Sketsa News
Home Analisis, Berita, Berita Terkini, News Lagi…Orang Gila Aniaya Ulama

Lagi…Orang Gila Aniaya Ulama

Ustad Abdurrahman ketika menceritakan kronologis penusukan yang menimpanya usai Salat Subuh tadi (11/3) di Masjid Darul Muttaqien, Pengasinan, Kota Depok. (Ist/Jawapos.com)

Sketsanews.com, Jakarta – Sekian waktu reda, kasus penganiayaan terhadap Ustadz oleh orang yang diduga mengidap gangguan jiwa kembali terjadi. Kali ini, seorang Ustadz asal Depok, Jawa Barat pada Minggu (11/03/2018) ditusuk di dalam Masjid Darul Mustaqin.

Ustadz abdurrohman (53) yang tinggal di Perumahan Bumi Sawangan Indah, RT 5, RW 6, Sawangan Lama, Kecamatan Sawangan, Depok, Jawa Barat menjadi korban penusukan oleh salah seorang jama’ah wanita, saat baru mulai takbir untuk sholat subuh berjama’ah. Beruntung ia mampu menghindar, sehingga tusukan yang diarahkan ke leher hanya mengenai pipi kanannya.

Pelaku penusukan adalah Silviana Mardiana alias Vivi (30), wanita yang tinggal di Blok B Perumahan Bumi Sawangan Indah (BSI), Depok. Belakangan diketahui, pelaku sedang mengalami gangguan jiwa.

Pihak keluarga pun membenarkan, sebagaimana diungkapkan oleh Lola Indriani (kakak ketiga Vivi), “Lebih tepatnya stress sih, tapi nggak selalu, dia juga bisa normal, kalau lagi kumat ya begitu.” Vivi adalah anak bungsu dari lima bersaudara.

Sebelum kejadian penusukan tersebut, ternyata Vivi pernah 2 kali mendatangi rumah Ustadz Abdurrahman. Pertama, hari sabtu (10/03) pukul 23.30 WIB. Kedua, hari Minggu (11/03) pukul 00.30 WIB.

Menurut pengakuan dari Ustadz Abdurrahman, pelaku Vivi dalam kesehariannya belum pernah sekalipun lewat di depan rumahnya. Ia menyangka ada yang sengaja mengantar hingga tahu letak rumahnya.

“Memang waktu malam dia ke sini. Ada motor yang mengantar dia (pelaku) sampai ke depan rumah saya. Tapi, saya tidak tahu pasti itu siapa. Bisa saja ada orang yang memanfaatkan dia karena orang itu tahu kalau dia gila,” ujar Ustadz Abdurrahman. (Republika.co.id/ Minggu, 11 Maret 2018).

Kejadian penusukan terhadap ustadz Abdurrahman ini menyisakan beberapa kejanggalan, diantaranya:

1. Dua kali pelaku mendatangi rumah korban, padahal sebelumnya belum pernah tahu lokasi dan belum pernah lewat di depan rumah korban.
2. Ada yang mengantarkan pelaku ke rumah ustadz Abdurrahman dengan mengendarai sepeda motor.
3. Pelaku datang ke masjid awal waktu, sudah ada beberapa jama’ah yang hadir, namun tidak diserang.
4. Pisau disembunyikan, sehingga jama’ah wanita lainnya tidak ada yang tahu.
5. Saat korban datang sebagai jama’ah yang terakhir kali masuk masjid, aksi penusukan dilakukan.
6. Tepatnya timing/waktu penusukan. Yaitu: saat takbir untuk memulai sholat subuh.
7. Pemilihan titik penusukan adalah area yang mematikan, yakni leher.
8. Target sasaran adalah 3 ustadz di sekitar kompleks tersebut. Ternyata, sebelum kejadian, pelaku juga pernah menanyakan 3 nama Ustadz. Yakni, Ustadz Riza Muhammad, Ustadz Ghufron maftuhin, dan Ustad abdurrahman, sebagaimana penuturan Bobi (warga Sawangan Lama).

Walaupun pihak keluarga sudah menyatakan kalau Vivi mengalami Stres, namun pengusutan mendalam terhadap kasus penusukan tersebut, hendaknya tetap dilakukan. Kemungkinan adanya aktor lain yang memanfaatkan kondisi psikologi Vivi yang labil untuk melakukan kejahatan, mengingat kejadian tersebut seperti sudah terencana, bukannya spontan.

Mungkinkah orang yang stress atau gila bisa dimanfaatkan untuk tujuan kejahatan ? kita simak pernyataan dari 2 tokoh yang berbeda latar belakang berikut ini:

a. Menurut Ketua Perhimpunan Dokter Jiwa Indonesia, Danardi Sosrosumihardjo, dengan keilmuan medis, seseorang yang sudah di pastikan hilang ingatan, tak kan dapat diprogram atau diminta untuk melakukan sebuah kejahatan yang terencana.
”Orang yang sudah terganggu kejiwaannya, kemungkinan kecil dapat diprogram. Saya tegaskan kembali, orang hilang ingatan tidak dapat diprogram”.

b. Menurut Pengamat Intelijen “tiga zaman” Soeripto, orang gila yang akan dioperasikan, dipelajari dulu dimana sisi emosinya tersentuh. Kapan orang-orang gila ini mudah terpancing, dan bertindak agresif dan kapan dia menjadi tenang.
“Operasi penyerangan seperti ini bisa menggunakan orang gila. Mereka bukan didoktrin, seperti orang waras, tapi mereka direkayasa suasana jiwanya, disentuh sisi emosinya,” ungkapnya.

 

(Fya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: