Sketsa News
Home Berita, Headlines, Hukum, News Komix Obat Batuk Sebagai Pengganti Narkoba

Komix Obat Batuk Sebagai Pengganti Narkoba

Anak Muda Karimun Pesta Obat Batuk Komix Hingga Tak Sadarkan Diri

Sketsanews.com, Ambon – Balai Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) Ambon melakukan pengawasan penjualan obat batuk Komix di apotik, toko obat, dan pedagang besar farmasi di Provinsi Maluku. Pasalnya, obat batuk itu banyak disalahfungsikan sebagai pengganti narkoba.

Menurut dia, penyalahgunaan obat batuk Komix marak digunakan para pemuda di Negeri Tulehu dan Tehoru dengan mencampurkan obat pada minuman bersoda. “Sebenarnya sifat obat batuk Komix tidak sampai pada ketergantungan tetapi jika dikonsumsi dalam jumlah yang banyak dapat menyebabkan seperti efek fly,” ujarnya.

Sandra mengakui, pihaknya telah mengeluarkan surat edaran terkait pembatasan penyimpanan dan penjualan obat batuk cair tersebut. “Kami telah mengirimkan surat edaran ke seluruh apotik dan toko obat untuk membatasi penjualan Komix yang dibatasi untuk satu pembeli hanya sembilan sachet dan tidak boleh lebih, dengan asumsi 1 hari 3 kali konsumsi dan minimal tiga hari penggunaan,” katanya.

Polda Malut: Pemda Harus Buat Perda Batasan Penjualan ‘Komix’

Pihaknya juga berupaya memotong mata rantai dengan membatasi distribusi yakni apotik, toko obat dan pedagang besar farmasi diminta untuk membuat laporan penjualan Komix setiap bulan. “Langkah ini kami sudah buat agar tidak ada celah untuk membeli obat tersebut menggunakan orang lain, karena itu kita telah meminta mereka untuk membuat laporan setiap bulan, dalam rangka memotong rantai suplay,” kata Sandra.

Pihaknya juga akan meningkatkan Komunikasi, Informasi dan Edukasi (KIE ) berupa dampak dari obat jenis komix yang dapat menyebabkan efek ketergantungan dan ternganggunya sistem saraf apabila dikonsumsi dengan berlebihan. “Namanya penyalahgunaan obat, pastinya akan menyebabkan ternganggunya sistem saraf sehingga berbahaya sekali apabila dikonsumsi secara berlebihan, kita berupaya memberikan pemehaman agar anak muda dapat memahami dengan baik,” ucapnya.

Ia menambahkan, BPOM bekerjas ama dengan Dinkes, kepolisian dan BNN untuk bersama-sama mengawasi untuk memutus mata rantai. “Kita berupaya agar tidak terjadi di kabupaten lain di Maluku, karena itu kita membutuhkan dukungan dari berbagai pihak untuk menekan penyalahgunaan obat-obatan,” ujar Sandra, seperti dikutip dari Republika.  (Ro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: