MUI: Tinggalkan Vaksin MR Kalau Masih Ragu Halal Haramnya

Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abbas senantiasa menunggu rampungnya penelitian kandungan vaksin MR. (CNN Indonesia/Alfani Roosy Andinni)
Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abbas senantiasa menunggu rampungnya penelitian kandungan vaksin MR. (CNN Indonesia/Alfani Roosy Andinni)
Sekretaris Jenderal MUI Anwar Abbas senantiasa menunggu rampungnya penelitian kandungan vaksin MR. (CNN Indonesia/Alfani Roosy Andinni)

Sketsanews.com, Jakarta – Majelis Ulama Indonesia (MUI) menegaskan hingga saat ini instansinya belum mengeluarkan sertifikat halal untuk vaksin imunisasi measless dan rubella (MR).

Sekretaris Jenderal (Sekjen) MUI Anwar Abbas senantiasa menunggu rampungnya penelitian kandungan vaksin MR yang sedang dilakukan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Dalam perspektif Islam, Anwar menyebut zat apapun yang dikonsumsi dan masuk ke tubuh umat Muslim haruslah halal. Sementara, vaksin MR masih belum jelas halal atau haramnya.

“Oleh karena itu, tinggalkan apa sesuatu yang meragukan engkau dan pindah kepada yang tidak meragukan. Kalau kita masih ragu vaksin ini tidak halal, ya tinggalkan,” kata Anwar di kantornya, Senin (6/8).

Anwar meminta Kemenkes melaporkan hasil penelitiannya sesegara mungkin.

Menurutnya, Kemenkes tidak mengajukan permohonan sertifikasi halal vaksin MR ke Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika Majelis Ulama Indonesia (LPPOM-MUI) sejak lama. Surat pengajuan itu, kata Anwar, tidak pernah diterimanya.

“Prosedurnya oleh Kemenkes tidak ditempuh. Menurut saya, ini ketedeloran oleh pihak Kemenkes. Bagaimana MUI bisa memberikan sertifikat halal sementara surat permohonan saja tidak ada?” ucap Anwar.

Imunisasi MR Jalan Terus

Terpisah, Menkes Nila Moeloek menegaskan pelaksanaan Kampanye Imunisasi MR Fase 2 akan terus berjalan.

Nila menyebut hasil kesepakatan antara Kemenkes dan MUI adalah tetap melaksanakan Kampanye Imunisasi MR Fase 2 dalam kurun waktu dua bulan, Agustus sampai akhir September 2018. Upaya tersebut sebagai perlindungan bagi masyarakat dari penyakit berbahaya.

Jumat (3/8) lalu, Nila didampingi Dirjen Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes RI Anung Sugihantono telah berkonsultasi secara langsung dengan pimpinan MUI terkait permohonan fatwa vaksin MR.

Kemenkes juga memberikan kesempatan bagi masyarakat untuk meyakinkan diri dengan memilih menunggu terbitnya fatwa MUI tentang imunisasi MR, dan dapat memperoleh imunisasi MR pada kesempatan berikutnya sampai dengan akhir bulan September 2018.

“Pelaksanaan Imunisasi MR bagi masyarakat yang tidak memiliki keterikatan aspek syar’i dilakukan secara profesional sesuai dengan ketentuan teknis,” ujar Nila dalam surat edaran tentang Pelaksanaan Kampanye Imunisasi MR nomor HK.02.01/MENKES/444/2018 tanggal 6 Agustus 2018.

Surat tersebut ditujukan kepada para gubernur dan bupati seluruh Indonesia pada Senin (6/8).

“Sedangkan pelaksanaan imunisasi MR bagi masyarakat yang mempertimbangkan aspek kehalalan dan/atau kebolehan vaksin secara syar’i dapat menunggu sampai MUI mengeluarkan fatwa tentang pelaksanaan Imunisasi MR”, lanjutnya.

Adapun vaksin MR berguna untuk mencegah penyakit campak dan mengendalikan penyakit rubella yang bisa menyebabkan Congenital Rubella Syndrome (CRS).

Pemberian imunisasi MR bermanfaat untuk memberikan kekebalan bagi masyarakat terhadap ancaman penularan penyakit Campak dan Rubella yang dapat menyebabkan kecacatan dan kematian.

Imunisasi MR akan diintroduksikan dalam program imunisasi rutin nasional yang diawali dengan pelaksanaan Kampanye Imunisasi MR dengan sasaran Balita, anak-anak dan remaja awal usia (usia 9 bulan sampai kurang dari 15 tahun) yang paling memiliki kerentanan terhadap penyakit tersebut.

Kampanye Imunisasi MR Fase dibagi ke dalam dua fase. Fase 1 telah dilaksanakan pada Agustus-September 2017 di 6 Provinsi di Pulau Jawa. Sedangkan fase 2 sedang berlangsung pelaksanaannya di 28 provinsi di luar Pulau Jawa. (wal/CNNIndonesia)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: