Militan Rohingya Bersumpah Akan Terus Perangi Pemerintah Myanmar

Gerilyawan Rohingya, ARSA, merilis video yang menampilkan pemimpinnya Ata Ullah. Foto/Istimewa

Gerilyawan Rohingya, ARSA, merilis video yang menampilkan pemimpinnya Ata Ullah. Foto/Istimewa

Sketsanews.com, Naypyidaw – Kelompok militan Rohingya, ARSA, mengklaim penyergapan terhadap sebuah kendaraan yang melukai tiga orang dimana dua diantaranya adalah tentara Myanmar. Mereka bersumpah akan terus memerangi pemerintah Myanmar.

Serangan oleh Arakan Rohingya Salvation Army (ARSA) tahun lalu memicu pembalasan militer yang mendorong sekitar 650 ribu orang Rohingya untuk melarikan diri ke Bangladesh.

Sekarang mengatakan bahwa berada di balik penyergapan sebuah truk militer di negara bagian Rakhine pada hari Jumat yang melukai tiga orang.

ARSA memposting sebuah pernyataan dari pemimpinnya, Ata Ullah, di Twitter yang mengkonfirmasikan keterlibatannya dalam penyergapan tersebut. Ia mengatakan pihaknya tidak memiliki pilihan lain pilihan lain selain memerangi terorisme yang disponsori oleh negara Myanmar terhadap penduduk Rohingya dengan tujuan membela, menyelamatkan dan melindungi komunitas Rohingya.

Mereka juga meminta orang-orang Rohingya untuk berunding mengenai kebutuhan kemanusiaan dan masa depan politik mereka, seperti dikutip dari BBC, dan SINDOnews, Senin (8/1/2017).

ARSA beroperasi di negara bagian Rakhine di utara Myanmar, di mana orang-orang Rohingya menghadapi penganiayaan. Kelompok tersebut, yang dipandang sebagai teroris oleh pemerintah Myanmar, mengatakan bahwa mereka memperjuangkan hak politik Rohingya.

Bentrokan meletus secara berkala antara kelompok etnis, namun pada tahun lalu, sebuah pemberontakan Rohingya bersenjata telah berkembang. ARSA hanya melakukan serangan sporadis, namun awal 25 Agustus tahun lalu, kelompok ini melancarkan serangan terhadap sekitar 30 pos polisi dan tentara memicu respons militer yang sengit.

Pada saat yang sama, pihak berwenang menuduh pejuang Arsa membunuh 28 penduduk desa Hindu yang mayatnya diduga ditemukan di sebuah kuburan massal.

Selain menyebabkan 650 ribu etnis Rohingya eksodus ke Bangladesh, sedikitnya 6.700 Rohingya tewas dalam bulan setelah kekerasan Agustus lalu, kata Médecins Sans Frontières.
(Ro)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: