Sketsa News
Home Analisis, Berita, Berita Terkini, Headlines, News Murid Aniaya Guru, Karakter yang Rancu

Murid Aniaya Guru, Karakter yang Rancu

ilustrasi penganiayaan guru oleh murid. foto: (JIBI/Solopos/Dok)

Sketsanews.com, Jakarta – Pendidikan merupakan proses untuk mengembangkan potensi yang dimiliki oleh manusia agar memiliki kecerdasan, kepribadian baik, pengendalian diri, akhlak mulia, serta pemahaman agama, yang diperlukan oleh dirinya sendiri, masyarakat, bangsa dan negara.

Namun tak jarang, proses tersebut diwarnai oleh perilaku yang tidak terpuji, baik oleh murid maupun oleh pengajar sendiri. Seperti yang baru saja terjadi di Madura.

Budi Cahyono (26 th), guru Kesenian di SMA N 1 Torjun, Sampang, Madura menjadi korban kekerasan anak didiknya sendiri. Akibat penganiayaan tersebut, Budi Cahyono mengalami MBO (Mati Batang Otak) dan seluruh organ tubuhnya tidak berfungsi, hingga akhirnya meninggal dunia.

Miris, aksi penganiayaan tersebut terjadi pada Kamis (01/02/2018) sekitar pukul 13.00 WIB saat jam pelajaran sedang berlangsung. Teguran untuk mengikuti pelajaran dibalas oleh MH (murid) dengan pukulan tangan ke pelipis Budi (guru).

Bukan hanya kasus Pak Guru Budi saja, ternyata masih banyak kasus serupa dimana anak didik sudah tidak memiliki akhlak dan rasa homat terhadap guru atau orangyang lebih tua.

Selain itu, kekerasan yang dilakukan anak-anak tidak akan serta merta terjadi. Bisa saja anak-anak mencontoh tindak kekerasan dari permainan daring, permainan video dan tayangan televisi.

Lihat bagaimana stasiun televisi masih menampilkan sinetron genre remaja dengan adegan kekerasan, baik di sekolah maupun di jalan. Lihat juga aplikasi game, entah itu di komputer atau di hp android, dengan mudahnya anak-anak/remaja mendownload game kekerasan, bahkan ada game dengan judul “Pukul Guru Anda”.

Menjadi tugas pemerintah terkhusus Kominfo untuk memblokir sinetron-sinetron dan game-game tersebut. Peran orang tua di rumah pun sangat diperlukan untuk mendidik anak-anaknya. Teladan yang baik sangat dibutuhkan bagi remaja saat ini, remaja yang berkutat dengan dunia digital, sehingga apapun yang mereka lihat di gadget bisa mempengaruhi pikirannya.

Hilangnya atau berkurangnya jam pelajaran agama disekolah bisa menjadi faktor penyebab kenakalan anak didik. Sebaliknya, bertambahnya jam pelajaran agama bisa menjadikan baiknya akhlak, sopan santun dan rasa hormat terhadap sesama terlebih kepada guru/orangtua.

kekerasan-kekerasan yang masih terjadi di sekolah dan lembaga pendidikan lainnya merupakan indikasi nyata, program pendidikan karakter tidak atau kurang berhasil. Anggaran negara yang dihabiskan untuk program itu dinilai telah gagal menanamkan karakter pada peserta didik.

Metode pembelajaran di Madrasah-madrasah bisa dijadikan contoh, bagaimana mengkombinasikan ilmu agama dan ilmu umum. Hasilnya, anak didik tidak hanya cerdas ilmu umum, tapi juga cerdas emosinya, baik pekertinya, luhur budinya.

(Fya)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: