Merapi Alami Guguran Awan Panas Tujuh Kali

Arsip Foto. Warga menyaksikan aktivitas guguran awan panas kecil Gunung Merapi di Balerante, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (26/2/2019). ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/hp.

Arsip Foto. Warga menyaksikan aktivitas guguran awan panas kecil Gunung Merapi di Balerante, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (26/2/2019). ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/hp.

Arsip Foto. Warga menyaksikan aktivitas guguran awan panas kecil Gunung Merapi di Balerante, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (26/2/2019). ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/hp.
Arsip Foto. Warga menyaksikan aktivitas guguran awan panas kecil Gunung Merapi di Balerante, Kemalang, Klaten, Jawa Tengah, Selasa (26/2/2019). ANTARA FOTO/Aloysius Jarot Nugroho/hp.

Sketsanews.com, Yogyakarta – Gunung Merapi di Yogyakarta pada Sabtu pagi tujuh kali meluncurkan awan panas guguran dengan jarak luncur maksimal dua kilometer, kata Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG).

Lewat akun Twitter resminya, BPPTKG menyatakan luncuran awan panas Merapi teramati terjadi pukul 04.51 WIB, 04.54 WIB, 05.03 WIB, 05.07 WIB, 05.10 WIB, 05.33 WIB dan 05.40 WIB.

Dilansir dari Antara, BPPTKG menyatakan, “Awan panas guguran dan guguran lava berpotensi menimbulkan hujan abu, untuk itu warga Merapi diharap tetap tenang dan melakukan aktivitas seperti biasa, serta selalu mengantisipasi gangguan akibat abu vulkanik.”

Menurut pengamatan BPPTKG dari pukul 00:00-06:00 WIB, aktivitas kegempaan berlangsung di gunung api. Gempa awan panas guguran tercatat terjadi tujuh kali dengan amplitudo ?52-69 mm selama 56-190 detik, gempa guguran terjadi 21 kali dengan amplitudo 3-46 mm dalam durasi 11-93 detik dan gempa hembusan 14 kali terjadi dengan amplitudo 2-6 mm selama 11-30 detik.

juga mendeteksi tiga gempa frekuensi rendah dengan amplitudo 3-4 mm selama 9-20 detik, dan gempa hybrid satu kali dengan amplitudo 5 mm selama tujuh detik, gempa vulkanik dangkal sekali dengan amplitudo 53 mm selama 13 detik, dan gempa tektonik jauh dengan amplitudo 7 mm, selama 60 detik.

Menurut analisis morfologi kubah lava Gunung Merapi yang terakhir dirilis BPPTKG, volume kubah lava gunung api itu mencapai 461.000 meter kubik dengan laju pertumbuhan 1.300 meter kubik per hari.

Kubah lava masih stabil dengan laju pertumbuhan masih rendah, rata-rata kurang dari 20.000 meter kubik per hari.

Hingga saat ini BPPTKG masih mempertahankan status Gunung Merapi pada Level II atau Waspada, dan untuk sementara tidak merekomendasikan kegiatan pendakian kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian yang berkaitan dengan mitigasi bencana.

BPPTKG mengimbau warga tidak melakukan aktivitas dalam radius tiga kilometer dari puncak Gunung Merapi.

Sehubungan dengan kejadian guguran awan panas guguran dengan jarak luncurnya semakin jauh, BPPTKG mengimbau warga yang tinggal di kawasan alur Kali Gendol meningkatkan kewaspadaan.

Warga di kawasan itu juga diminta mewaspadai bahaya lahar hujan, terutama saat terjadi hujan di sekitar puncak Gunung Merapi. (wal)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: