Lebih dari 45 Ribu TKI di Perkebunan Malaysia Tidak Terima Pelayanan Kependudukan Keluarga Berencana

Sketsanews.com – Pontianak –  Lebih dari 45.000 Tenaga Kerja Indonesia (TKI) yang bekerja di perkebunan Malaysia selama ini tidak mendapat pelayanan Kependudukan Keluarga Berencana dan  Pembangunan Keluarga (KKBPK), sehingga dapat dikatakan terlantar.

https://i0.wp.com/sketsanews.com/wp-content/uploads/2020/01/berita_770902_800x600_Kepala_BKKBN_Pusat_Respek_Masalah_KKBPK_Para_TKI_di_Perkebunan_Sawit_Malaysia1578969922.jpg?resize=422%2C316&ssl=1

Penjelasan tersebut dipaparkan Ketua Ikatan Penulis Keluarga Berencana (IPKB) Kalimantan Barat Teguh Imam Wibowo dan Anggota IPKB Slamet Ardiansyah di Kantor BKKBN Jakarta, Senin (13/1/2020).

IPKB mendesak Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) RI untuk melakukan intervensi langsung bagi para TKI tersebut.

Bahkan para TKI yang bekerja di perkebunan sawit di Malaysia rata-rata memiliki empat anak serta tidak ditunjang dengan pendidikan dan kesehatan yang layak.

Sementara itu, Kepala BKKBN RI Harso Wardoyo menginstruksikan Kepala Perwakilan BKKBN Kalbar Kusmana untuk menindaklanjuti persoalan tersebut melalui Konjen RI di Kuching Sarawak Malaysia.

“Ini instruksi dan eksekusi. Kalau ini kita eksekusi penggerakannya kita utamakan untuk perbatasan. Kemudian penggerakannya sifatnya menjemput bola calon akseptor yang datang. Jadi perumahan-perumahan, mungkin karyawan-karyawan di BKKBN Kalimantan Barat bisa ke sana dulu, mendata siapa yang mau dilayani. Suatu saat penyuluh-penyuluh kami akan datang ke sana. Tidak usah hitung-hitung dari mana asalnya yang penting itu orang Indonesia,”  harap Harso Wardoyo.

Kepala BKKBN Pusat juga menyatakan bahwa langkah ini sekaligus menjadi keputusan sikap BKKBN di hadapan Kaper BKKBN Kalbar dan Bidang Hukum BKKBN Pusat Komare yang memutuskan melakukan audiensi dengan IPKB Pusat. Selain membahas persoalan perbatasan, Hasto juga menjelaskan soal rebranding baru logo BKKBN, termasuk menyinggung tentang  persoalan penanganan KKBPK dengan fokus anak-anak milenial.

“Untuk rebranding ini jika kita tidak bertemu dengan IPKB akan repot, karena minimal orang menulis pasti membaca, jikapun tidak membaca literasi setidaknya peduli membaca situasi, dan filosofinya adalah dirimu adalah yang kau baca.”

Sumber : rri.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: