Motor Lawas Menjadi Peluang Bisnis

Foto : istimewa

Sketsanews.com, Jakarta – Belakangan, minat konsumen terkait motor sport mulai mengarah ke model retro. Itulah mengapa, beberapa pabrikan otomotif berlomba-lomba menghadirkan produk baru yang mengusung tampilan klasik.

Namun, cara itu belum sepenuhnya berhasil. Terbukti, masih banyak yang mencari tunggangan jadul, untuk membangkitkan nuansa nostalgia yang membekas hingga kini.

Padahal, harga motor tua terbilang mahal. Bahkan, angkanya bersifat fluktuatif, alias bisa berubah kapan saja. Meski begitu, konsumen yang terlanjur suka, tetap akan membelinya. Lebih-lebih, tak sedikit yang menjadikannya sebagai barang investasi.

Hal itu umum terjadi di kalangan para kolektor. Mereka sengaja menebus motor di harga tinggi, dan berharap nilainya terus menanjak di masa depan. Sehingga, saat dijual kembali, mereka untung. Kemudian siklus itu diulang, untuk memetik keuntungan yang sama.

Tetapi, menjadikan sepeda motor sebagai barang investasi sebenarnya memiliki risiko cukup besar. Sebab, ketentuan harga yang disepakati berdasarkan pertimbangan suka sama suka, artinya angka yang dipatok hanyalah bersifat subyektif semata.

Hal tersebut turut dikomentari pemilik diler Tirta Motor di kawasan Kranji, Bekasi Barat, Dul Ahmadi, yang hingga sekarang masih melayani transaksi jual beli motor tua.

“Kalau (beli) motor tua kan pertimbangannya untuk koleksi. Tujuannya apalagi, kalau bukan untuk kembali ke masa lalu? Anak-anak muda juga seperti itu, mereka ngelihat apa yang dipakai di zaman dulu itu berbeda, jadi ikutan beli supaya enggak sama dengan yang lain,” ujar Dul dikutip dari 100KPJ, Selasa 16 Juli 2019.

“Tapi masalahnya kan jadi sulit menentukan harga, apalagi ke pembeli umum. Makanya transaksi ini (jual-beli motor tua) cuma ngelibatin penjual ke kolektor, atau kolektor ke kolektor lain,” sambung dia.

Dul mengingatkan, bahwa bagaimanapun juga, sepeda motor memiliki fungsi utama sebagai moda berpindah tempat. Lantas, jika tunggangan jadul itu sudah tak lagi berfungsi optimal, apa guna? Terlebih, suku cadangnya mulai sulit ditemukan.

Selain itu, kata dia, mengoleksi kendaraan tua adalah perkara tren. Jadi, konsumen yang ingin membelinya, harus siap menghadapi kenyataan bahwa suatu saat akan ditinggal peminat. Sehingga, harga jualnya mengalami pergerakan signifikan.

“Harga motor tua kan biasanya hasil tembak (tidak pasti), takutnya suatu saat tiba-tiba anjlog, kan rugi juga,” kata dia. (Yan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: