Sketsa News
Home Berita Terkini, Editorial, Headlines Lucunya Negeri Ini, “Surplus Beras Malah Impor Beras” Ada Apa Gerangan?

Lucunya Negeri Ini, “Surplus Beras Malah Impor Beras” Ada Apa Gerangan?

DPR meminta pemerintah memperbaiki data pangan dan operasi pasar untuk mengantisipasi gejolak harga beras. Foto/SINDOnews

Sketsanews.com, Jakarta – Indonesia termasuk negara agraria yang mampu memproduksi beras dalam jumlah besar. Namun hampir setiap tahun, impor beras tetap dilakukan untuk kebutuhan stok pangan dan memasok sebagian daerah yang kekurangan.

Lantas apa yang menjadikan landasan pemerintah mengambil kebijakan untuk mengimpor beras setiap tahunnya. Konsumsi beras Indonesia lebih tinggi dibanding kemampuan memproduksi beras. Menurut Enggar, impor tersebut dilakukan untuk menjamin stok beras. Dia mengakui, terjadi kelangkaan beras medium di pasar sehingga harganya terus tinggi sejak November 2017.

“Harganya tinggi sejak akhir tahun, tapi sempat turun sedikit. Saat awal tahun, harganya terus meningkat,” ujarnya.

Dia mengatakan, pemerintah sudah melakukan operasi pasar sejak November. Meskipun demikian, operasi pasar tersebut tidak secara masif melainkan hanya di daerah-daerah yang rawan. “Namun ternyata tidak berdampak pada penurunan harga,” katanya.

Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu negara importir beras yang cukup besar di Asia Tenggara. Padahal menurut catatan Kementerian Pertanian, jumlah konsumsi beras nasional mengalami penurunan pada 2015 dibanding posisi 2013. Sehingga baru kemudian di tahun 2015, jumlah konsumsi beras Indonesia mengalami penurunan dan pada saat yang sama produksi beras meningkat. Alhasil, neraca beras mencatat surplus.

Sebagai buktinya adalah di wilayah Magelang salah satu kabupaten di Jawa Tengah ini setiap tahun mengalami surplus rata-rata 80 ribu hingga 100 ribu ton beras. Angka tersebut bahkan meningkat setelah adanya program Upaya Khusus Padi Jagung Kedelai (Upsus Pajale) yang meningkatkan surplus hingga 147.413 ribu ton pada 2017.

Makanya Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kabupaten Magelang Wijayanti menolak dengan tegas adanya impor beras. Kemudian dia pun menambahkan bahwa pada Januari ini, Kabupaten Magelang panen pada lahan seluas 3.652 hektare dengan produktivitas rata-rata 6,3 ton per hektare. Hasil diperkirakan mencapai 21.380 ton Gabah Kering Giling (GKG) setara 13.512 ton beras. Kebutuhan beras di Kabupaten Magelang sendiri adalah 11.583 ton per bulan.

Pertanyaan yang muncul adalah benarkah Indonesia mengalami surplus beras namun kenapa harga beras melambung tinggi sehingga harus impor dari negara lain, ataukah adanya permainan politik tingkat tinggi menjelang pesta demokrasi Pilpres 2019 mendatang.

Kondisi ini yang membuat bingung masyarakat, selain itu juga menjadi sorotan para netizen dalam mensikapi kondisi ini baik menyangkut impor beras, harga beras yang semakin merangkak naik dan kinerja pemerintah.

Muhammad Said Didu lewat akun twitternya mengekspresikan kebingungannya dengan sikap pemerintah, dia mengatakan, “Saya masih bingung dg Harga beras naik. Di Sawah tentara sdh diturunkan, di pasar ada polisi, di media Mentan terus ada foto panen, di BPS selalu surplus. Ini pasti ada yg salah”

Dia pun menambahkan bahwa apa yg salah di beras ? Karena : 1) tentara sudah ada di sawah, 2) ada HET, 3) polisi ada di pasar, 4) Mentan (katanya) terus panen, 5) BPS (katanya) surplus, tapi 6) Bulog susah spt gabah, 7) pedagang sulit spt barang, dan 8) fakta harga beras naik.

Zara Zettira ZR mengatakan bahwa Ciri ciri KEBOHONGAN itu adalah data dari berbagai pihak nggak sinkron! Faktanya harga beras naik terus makin tak terjangkau, petani miskin terus, Karena Panen Raya, Surplus dan Impor. Sinkron ngga itu?

Perlahan tapi pasti, semenjak awal Januari 2018, harga beras di beberapa daerah di Indonesia mulai merangkak naik melewati batas Harga Eceran Tertinggi (HET) yang sudah ditetapkan oleh Pemerintah, yakni 9.450/kg untuk jenis Medium dan 12.800/kg beras Premium. #HargaBerasNaik.

Kenapa ini bisa terjadi kenaikan harga beras disaat para petani memanen hasilnya. Bagaimana mungkin dalam waktu yang singkat harga merangkak naik. Jelas ini permainan harga pasar dalam rangka mengalihkan perhatian masyarakat yang hari ini diributkan berbagai isu yang berkembang seperti polemik penenggelaman kapal, perpanjangan kontrak karya PT. Freeport dan isu mahar politik.

Kesimpulannya adalah kenaikan harga beras dan kebijakan impor beras merupakan tindakan yang tidak bijaksana dan tidak memihak kepada para petani. Karena dengan banyaknya pasokan beras secara otomatis akan menurunkan harga produksi beras milik petani. Kondisi seperti ini yang akan membuat para petani semakin terpuruk dan sengsara.

Solusinya adalah pemerintah harus lebih memperhatikan kepentingan masyarakat khususnya para petani dengan jalan memberi modal usaha kemudian membeli hasilnya dengan harga yang layak. Tapi kalau pemerintah terus mengimpor beras berarti tidak memberikan kesempatan kepada para petani untuk meningkatkan mutu hasil produksinya dan justru menjadikan mereka semakin terpuruk.

(jp)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: