperilaku seperti wanita Jepang.

Dalam misi tahun 1987, Hyun-Hui diperintahkan meledakkan sebuah pesawat maskapai Korsel. Saat itu, Korsel bersiap menjadi tuan rumah Olimpiade. Perintah ini diakuinya diberikan langsung oleh pemimpin Korut saat itu Kim Il-Sung ataupun putranya, Kim Jong-Il.

“Saya diberitahu oleh agen senior bahwa sebelum Olimpiade Seoul, kami akan menjatuhkan sebuah pesawat Korsel. Dia bilang hal ini akan menciptakan kekacauan dan kebingungan di Korsel. Misi ini akan menjadi pukulan telak untuk revolusi,” tuturnya.

Hyun-Hui dan seorang agen laki-laki menempuh rute penerbangan jauh dan berliku dari Korut ke Eropa untuk menyamarkan jejak. Mereka bepergian sebagai turis. Hingga akhirnya keduanya naik pesawat Korean Air nomor penerbangan 858 rute Baghdad-Seoul. Hyun-Hui meletakkan tas koper berisi bom di bagasi atas pesawat. Saat transit di Abu Dhabi, Uni Emirat Arab, keduanya turun dari pesawat dan melarikan diri.

Beberapa jam kemudian, saat pesawat mengudara di atas Laut Andaman, bom itu meledak. Keseluruhan 115 penumpang dan awak tewas dalam insiden itu.

Hyun-Hui dan rekannya yang seharusnya melarikan diri ke Yordania, terpaksa terbang ke Bahrain karena ada masalah dengan visa mereka. Di Bahrain, jejak keduanya terlacak. Hyun-Hui dan rekannya lalu berusaha menghabisi nyawa mereka menggunakan rokok yang dicampur sianida. Rekannya tewas, namun Hyun-Hui tidak. Dia kemudian tertangkap dan diterbangkan ke Seoul, Korsel untuk diadili.

Kepada BBC, Hyun-Hui menyebut sosok mendiang pemimpin Korut Kim Il-Sung dan putranya Kim Jong-Il dipuja seperti dewa. Semua yang diperintahkan mereka, dibenarkan oleh warga Korut. “Semua perintah dilakukan dengan loyalitas ekstrem. Anda siap mengorbankan nyawa Anda,” sebutnya.

“Tidak ada negara lain seperti Korea Utara. Orang-orang di luar tidak bisa memahami. Seluruh bangsa dibentuk untuk menunjukkan loyalitas pada keluarga Kim. Seperti agama. Orang-orang terdoktrin. Tidak ada HAM, tidak ada kebebasan. Ketika saya melihat ke belakang, saya merasa sedih. Mengapa saya harus dilahirkan di Korea Utara. Lihat apa yang telah dilakukannya terhadap saya,” ucapnya. Dikutip dari Detik.com.
(ip)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: