Ksatria Airlangga, RS Terapung yang Memenuhi Janji di Pulau Terluar

Sketsanews.com – Di hari ketika Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga singgah, orang-orang berhenti melaut. Memeriksakan mata, membawa istrinya yang akan melahirkan, sembari tak lupa mencari genset. Wartawan Jawa Pos FERLYNDA PUTRI mengikuti perjalanan kapal ke kepulauan jauh nun di pelosok Sulawesi Selatan.

KALIMAT kuncinya cuma, ”Siapa yang dua tahun lalu dirujuk ke Makassar?” Dan, dengan segera jawaban didapat.

Hanya sayangnya, sosok pria yang dicari Direktur Rumah Sakit Terapung Ksatria Airlangga (RSTKA) dr Agus Harianto SpB itu telah berpulang.

”Kami sedih tak bisa menemui bapak itu. Tapi, setidaknya kami telah memenuhi janji untuk singgah,” kata Agus.

Kamis dua pekan lalu (24/10) itu Ksatria Airlangga akhirnya memang singgah di Kecamatan Liukang Tangaya, Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan. Kapal milik Yayasan Ksatria Medika Airlangga (YKMA) yang bermarkas di Surabaya, Jawa Timur, tersebut melanjutkan misi ke-40 setelah meninggalkan Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, empat hari sebelumnya.

Sudah dua tahun belakangan RSTKA mengarungi lautan. Mengabdi untuk memberikan layanan kepada masyarakat di pulau-pulau nan jauh.

Dan, dua tahun lalu pula, saat singgah di Makassar, si bapak yang dicari Agus itu menemui Mudassir, sang kapten kapal. Dia bertanya, kapan Ksatria Airlangga mampir ke Liukang Tangaya?

Layanan medis di kawasan seterpencil Liukang Tangaya memang sebuah kemewahan. Apalagi, RSTKA datang dengan membawa dokter umum, dokter spesialis, dokter gigi, perawat, serta apoteker. Para tenaga medis itu tak cuma datang dari Surabaya. Ada pula yang berasal dari Malang, Bandung, Jakarta, Padang, dan Makassar.

Berpraktik di kawasan seterpencil Liukang Tangaya, tentu saja segala sesuatunya harus diperhitungkan dengan detail. Ketika dokter Trianggono Bagus Aryanto akan melakukan pemeriksaan USG (ultrasonografi) kepada ibu hamil, misalnya, yang dicari pertama adalah genset. ”Kalau pemeriksaannya tidak menggunakan USG, nanti sama saja dengan pemeriksaan bidan,” tuturnya.

Listrik di Pulau Matalaang, salah satu pulau di Liukang Tangaya, hanya menyala saat malam. Para bapak yang semula antre untuk periksa di depan Puskesmas Pembantu (Pustu) Matalaang pun berbondong-bondong mencari genset.

Genset pertama dibawa ke pustu. Beberapa kali tuas ditarik dan gagal. Hampir menyerah, datang genset kedua. Hanya satu–dua tarikan, alhamdulillah nyala.

Operasi pun harus dilakukan di kapal. Peralatan tak bisa dibawa ke darat karena air surut. Ksatria Airlangga jadi tak bisa menepi. Harus buang jangkar agak jauh dari dermaga.

Angin bertiup agak kencang hari itu. Ombak mengayun-ayunkan kapal. Bagi yang tak biasa, satu jam saja di atas kapal sudah mabuk laut. Kamis siang itu dokter Ganesa Wardana dan dokter Zulfikri Halim mendapat banyak pasien mata. Beberapa orang dijadwalkan untuk operasi pengambilan selaput pada mata. Ada juga yang harus menjalani operasi katarak.

Mereka berdua pun melakukan tugas itu di ruang operasi atas. Khusus operasi minor. Satu jam berlalu dan baik-baik saja. Satu pasien terlewati.

Namun, pada operasi selanjutnya, perut mual tak tertahankan. ”Perlu hati-hati juga karena kapal ada goyangan,” ucap Zulfikri saat bertemu dengan Jawa Pos di dapur kapal.

Dia hendak mengisi perut. Agar tak kosong. Konon, ketika perut kenyang, risiko mabuk laut berkurang.

Kali terakhir ada dokter spesialis ke Liukang Tangaya sudah 15 tahun lalu. Jadi, bisa dibayangkan antusiasme warga ketika RSTKA merapat.

Mereka memilih tidak melaut hari itu. ”Warga sudah menyiapkan perahu untuk bisa berobat ke kapal,” tutur Kapolsek Liukang Tangaya Supriyadi.

Makassar adalah kota terbesar terdekat bagi warga Pangkajene dan Kepulauan yang membutuhkan tindakan medis tertentu. Dan, untuk bisa sampai di ibu kota Sulawesi Selatan itu, dibutuhkan 12 jam pelayaran.

Sawanti, warga Desa Matalaang, pernah merasakan bagaimana dirinya dan suami harus bertarung dengan ombak ke Makassar setelah mengalami keguguran. Janin usia lima bulan harus lahir. Sayangnya, ari-ari sulit keluar. Katanya, lengket.

Pustu setempat tak bisa membantu. Untuk kasus seperti itu, jika terjadi di perkotaan pun, pasien harus dirujuk. Sayang, hari itu sedang musim ombak besar. Setiap Agustus, warga sering menyebutnya musim sulit. Musim angin menyebabkan ombak tinggi.

Jika nekat menyeberang, taruhannya nyawa. Namun, Sawanti harus tetap dirujuk ke sana. Persoalannya, Basri, suami Suwanti, tidak kunjung bisa menemukan juragan kapal yang mau meminjamkan kapal hari itu. Sedangkan kapal perintis belum bisa bersandar di Pulau Matalaang.

Dua hari Sawanti harus menahan sakit. Ari-arinya belum keluar. ”Saya pinjam perahu saudara. Saya nekat ke Makassar dengan ditemani keponakan yang baru lulus sekolah kebidanan,” tutur Basri dengan dialek Makassar-nya.

Ombak masih tinggi. Basri menjadi juru kemudi. Di sampingnya, Sawanti tidur menahan sakit. Menurut keterangan saudaranya, tali ari-ari atau plasenta sudah berada di lubang vagina.

Agar tak kembali masuk, tali ari-ari diikat. Maut terasa begitu dekat. ”Ada darah. Dekat Makassar, ari-ari itu masuk,” kenang Basri.

Sayang, kapal tak bisa melaju lebih cepat. Untung, nasib baik masih berpihak. Tim dokter di Makassar berhasil membantu istrinya mengeluarkan ari-ari.

Darmawan tak seberuntung Sawanti. Perempuan yang kerap disapa Darma tersebut harus kehilangan suaminya, Sahrirudin, yang mengalami stroke. Sang suami yang merupakan mantan mantri di Pulau Sailus itu meninggal di atas kapal perintis yang menuju Makassar.

”Seandainya cepat, mungkin suami saya tertolong,” kenang Darma dengan mata berkaca-kaca.

Untuk menangani peliknya permasalahan kesehatan di wilayahnya, Pemerintah Kabupaten Pangkep sebenarnya sudah mengambil berbagai langkah. Di antaranya, menyediakan kapal untuk rujukan, meski sarana pendukungnya minim dan biaya pengoperasian cukup tinggi.

”APBD kami tidak banyak. Harapannya, ada perhatian dari pusat,” tutur Kepala Dinas Kesehatan Pangkep dr Indriaty Latief.

Dengan belasan ribu pulau, Indonesia punya banyak sekali Liukang Tangaya: kawasan terpencil atau terluar yang jauh dari jangkauan layanan medis memadai. Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto menegaskan, pihaknya berkomitmen memenuhi suplai pelayanan kesehatan bersama dengan pemerintah daerah. Sarana dan fasilitas kesehatan dipenuhi. Begitu juga tenaga kesehatan. Menurut dia, hal itu sesuai dengan visi dan misi Presiden Joko Widodo.

Kementerian Kesehatan juga berupaya menyediakan alat kesehatan dan obat yang terjangkau. Salah satu upayanya adalah mengoptimalkan produksi dalam negeri. Sejauh ini, Indonesia telah bisa membuat tempat tidur hingga stent jantung.

”Kalau perlu, ada aturan BPJS Kesehatan atau perhimpunan tenaga kesehatan agar membujuk untuk menggunakan alat kesehatan dalam negeri,” tutur dia.

Namun, mewujudkan semua itu tentu butuh waktu. Sementara itu, gangguan kesehatan kerap kali tak bisa menunggu. Dibutuhkan penanganan segera.

Dan, beruntunglah Nurleni pada Kamis malam dua pekan lalu itu. Dia tak harus berjam-jam terombang-ambing di laut menuju Makassar untuk menjalani operasi sesar.

SEHAT: Nurleni melihat bayi lelaki yang dilahirkannya sekitar pukul 22.00 pada 24 Oktober lalu. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

Perempuan 31 tahun itu cukup melakukannya di atas RSTKA. Yang tengah singgah ke Pangkep. Untuk memenuhi janji, untuk berbagi.

Sekitar pukul 22.00, tangis bayi lelaki itu terdengar. Anak kelima pasangan Tamsil-Nurleni lahir dengan selamat di atas kapal yang terus digoyang ombak.

DI ATAS KAPAL YANG BERGOYANG: Nurleni bersiap menjalani operasi sesar di RSTKA di Pulau Sapuka, Kecamatan Liukang Tangaya, Kabupaten Pangkep, Sulawesi Selatan. (Salman Toyibi/Jawa Pos)

 

Es Teh Manis yang Asin

DI dalam kamar mandi itu, semua harus benar-benar hafal warna paralon. Kalau tidak, gawat. Persediaan air tawar berkurang saat tengah mengarungi lautan.

Jadi, untuk mandi, yang dinyalakan keran dengan paralon warna putih. Itu tandanya air tawar.

Sedangkan untuk menyiram kotoran, gunakan keran dengan paralon biru yang dialiri air laut.

Adakah yang pernah salah menekan keran? Atau lupa warna paralon? Entahlah. Yang pasti beririt-irit dengan air itu tak cuma berlaku saat berada di atas kapal Ksatria Airlanggga. Tapi, juga setelah singgah di Kabupaten Pangkajene dan Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.

Di Pulau Sapuka, salah satu pulau di Pangkep, hampir semua sumur payau. Terasa ketika sikat gigi. Asin. Saya sempat memesan es teh manis. Eh, ternyata tetap ada asinnya.

Selain irit dengan air, harus berhitung dengan listrik. Kami harus menjadwal untuk mengisi baterai telepon seluler. Meski tak ada sinyal internet dan hanya satu operator telepon yang bisa masuk, kami tak bisa lepas dari gawai.

Tapi, melihat antusiasme warga, semua pengorbanan itu terbayar lunas. Di Pulau Sailus, pulau lainnya di Pangkep, sambutan terlihat sejak kapal akan merapat.

Satu kapal dengan bendera warna-warni menyambut Ksatria Airlangga. Dalam kapal itu, empat orang lelaki menabuh gamelan. Meriah. ”Harusnya tiap provinsi yang memiliki pulau wajib memiliki rumah sakit terapung,” tutur Direktur RSTKA dr Agus Harianto.

Kapal menjadi langkah strategis untuk mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat kepulauan. Dengan begitu, penanganan bisa segera dilakukan. Tak perlu menunggu untuk dirujuk. ”Ini kewajiban pemerintah,” imbuhnya,

Saran Agus itu sepertinya sejalan dengan keinginan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto. Saat rapat dengan Komisi IX DPR pada Selasa lalu (5/11), Terawan sempat menyebut ingin membangun fasilitas kesehatan tanpa dinding. Artinya, bisa bergerak ke mana saja. ”Yang terpenting adalah semua masyarakat terlayani,” ungkapnya.

Kegembiraan warga Pangkep menyambut kedatangan RSTKA adalah bukti betapa rencana Terawan tersebut harus segera diwujudkan. Bahkan, belum juga sauh diangkat, sudah ada yang bertanya kapan Ksatria Airlangga datang lagi.

”Setiap tahun sekali ada kegiatan (seperti ini), masyarakat sudah bersyukur,” ucap Kapolsek Liukang Tangaya Supriyadi.

Setelah sepuluh hari berlabuh dan memberikan layanan medis, Ksatria Airlangga akhirnya meninggalkan Pangkep pada Kamis pekan lalu (31/10). Bergerak menuju Labuan Bajo, Nusa Tenggara Timur, mengantarkan para penggawanya kembali.

Di perjalanan, kawanan lumba-lumba bermain di sekitar kapal. Mereka berenang mengiringi bahtera yang melaju.

Sesekali melompat. Semacam pengingat ada keindahan di tengah laut sana. Juga, mungkin pengingat di tengah laut sana ada orang-orang yang masih butuh obat.

▶ Sumber : Jawapos ◀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: