Sketsa News
 
Home Berita Terkini, Headlines, News Menakar Pendapatan hingga Gaji Bos Freeport Indonesia

Menakar Pendapatan hingga Gaji Bos Freeport Indonesia

Sketsanews.com, Jakarta – Pemerintah akhirnya mencapai kata kesepakatan dengan Freeport McMoran untuk mengakuisisi 51% saham PT (PTFI). Kesepakatan ini tercapai setelah melalui beberapa kali diskusi yang alot.

Sebagai perusahaan besar berskala internasional, perusahaan yang bermarkas di Amerika Serikat ini seakan sulit ditaklukkan.

Pendapatan perusahaan yang mengelola tambang raksasa di Mimika, Papua tentunya juga sangat besar. Begitu juga dengan gaji bos-bosnya.

PTFI memang merupakan perusahaan yang besar. Bayangkan saja cadangan terbukti dan terkira di lapangan PTFI adalah sebesar 38,8 miliar pound tembaga, 33,9 juta ounce emas, dan 153,1 juta ounce perak. Jumlah tersebut sudah mencakup cadangan di wilayah tambah Kucing Liar yang belum dikembangkan.

Apabila dihitung menggunakan harga rata-rata jangka panjang sebesar US$2/pound untuk tembaga, US$1.000/ounce untuk emas, dan US$15/ounce untuk perak, secara kasar lapangan PTFI masih menyimpan kekayaan senilai US$113,8 miliar, atau setara Rp1.593,2 triliun.

Berdasarkan laporan laba rugi perusahaan, PTFI mampu membukukan pendapatan sebesar US$ 4,44 miliar, atau sekitar Rp 62,16 triliun pada tahun 2017. Jumlah itu mampu meningkat 34,95% dari pendapatan tahun 2016 yang sebesar US$3,29 miliar (Rp 46,06 triliun).

Sebagai perusahaan tambang yang besar tentu gaji dari karyawannya juga besar. Apalagi jajaran direksinya.

Mengutip laporan keuangan perusahaan, total gaji dan benefit direksi PTFI mencapai US$ 2,9 juta. Selain itu direksi PTFI juga mendapatkan insentif dan bonus sebesar US$ 1,9 juta.

Sehingga total pemasukan yang diterima seluruh direksi PTFI mencapai US$ 4,9 juta atau setara Rp 68,7 miliar (kurs Rp 14.000) per tahun. Jika dihitung per bulannya mencapai Rp 5,7 miliar.

PTFI sendiri memiliki 8 orang direksi. Jika dihitung secara rata-rata maka 1 orang direksi PTFI per bulannya mendapatkan pemasukan sekitar Rp 715 juta.

Gaji yang diterima jajaran direksi PTFI juga bertumbuh. Sebab pada 2016 total pengeluaran untuk gaji, insentif hingga bonus direksi PTFI mencapai US$ 3,78 juta atau setara Rp 52,9 miliar.

PT Inalum bersama dengan Freeport McMoran telah menandatangani Head of Agreement (HoA). Perjanjian itu dalam rangka pembelian saham PT Freeport Indonesia (PTFI), sehingga kepemilikan RI di perusahaan tersebut mencapai 51%.

Kesepakatan itu sepertinya menjadi sentimen negatif bagi pergerakan saham Freeport-McMoRan Inc (FCX.N) yang tercatat di New York Stock Exchange.

Melansir Reuters, saham FCX.N pada perdagangan Kamis 12 Juli ditutup anjlok 7,68% dari penutupan perdagangan sebelumnya US$ 5.114 menjadi US$ 4.721.

Sekedar informasi untuk mengakuisisi 51% saham PTFI Inalum akan mengeluarkan dana sekitar US$ 3,85 miliar atau setara Rp 53,9 triliun (kurs Rp 14.000).

Namun dari dana tersebut sebesar US$ 3,5 miliar akan diberikan kepada Rio Tinto untuk membeli 40% hak partisipasinya (participating interest/PI). Sedangkan Freeport McMoran hanya mendapatkan US$ 350 juta.

Setelah kesepakatan itu ditanda tangani kemarin sore, hari ini saham-saham anak usaha PT Inalum yang tergabung dalam holding BUMN tambang seluruhnya menguat.

Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) pada Jumat pagi dibuka naik 2,32% dari penutupan sebelumnya Rp 860 menjadi Rp 880. Di akhir perdagangan saham ANTM tercatat menguat 5,81% ke Rp 910.

Sementara saham PT Timah Tbk (TINS) kemarin dibuka naik 1,22% menjadi Rp 830. Saham TINS juga ditutup menguat 3,66% ke Rp 850

Saham PT Bukit Asam Tbk (PTBA) kemarin juga dibuka menguat 1,65% dari harga penutupan kemarin Rp 4.230 menjadi Rp 4.300. Namun saham PTBA berbalik ke zona merah dan akhirnya ditutup melemah 1,42% ke Rp 4.170.

Sekedar informasi, penandatanganan HoA tersebut, maka proses akuisisi 51% saham Freeport Indonesia resmi dimulai. Ditargetkan prosesnya rampung pada akhir Juli 2018, meskipun batas maksimal penyelesaiannya 60 hari sejak HoA diteken.

Dibutuhkan pula dana sebesar US$ 3,85 miliar atau Rp 53,9 triliun (kurs Rp 14.000) untuk menjadi pemegang saham mayoritas di perusahaan tambang asal Amerika Serikat (AS) tersebut.

Pemerintah pun tidak merasa keberatan, lantaran sudah ada 11 perbankan nasional baik dalam negeri maupun swasta nasional yang akan memberikan pinjaman sebagai modal Inalum mengakuisisi 51% saham Freeport Indonesia.

(bin / Detikfinance)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: