Mahasiswa UB Ciptakan Aplikasi Pengendali Smartphone

(Foto: Imam Muchlis/Sketsanews.com)

(Foto: Imam Muchlis/Sketsanews.com)

Sketsanews.com, Malang – Tingginya tingakat pengguna smartphone di kalangan anak-anak tak jarang membuat anak menjadi kecanduan. Lebih dari pada itu hal ini menjadi beban tersendiri bagi orang tua dalam mengatasi kecanduan tersebut.

Berawal dari permasalahan itu, enam mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) dari berbahai fakultas mulai memikirkan dan mengembangkan Aplikasi ‘Adem’ untuk mengatasi penyakit kecanduan gadget sebagai revitalisasi generasi Z berbasis mobile.

Mereka adalah Kirana Aisyah Larasati (Fakultas Mipa), Sayyidati Nurmuthi’ah (Fakultas Pertanian), serta Hilmi Aziz Bukhori, Rahmah Nur Diana Filkom, Yusuf Gladiensyah Bihanda Filkom, dan Achmadika Avisina dari Fakultas Ilmu Komputer.

Sayyidati Nurmuthi’ah menjelaskan, bahwa aplikasi Adem merupakan sebuah aplikasi untuk mengatasi gadget adict yang mana saat ini kebanyakan masyarakat memiliki smartphone yang digunakan untuk bermedia sosial maupun bermain game.

“Dari permasalahan itu, kami menghadirkan aplikasi Adem untuk memberikan solusi agar anak-anak tidak lagi kecanduan smartphone dan tetap fokus belajar atau melaksanakan ibadah tepat waktu,” katanya, Rabu (17/7)
Kirana Aisyah Larasati, sebagai pemilik ide mengungkapkan, bahwa ide membuat aplikasi Adem sebenarnya sudah terpikir sejak masih Sekolah Menengah Atas (SMA), namun baru terealisasi saat kuliah.

“Idenya sudah ada sejak SMA karena permasalahannya juga saya rasakan saat SMA dulu,” ucapnya.

Dalam aplikasi itu terdapat! berapa fitur unggulan, diantaranya fitur Salat Lock yang berfungsi untuk mengunci atau me-lock screen Smarthone secara otomatis ketika tiba waktu salat.

“Jadi dengan fitur salat lock, maka gadget tidak bisa digunakan selama kurang lebih 15 menit karena hp dalam kondisi ter-lock. Setelah melewati 15 menit kemudian baru bisa digunakan lagi,” kata Kirana.

Ada juga Fitur Challenge yang berfungsi untuk mendorong pengguna agar konsisten dalam beribadah bersama orang lain. Adem challenge terbagi menjadi dua, yaitu day challenge dan night challenge.

“Challenge ini dilengkapi dengan progres setiap challenge,” imbuhnya.

Selain itu juga ada fitur Hijriatun Notif sebagai pengingat hari-hari Islam serta fitur Messanging app untuk pengiriman pesan aplikasi dengan fragmen yang berbeda antara pesan pribadi dengan pesan grup dan fitur Timeline (website).

“Tujuan dibuatnya aplikasi ini adalah untuk dapat mengembangkan aplikasi mobile yang dapat mendisiplinkan waktu ibadah yang tertunda karena kecanduan gadget,” terang mahasiswa daei Fakuktas MIPA.

Lebih lanjut Kirana mengaku, bahwa ia tengah melakukan kerja sama dengan beberapa sekolah SD di kota Malang untuk menerapkan aplikasi Adem.

“Aplikasi Adem ini juga akan diikutlombakan pada ajang MTQ Perguruan Tinggi tingkat Nasional untuk cabang Desain Aplikasi Alquran,” pungkas Kirana. (Lis)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: