Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Hidup Sehat, News MTCC Sebut 60 Persen Perokok di Indonesia Anak Usia 9-16 Tahun

MTCC Sebut 60 Persen Perokok di Indonesia Anak Usia 9-16 Tahun

Ilustrasi rokok (Foto: Thinkstock)

Sketsanews.com, Yogyakarta – Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) kembali merilis jumlah perokok di Indonesia. Data MTCC menunjukkan jumlah perokok di Indonesia masih sangat banyak sekali.

MTCC mengacu dari laporan The Tobacco Atlas 3rd Edition, yang menyebutkan bahwa perokok di Indonesia menduduki peringkat pertama di ASEAN, dengan persentase 46.16 persen dari keseluruhan penduduk negara-negara ASEAN. Sedangkan peringkat kedua, Filipina hanya memiliki persentase sebesar 16.62 persen. Hal ini menunjukkan betapa tingginya perokok yang ada di Indonesia.

Kemudian, data dari Riskesdas tahun 2017 juga menunjukkan jumlah perokok di Indonesia mencapai 29.3 persen. Hal ini sebagaimana disampaikan oleh dr. Supriyatiningsih, Sp.OG, M.Kes, selaku Project Director Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC) UMY dalam acara workshop KTR (Kampus Tanpa Rokok) di Amphiteater B, E7 Lantai 5 Gedung KH Ibrahim UMY, Selasa (5/6).

Membawakan materi mengenai rokok sebagai ancaman terhadap pemuda, dokter yang sering disapa Upi itu menjelaskan, dua dari tiga pria di Indonesia merupakan seorang perokok.

Kemudian sebanyak 60 persen mulai merokok dari usia 9-16 tahun. Selain itu, jika digabungkan, perokok wanita di dunia, memiliki persentase yang besar. Akan tetapi, di Indonesia angka perokok wanita tidak besar namun semakin naik per tahun 0.7 hingga 2.9 persen.

“Indonesia yang merupakan salah satu dari dua negara dari 180-an negara yang belum menandatangani tentang pertembakauan. Hal ini membuat Indonesia sebagai sasaran empuk masuknya produk tobacco. Maka dari itu, kita harus hati-hati,” ungkapnya.

Upi juga menyampaikan bahwa dari data perokok di Indonesia, sebanyak 40 persen adalah orang miskin. Dan sebanyak 60 persen penghasilan digunakan untuk membeli rokok. Hal ini dikarenakan di Indonesia memiliki harga rokok termurah.

“Sebenarnya, warning untuk pengurangan konsumsi rokok di Indonesia sudah ada. Dengan memberikan pictorial warning di setiap kemasan rokok yang ada. Akan tetapi, Pictorial warning ini di Indonesia lama kelamaan semakin kecil. Pictorial warning yang awalnya hanya sebatas tulisan, kini yang terbaru, sudah digantikan dengan gambar yang mengerikan,” ujarnya.(Ad/Kumparan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: