Kurangi Pencemaran, Mahasiswa Unair Olah Limbah B3 ‘Iron Slag’ Menjadi Batu Bata

Mahasiswa FST UNAIR dari Tim PKM-PE menunjukkan tiga varian batu bata dari limbah B3 yang dihasilkan,Kamis (21/6/2018).
Mahasiswa FST UNAIR dari Tim PKM-PE menunjukkan tiga varian batu bata dari limbah B3 yang dihasilkan,Kamis (21/6/2018).
Mahasiswa FST UNAIR dari Tim PKM-PE menunjukkan tiga varian batu bata dari limbah B3 yang dihasilkan,Kamis (21/6/2018).

Sketsanews.com, Surabaya – Di Indonesia, permasalahan pencemaran lingkungan seolah tak ada habisnya, terutama masalah pencemaran limbah beracun dan berbahaya (B3).

Mahasiswa prodi Teknik Lingkungan, Fakultas Sains dan Teknologi (FST) Universitas Airlangga mengatasi pencemaran limbah B3 itu dengan konsep green technology menjadikan limbah B3 sebagai bahan baku batu bata tanpa pembakaran.

Mereka yaitu Sri Eka Dewi F Sukarelawati, Vindi E Fatikasari, dan Wildani Mahmudah yang menjadikan penelitian B3 ini mampu didanai Kemenristekdikti dalam Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) 2018 untuk bidang penelitian eksakta (PKMPE).

Sri Eka, Ketua Tim mengungkapkan melalui berbagai pengujian, batu bata dari limbah B3 ini memiliki kualitas standar, murah, praktis, dan ramah lingkungan.

Penelitian mereka yang berjudul “Potensi Limbah B3 Iron Slag Sebagai Bahan Baku Batu Bata dengan Konsep Green Technology” ini dilakukan usai melihat aksi long march warga Desa Lakardowo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto.

“Aksi ini menyuarakan dugaan pencemaran limbah B3 oleh sebuah perusahaan pengolah limbah B3 yang dilapokan kepada Gubernur Jawa Timur,” jelasnya usai libur lebaran di kampus, Kamis (21/6/2018), seperti dimuat laman surya.co.id.

Limbah B3, lanjutnya, merupakan zat sisa suatu usaha atau kegiatan yang karena sifat, konsentrasi, dan jumlahnya, baik langsung dan tidak langsung dapat mencemarkan dan merusak lingkungan hidup.

“Jika tidak dilakukan pengolahan, limbah B3 dapat mengubah kualitas lingkungan,”jelasnya.

Teknologi dalam penelitian Sri Eka dan teman-temannya ini adalah stabilisasi-solidifikasi, untuk mengurangi dan menghilangkan karakteristik limbah B3 agar tidak berbahaya.

“Salah satu caranya ya diolah menjadi batu bata yang pembuatannya tidak melalui pembakaran. Sebab pembakaran batu bata menggunakan kayu bakar atau batu bara juga menimbulkan masalah lingkungan tersendiri, yaitu polusi udara akibat timbulnya gas karbondioksida yang tidak ramah lingkungan,” paparnya.

Selain polusi udara, pembuatan batu bata tanpa pembakaran dapat mengurangi biaya pembuatannya, tidak berketergantungan dengan cuaca namun menghasilkan produk dengan kualitas standar, murah, praktis dan ramah lingkungan.

Dengan konsep green technology tanpa pembakaran, dalam pembuatan batu bara dilakukan penambahan kapur, semen, dan soil hardener powder.

Bahan tambahan itu berfungsi untuk pemadatan bata dan mempercepat waktu pengeringan.

Vindi menambahkan, penelitian ini merupakan inovasi dari beberapa penelitian sebelumnya yang mengolah limbah B3 iron slag menjadi batako.

Selain itu mengolah B3 iron slag menjadi batu bata merah karena pembuatannya lebih mudah dari pada jenis bata lainnya.

Selain iron slag juga terdapat bahan sludge kertas sebagai perekat dalam pembuatan batu bata ini.

”Kami sudah melakukan pengujian kualitas atas hasil batu bata ini dengan serangkaian pengujian,”paparnya.

Berdasarkan eksperimen dalam penelitian ini ditemukan tiga variasi terbaik dengan nilai kandungan logam berat Zn yang berbahaya.

Setelah proses stabilisasi-solidifikasi ditemukan nilainya dibawah baku mutu berdasarkan ketetapan peraturan yang berlaku.

”Jadi hal ini membuktikan hasil penelitian PKM-PE kami ini aman untuk dimanfaatkan secara internal oleh pihak penghasil limbah dan pihak pengolah limbah sebagai solusi pengurangan timbunan limbah di landfill,” pungkasnya. (wal/surya.co.id)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: