Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Citizen-Jurnalism, Headlines, News Kisah Karamnya Kapal Titanic Dan Metafora Pemimpin Pekok

Kisah Karamnya Kapal Titanic Dan Metafora Pemimpin Pekok

Haris Rusly Moti: Pemimpin Rentan Berkhianat

Sketsanews.com, Jakarta – KISAH tentang tenggelamnya kapal Titanic dapat dikatakan sebagai sebuah miniatur karamnya sebuah peradaban bangsa.

Kisah Titanic dapat juga dikatakan sebagai metafora tentang kapten kapal atau pemimpin pekok yang mengabaikan early warning system (sistem peringatan dini).

Orang yang pekok itu pasti pokoke, ngeyel dan bebal. Biasanya tak bisa diberitahu. Mengidap sindrom “sok tau” yang sangat akut. Gejala orang pekok itu tampak ceroboh, sombong dan meremehkan keadaan beresiko tinggi yang sedang dihadapi.

Jika manusia pekok seperti itu menjadi pemimpin negara atau kapten kapal, maka resikonya kapal atau negara tersebut dapat bernasib naas. Akibat kecerobohannya, kapal yang dinakhodainya bisa karam dan tenggelam. Demikian juga negara yang dipimpinnya bisa menuai perang saudara akibat keputusan atau kebijakan yang dibuatnya.

Karena itu tak salah jika Mbah Suparni (80-an tahun) dari Kulonprogo menyampaikan petuah agar tidak menjadi pekok atau pokoke. Petuah Mbah Parni itu kemudian pernah viral di media sosial tahun 2017. “Wong urip neng alam donya niki janji mboten pekok, pikiran digawe encer, senajan ra duwe ya bisa nyandhang, bisa madhang, bisa netepi kelumrahan. Ning nek wong pekok kancane setan. Nek mboten pekok setan ra doyan”.

Artinya “Orang hidup di dunia ini asal tidak tolol atau ngeyel, pikiran tetap encer. Meskipun tidak punya, ya tetap bisa berpakaian, bisa makan, bisa mengikuti “kelumrahan” hidup. Namun kalau tolol atau ngeyel akan menjadi teman setan. Kalau tidak tolol atau ngeyel, setan tak berani mendekat”.

Tentang gambaran pemimpin pekok itu dapat dilihat dari sosok Destarata di dalam kisah Mahabarata. Destarata adalah maha raja Wangsa Kuru yang menjadi orang tuanya para kurawa, Duryodhono, dkk. Destarata yang digambarkan matanya buta sebetulnya adalah sebuah metafora saja tentang pemimpin pekok, ngeyel atau pokoke.

Destarata adalah seorang pemimpin kerajaan yang “tuna akal” dan “buta budi”. Destarata tak pernah mau mendengar masukan dan kritik yang disampaika oleh Widura. Padahal Widura adalah adik-nya sendiri yang diangkat menjadi penasihat kerajaan. Destarata yang pekok juga tidak peduli dengan nasihat yang disampaikan oleh kakeknya sendiri, Bhisma.

Destarata yang pekok itu bahkan membiarkan anak-anak nya, Duryodhono dan adik-nya menelanjangi Drupadi di depan umum. Ke-pekok-an Destarata itulah yang menjadi salah satu penyebab meledaknya perang saudara antara pangeran dari kurawa melawan pangeran pandawa.

Pekok-nya Kapten Titanic
Kembai kepada kisah tenggelamnya kapal Titanic yang diangkat ke dalam film layar lebar di akhir tahun 1990 an. Film Titanic itu terinspirasi kisah nyata tenggelamnya kapal pesiar mewah asal Britania di Samudera Atlantik Utara pada pelayaran perdananya. Agar menarik ditonton, kisah itu kemudian dibumbui dengan drama percintaan antara dua sosok anak muda yang berbeda kelas sosial.

Kapten kapal Titanic digambarkan di dalam film tersebut sebagai sosok yang pekok atau pokoke. Sebagai contohnya, seluruh informasi tentang perkiraan keadaan dan perkiraan cuaca yang akan menghadang kapal itu dianggap angin lalu saja oleh Kapten kapal Titanic, Edward J. Smith. Kecanggihan, ketangguhan dan kemewahan dari Titanic telah membuatnya ‘buta’, tidak waspada.

Sebagaimana lazimnya, perkiraan terhadap keadaan cuaca sepanjang jalur yang akan dilalui terlebih dahulu disampaikan kepada sang kapten kapal. Sebetulnya, early warning system (sistem peringatan dini) dengan seluruh kelengkapannya masih berfungsi maksimal menditeksi datangnya berbagai bentuk ancaman, hambatan dan tantangan.

Namun, dengan sikap sombong, takabur dan pekok, kapten kapal itu mengabaikan peringatan dini untuk mewaspadai cuaca ekstrem dan ancaman gunung es yang menghadang dalam jalur yang akan dilalui oleh Titanic. Joseph Bruce Ismay, direktur perusahaan White Star Line, Titanic, juga seirama dengan sang Kapten, tidak mempedulikan perkiraan cuaca ektrem dan peringatan dini tentang gunung es yang menghadang tersebut.

Sang direktur perusahaan itu malah memerintahkan Kapten Edward untuk semakin mempercepat laju kapal, meskipun pada saat itu malam hari. Para penumpang kapal yang sedang berpesta tak mengetahui keadaan bahaya yang sedang mengancam kehidupan mereka akibat ke-pekok-an si kapten kapal.

Hari naas itu akhirnya tiba juga sebagai tamu yang diundang secara tidak langsung oleh setiap orang yang sombong, “pekok” atau ngeyel, bebal dan takabur. Ke-pekok-an dan kesombongan itu telah mengundang datangnya musibah.

Tepat di malam 15 April 1912, ketika dua orang pengawas kapal berhasil melihat dengan mata telanjang mereka dalam gelapnya malam. Kapten kapal tersadar, kesombongannya runtuh, ketika diberitahu oleh anak buah kapal (ABK) yang melihat gunung es besar persis menghadang di depan jalur yang akan dilewati oleh Titanic.

Kendati First Officer William Murdoch mengambilalih komando dan memerintahkan agar kapal dibelokkan dan mesin dimundurkan. Namun, semua upaya itu sia-sia belaka, terlambat. Titanic tidak dapat lagi diselamatkan.

Sisi kanan dari Titanic menubruk keras gunung es, hingga menciptakan serangkaian lubang di bawah garis air. Lima kompartemen kedap air kapal bocor. Titanic akhirnya karam seketika, lalu tenggelam secara perlahan. Para penumpang yang sedang berpesta akhirnya menuai nasib naas akibat dipimpin oleh kapten kapal yang pekok.

Tumpulnya Ke-peka-an
Sosok Destarata yang pekok. Demikian juga kapten kapal Titanic yang pokoke. Keduanya menggambarkan pemimpin pekok yang tidak peka terhadap situasi krisis. Pemimpin yang tidak peka otomatis akan menjadi penyebab yang mendatangkan musibah untuk bangsa dan rakyatnya.

Jika kita cermati keadaan bangsa kita saat ini, maka dapat disimpulkan, Pertama, sebagian besar manusia Indonesia telah kehilangan kepekaan terhadap situasi, tak ada sense of crisis. Semuanya larut dalam pesta politik jangka pendek, Pilkada, Pileg dan Pilpres. Sebagian besar merasa bahwa segalanya berjalan baik-baik saja. Padahal, mereka sedang dalam bahaya, dimana keadaan sedang tidak hanya penting, tetapi juga genting.

Kedua, para pemimpin negara dan pimpinan partai politik, persis seperti Destarata yang matanya buta. Sebagian besar tak melihat adanya situasi bahaya di depan mata mereka. Mereka tak peduli lagi dengan peringatan yang disampaikan oleh berbagai kalangan tentang ancaman krisis di depan mata. Bahkan setiap kritik yang disampaikan secara jernih dianggap sebagai upaya menyudutkan dan mendiskreditkan pemerintah yang sedang berkuasa.

Baik presiden, parlemen, para penyelengara negara dan pimpinan Parpol, tidak punya lagi kepekaan terhadap krisis (sense of crisis) yang melanda bangsa kita. Presidennya terjebak di dalam ke-pekok-an dan kekonyolannya. Sementara pihak parlemen dan Parpol oposisi juga telah terjebak di dalam irama oposisi reality show, sibuk dengan show dan melupakan tugas pokok dan fungsi parlemen. Semua langkah politik tersebut semata ditujukan untuk men-top up elektabilitas dari capres, parpol maupun caleg.

Ketiga, early warning system (sistem peringatan dini) sudah tidak lagi berfungsi melakukan pengindraan terhadap situasi yang akan dihadapi. Jika sistem negara telah rusak, maka sistem peringatan dininya otomatis tidak akan bekerja untuk menyampaikan warning adanya situasi bahaya yang menghadang.

Fungsi intelijen negara dapat dianggap telah lumpuh dan berganti menjadi intelijennya penguasa untuk mempertahankan estabilitas. Padahal salah satu fungsi intelijen negara berkaitan dengan pengindraan terhadap situasi ekonomi, politik, keamanan dan pertahanan yang akan mengancam perjalanan bangsa, atau yang dikenal dengan sistem peringatan dini. Dengan tidak berjalannya fungsi intelijen negara menyebabkan pembuat kebijakan tidak lagi memiliki kewaspadaan dini terhadap situasi bahaya yang mangancam keselamatan rakyat dan bangsa.

Jika sistem negaranya persis seperti kapal yang telah jadi rongsokan. Jika pemimpin negaranya juga pekok dan pokoke. Jika anggota parlemennya berubah peran jadi artis reality show (persis seperti Uya Kuya). Lalu ditambah lagi dengan fungsi intelijen negara yang kapasitas pengindraannya berjarak sangat pendek, paling maksimal hanya bisa menebak situasi di satu bulan ke depan. Maka dapat disimpulkan nasib bangsa kita dapat saja mengikuti nasibnya wangsa kuru yang dilanda perang saudara (Mahabarata), atau dapat juga bernasib seperti kapal Titanic yang karam lalu tenggelam ke dasar lautan.

Jika tak mampu bersatu untuk mengganti kapten kapal yang pekok dan pokoke. Maka demi keselamatan bersama, masing masing kita segera menyiapkan pelampung atau sekoci, untuk mengantisipasi jika kapal yang kita tumpangi saat ini dikejutkan oleh badai dan karam lalu tenggelam.

Penulis adalah aktivis Petisi 28 dan Kepala Pusat Pengkajian Nusantara Pasifik (PPNP).

(Ro/Rmol)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: