Minum Paracetamol Saat Hamil Berisiko Anak Idap Gangguan Perilaku

Minum Paracetamol Saat Hamil Berisiko Anak Idap Gangguan Perilaku
Minum Paracetamol Saat Hamil Berisiko Anak Idap Gangguan Perilaku

Sketsanews.com, JAKARTA – Konsumsi obat saat hamil ternyata harus benar-benar diperhatikan para wanita. Salah konsumsi, tidak hanya berakibat fatal pada janin, tapi juga perkembangan sang bayi ketika dia sudah dilahirkan. Setidaknya, inilah yang terungkap dari sebuah kajian terbaru.

Kajian itu mengungkapkan, wanita yang mengonsumsi paracetamol saat sedang hamil berisiko mendapatkan anak dengan masalah perilaku. Kajian yang dipublikasikan di jurnal Paediatric and Perinatal Epidemiology itu meneliti apakah ada efek konsumsi paracetamol di tengah kehamilan dan perilaku anak-anak antara usia 6 bulan—11 tahun dengan uji memori dan IQ hingga usia 17 tahun.

“Penemuan kami menambah serangkaian hasil kajian terkait bukti kemungkinan efek samping mengonsumsi paracetamol selama kehamilan seperti masalah asma atau perilaku keturunannya. Ini menegaskan kembali kalau wanita harus berhati-hati saat mengonsumsi obat ketika sedang hamil dan meminta saran medis ketika diperlukan,” papar penulis utama kajian ini, Jean Goulding, dosen di University of Bristol, Inggris, yang dikutip IANS.

Dengan menggunakan kuestioner dan informasi sekolah dari kajian Children of 90s Bristol, para periset meneliti sekitar 14.000 anak. Ketika hamil 7 bulan, 43% ibu anak-anak ini mengatakan mengonsumsi paracetamol saat sedang hamil, dengan frekuensi kadang-kdang atau lebih sering saat tiga bulan sebelumnya.

Para periset kemudian meneliti hasil memori, IQ dan uji perkembangan prasekolah, temperamen dan ukuran perilaku anak-anak itu. Kajian ini kemudian menemukan kaitan antara konsumsi paracetamol dan masalah perilaku pada anak-anak termasuk hiperaktivitas dan gangguan penurunan perhatian.

Namun, hal itu sudah bukan lagi masalah ketika anak-anak itu mencapai akhir usia sekolah dasar. Menurut para periset, anak laki-laki lebih rapuh terhadap efek perilaku obat itu daripada anak perempuan. “Penting karena penemuan kami diuji di kajian lain—kami tidak dalam posisi menunjukkan kaitan kausal, tapi lebih pada kaitan antara dua hasil tersebut,” kata Golding.

(alv)

▶ Sumber ◀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: