Menilik Karir Moncer Tito Karnavian di Kepolisian Hingga Dipercaya Jokowi Duduk di Kabinet

Menilik Karir Moncer Tito Karnavian di Kepolisian Hingga Dipercaya Jokowi Duduk di Kabinet
WARTA KOTA/henry lopulalan KAPOLRI DATANG KE ISTANA KEPRESIDENAN–Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian (no2 kiri) bersama rombongan berjalan memasuki Kompleks Istana Kepresidenan di Jakarta, Senin (21/10/2019). Kapolri datang menghadap Presiden Joko Widodo untuk melaporkan situasi kamtibmas terkini dan upaya pengamanan ke depannya

Sketsanews.comJAKARTA – Jenderal Polisi Tito Karnavian akan menempati jabatan menteri dalam Kabinet Kerja Jilid II.

Tito Karnavian sebelumnya sudah memenuhi undangan Presiden Joko Widodo (Jokowi), Senin (21/10/2019) di Istana Negara.

Selain itu, Tito Karnavian pun sudah mengajukan pengunduran diri dari jabatan Kapolri.

Surat pengunduran Tito Karnavian sebagai orang nomor satu di Kepolisian telah diterima DPR, Selasa (22/10/2019).

Tidak hanya surat pengunduran diri, pada hari yang sama DPR juga menerima surat pemberhentian Tito sebagai Kapolri dari Presiden.

“Tadi siang baru saja kami Ketua DPR dan pimpinan dewan menerima pertama surat DPR terkait pemberhentian Tito Karnavian selaku Kapolri dan anggota Polri,” kata Puan usai paripurna.

Dalam surat tersebut, Tito diberhentikan karena akan mengemban tugas lain di pemerintahan.

Tito yang pada Senin kemarin dipanggil ke Istana, diberhentikan karena seorang Kapolri atau menteri tidak boleh rangkap jabatan.

Dalam surat pemberhentian itu, presiden juga menuliskan pengganti Tito Karnavian.

Kapolri nantinya akan dijabat sementara oleh Wakapolri Komisaris Jenderal Ari Dono Sukmanto.

“Sampai ditentukan lagi siapa pengganti Kapolri,” katanya.

Puan mengatakan telah bertemu dengan Kapolri Jenderal Tito Karnavian, sebelum rapat Paripurna.

Dalam pertemuan itu, Tito mengaku diminta Jokowi bertugas di tempat lain.

“Tadi saya menerima Kapolri dan beliau menyampaikan diberikan amanah baru di pemerintahan namun apa kita lihat saja besok, kan besok pelantikan,” katanya.

Sosok Tito Karnavian

Tito Karnavian dikenal sebagai anggota Polri yang jenius.

Sejak duduk di bangku sekolah, Jenderal Tito Karnavian sudah menunjukan keunggulan akademisnya.

Saat di SMP dan SMA ia telah menjadi bintang kelas.

Ranking satu dan dua jadi langganan bagi Perwira Tinggi Polri ini.

Berkat kepandaianya itu, mengantarkan Tito menembus empat perguruan tinggi ternama yakni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwjaya, Hubungan Internasional Universitas Gajah Mada, dan Sekolan Tinggi Akuntansi Negara (STAN) Jakarta.

Namun, ia lebih memilih Akabri bagian Akademi Kepolisian tahun 1987.

Sama seperti saat duduk di bangku sekolah, Tito meraih Adhi Makayasa sebagai lulusan terbaik Akpol 1987.

Untuk mengisi wawasan akademisnya, kemudian dia melanjutkan pendidikan di Universitas Exter di Inggris di tahun 1993 dengan gelar MA bidang Kepolisian.

Lalu tahun 1996 ia memperoleh gelar Strata 1 di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) dengan predikat Bintang Wiyata Cendikia alias lulusan terbaik PTIK.

Begitupun saat dirinya menempuh pendidikan di Lemhanas pada tahun 2011 juga mendapat predikat lulusan terbaik.

Lengkap sisi intelektual Jenderal asal PalembangSumatera Selatan ini, ia meraih gelar Profesor dalam bidang terorisme dan dikukuhkan sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Kepolisian Studi Strategis Kajian Kontra Terorisme di STIK-PTIK pada tahun 2017.

Karir moncer Tito tak lepas dari torehan prestasinya saat menjadi Perwira Kepolisian dalam mengungkap kasus-kasus besar.

Pada tahun 2000 hingga 2002 saat ia menjabat Kasat Serse Polda Metro Jaya berhasil mengungkap kasus bom di Kedubes Filiphina (2000), bom Bursa Efek Jakarta (2001), bom malam natal (2001), dan bom di Plaza Atrium Senen.

Hingga puncaknya saat Tito masih berpangkat Kompol memimpin tim kecil bernama Cobra yang berhasil menangkap otak pelaku pembunuhan hakim Syafiuddin Kartasasmita.

Ketika itu, Kapolri Jenderal Surojo Bimantoro menaikan pangkat Tito satu tingkat menjadi AKBP.

Dengan pangkat AKBP ia kemudian menjabat Kasat Serse Keamanan Negara (Kamneg) di Polda Metro Jaya.

Pengungkapan besar seperti bom digedung DPR MPR (2003), bom di Bandara Soekarno Hatta (2003), bom JW Marriot (2003), kasus pembunuhan Direktur PT Asaba oleh kelompok Gunawan Santosa, bom di Cimanggis Depok (2004), bom di Kedubes Australia (2004) bom Bali II (2005) dan bom di pasar Tentena, Poso (2005) berhasil dia ungkap.

Puncaknya, saat bersama kompatriotnya Idham Aziz yang saat ini menjabat Kabareskrim berhasil melumpuhkan gembong teroris Azhari Husin alias Dr Azhari di Batu, Malang, Jawa Timur pada 9 November 2005.

Saat itu Tito kembali mendapatkan lagi Kenaikan Pangkat Luar Biasa (KPLB) menjadi Komisaris Besar (Kombes) dari Kapolri Jenderal Sutanto.

Pengakuan dunia internasional juga diraihnya ketika menjabat sebagai Kepala Sub Detasemen (Kasubden) Intelijen Densus 88 Antiteror Mabes Polri pada tahun 2006 hingga 2009).

Sebut saja, Terorism Course British High Commissioner di Singapura (2005); Maritime Security Conference and Course di Kuala Lumpur, Malaysia (2006); National Tactical Officers Association (NTOA) Conference and Course di Los Angles (2006); Short Course on Radicalisation by Australian Forgein Affairs and Trade, Sydney Australia (2010).

Dari banyak catatan, melejitnya karir Tito di Kepolisian sejalan dengan kemampuannya menggalang kerjasama tim untuk mengungkap berbagai kejahatan seperti kasus korupsi Bulogate, hingga kasus pengemboman dan tindak pidana terorisme mulai dari bom buku sampai bom di Kedubes Australia sampai membongkar jaringan terorisme di Poso dan separatis Papua.

Saat menjadi Kapolri, kebijakan mendasar Promoter (Profesional Modern dan Terpercaya) dilakukannya dan ini sangat berpengaruh di internal Kepolisian.

Tito paham betul bagaiamana meningkatkan kompetensi SDM Polri yang semakin berkualitas melalui kapasitas pendidikan dan pelatihan serta melakukan pemolisian berdasarkan prosedur baku yang sudah dipahami, dilaksanakan, dan dapat diukur keberhasilannya.

Mendorong Kepolisian modern dengan melakukan modernisasi dalam layanan publik yang didukung teknologi sehingga semakin mudah dan cepat diakses oleh masyarakat termasuk kebutuhan Alat Material Khusus (Almatsus) dan Alat Perlengkapan Keamanan (Alpakam) yang modern.

Terpercaya yakni dengan melakukan reformasi internal menuju polisi yang bersih dan bebas dari KKN demi terwujudnya penegakan hukum yang objektif, transparan, akuntabel dan berkeadilan.

▶ Sumber: TribunNews  ◀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: