Logam ‘Bunglon’ Ini Bereaksi Saat Bertemu Panas

Sketsanews.com – Iowa – Layaknya bunglon yang bisa mengubah warna kulitnya sebagai respons terhadap lingkungannya, para ahli telah menemukan cara agar logam cair – dan berpotensi menjadi logam padat – bisa mengubah-ubah struktur permukaannya sebagai respons terhadap panas.

https://i0.wp.com/sketsanews.com/wp-content/uploads/2020/01/berita_770879_800x600_221330_web1578969557.jpg?resize=422%2C477&ssl=1

Melalui perlakuan tertentu pada partikel campuran logam cair dengan panas dapat menyebabkan partikel tersebut mengeraskan permukaannya yang berisi bola-bola kecil atau kawat nano, seperti yang diungkap para ahli Universitas Negeri Iowa dalam jurnal Angewandte Chemie.

Dikutip dari Eureka Alert, Senin (13/1/2020), Martin Thuo, asisten profesor dan sains bahan Universitas Negeri Iowa, yang merupakan salah satu pendiri perusahaan perintis Ames SAFI-Tech Inc. dan peneliti utama studi ini, mengatakan dengan mengontrol panas para ahli dapat mengendalikan pola permukaannya.

“Ini bisa menginspirasi desain sistem campuran ‘pintar’ yang bisa mengembangkan pola permukaan dan komposisinya dengan suhu (atau rangsangan analog) pada aplikasi mulai dari penginderaan hingga katalisis,” kata Thuo dan tim penelitinya dalam makalah mereka.

Tim peneliti memulai dengan campuran logam cair dari gallium, indium, dan timah yang disintesis menjadi partikel yang ditutupi dengan kulit oksida halus yang telah distabilkan secara kimia. Saat partikel dipanaskan, permukaan menebal dan menegang dan mulai berperilaku layaknya benda padat.

Kemudian permukaan pecah, memungkinkan logam cair di dalam muncul ke permukaan. Logam yang paling reaktif, galium, menerobos pertama. Lebih banyak panas akan membawa indium ke permukaan. Dan panas tertinggi – sekitar 1.600 derajat Fahrenheit – mengeluarkan bunga-bunga timah.

Pergerakan dari lapisan bawah ke permukaan ini memungkinkan partikel logam cair untuk “terus-menerus membalikkan komposisinya di bawah rangsangan termal,” tulis para peneliti.

“Partikel-partikel tersebut menanggapi tingkat panas tertentu dan melepaskan unsur tertentu berdasarkan suhu, seperti halnya bunglon merespons warna lingkungannya,” kata Thuo. “Itu sebabnya kita mengatakan itu adalah logam bunglon – tetapi menanggapi panas, bukan warna seperti reptil.”

Kiarie mengatakan partikel logam tersebut merespons lingkungan yang sangat dikontrol – waktu, suhu, dan kadar oksigen dikendalikan dengan cermat oleh para peneliti.

Hal tersebut memungkinkan para peneliti memprediksi dan memprogram tekstur permukaan partikel yang tepat.

Sumber : rri.co.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: