Muslim China “Pembangun” Majapahit

Istimewa

Sketsanews.com – Munculnya kerajaan Majapahit pada akhir abad 13 (1293) tidak dapat dipisahkan dari pergolakan politik yang terjadi di Singasari. Pada masa raja terakhir, Kertanegara (1268-1292), Singasari memang mengalami puncak kejayaannya. Akan tetapi, pergolakan politik di kerajaan yang didirikan oleh Ken Arok ini tidak dapat mempertahankan kejayaan tersebut.

Saat Kertanegara berusaha meluaskan wilayah Singasari dengan melakukan ekspedisi ke beberapa wilayah di luar Jawa, datanglah utusan Kaisar Mongol yang berkuasa atas China, Kubilai Khan, pada 1289 bernama Meng Qi. Ia meminta Kertanegara tunduk kepada kekuasaan Mongol dan menyerahkan upeti setiap tahun. Kertanegara menolak permintaan itu, bahkan melukai wajah Meng Qi.

Untuk membalas hal itu, beberapa tahun kemudian, Kubilai Khan mengirim pasukan yang dipimpin oleh Shi Bi, Ike Mese dan Gao Xing. Pasukan tersebut mendarat di Jawa pada 1293. Saat itu, Kertanegara telah terlebih dahulu meninggal akibat pemberontakan Jayakatwang dari Kadiri.

Wijaya, menantu Kertanegara, sempat memimpin pasukan untuk melawan pasukan Jayakatwang, tetapi kalah. Ia lalu melarikan diri dan berhasil meminta perlindungan kepada Adipati Wiraraja di Sumenep. Atas usaha Wiraraja, Wijaya mendapat pengampunan dari Jayakatwang. Ia bahkan mendapat tanah perdikan di hutan Tarik yang menjadi cikal bakal Majapahit. Di tanah inilah, Wijaya menyusun kekuatan untuk membalaskan kehancuran kerajaan mertuanya.

Pada Maret 1293, pasukan Kubilai Khan telah sampai di Kali Mas dan membuat perkemahan di tepi sungai. Mengetahui kedatangan mereka, Wijaya bermaksud menyatakan tunduk kepada China. Kemudian, diadakanlah kesepakatan untuk bersekutu melawan Jayakatwang. Persekutuan ini berhasil mengalahkan Jayakatwang.

Setelah berhasil meraih kemenangan, Wijaya kembali ke kotanya untuk mempersiapkan upeti. Dua perwira dan 200 prajurit China mengawalnya. Akan tetapi secara diam-diam, Wijaya meninggalkan prajurit China dan menyerang mereka. Peristiwa ini membuat seluruh anggota rombongan pasukan China merasa sedih. Mereka kehilangan 3.000 orang yang mati terbunuh. Pada hari 24 bulan 4 tahun 1293, pasukan kembali ke China. Mereka membawa anak-anak dan sejumlah perwira Jayakatwang serta peta negara, catatan populasi dan sebuah surat dengan huruf emas yang dituliskan oleh sang raja. Demikianlah W.P. Groeneveldt mengabadikan kisah itu dalam bukunya, Nusantara dalam Catatan Tionghoa, hlm. 30-48. Cerita serupa juga terdapat dalam karya S.T. Raffles, The History of Java jilid II hlm 101-108.

Ekspedisi Mongol yang dimaksudkan untuk menghukum Kertanegara akhirnya membawa akibat yang tidak terduga, yaitu menaikkan Wijaya pada tahta kerajaan Majapahit. Wijaya telah merintis cikal bakal kerajaan ini di hutan Tarik. Ketika datang orang-orang China yang dikirim oleh Kaisar Mongol, ia memanfaatkan mereka untuk mewujudkan impiannya. Meski berbeda tujuan dengannya saat menyerang Jayakatwang, mereka akhirnya turut membantu pembangunan Majapahit.

Mengungkap Fakta

Tan Ta Sen dalam bukunya, Cheng Ho Penyebar Islam dari China ke Nusantara, mengungkap fakta baru cukup menarik. Menurut hasil kajiannya, banyak anggota pasukan Mongol yang melibatkan orang-orang China itu beragama Islam. Groeneveldt yang menyebut Shi Bi dan Ike Mese sebagai orang Mongol adalah keliru. Ike Mese adalah pribumi Muslim asal Wei-wu-er atau Uighur-Xinjiang. Islam datang ke Xinjiang pada abad 10. Orang Mongol menyebut orang Uighur sebagai Hui Hui, yaitu sebutan untuk komunitas Muslim. Komandan lainnya, Shi Bi adalah pribumi Muslim asal Boye di provinsi Hebei tengah. Ia mempunyai nama lain, yaitu Jun Zuo dan Ta La Hun, yang merupakan nama etnis Han China bagi mereka yang berdarah keturunan bangsa Barat, seperti Arab, Persia, atau Turki. Kelompok masyarakat inilah yang kemudian menurunkan etnis Hui Hui. Sementara itu, Gao Xing adalah orang China dari Chaizhou di Henan. (hlm. 261-262) Dalam kajian lain, Tan Ta Sen menulis bahwa Henan termasuk daerah pesisir China yang sampai hari ini masih dapat dijumpai komunitas Muslim Hui Hui. (“Hubungan Kerajaan Malaka dengan Dinasti Ming” dalam Leo Suryadinata, Laksamana Cheng Ho dan Asia Tenggara, hlm. 45) Jadi, orang-orang Muslim sangat kuat terwakili dalam penyerbuan pasukan Mongol ke Jawa.

Cerita mengenai diserangnya dua perwira dan 200 prajurit China oleh Wijaya dan terbunuhnya 3.000 orang akibat perang diragukan kebenarannya oleh Tan Ta Sen. Ia mengemukakan catatan dari Yuan Shi buku 210 yang memberi sebuah versi baru, “Pada hari ke-19, Raden Wijaya memberontak dan melarikan diri. Para pengawal menolak untuk bertempur. Dua orang perwira, Niezhebuding dan Ganzhoubuhua serta seorang sekretaris bangsa China, Fengxiang, terbunuh. Pada hari ke-24, para serdadu pulang ke tanah air.” Menurut Tan Ta Sen, Groeneveldt tidak akurat dalam menyebutkan kisah tadi. Groeneveldt menghilangkan frasa kunci “pasukan pengawal menolak untuk bertempur”. Ia juga menambahkan cerita pembunuhan 200 orang prajurit, padahal dalam catatan aslinya cerita itu tidak ada.

Tan Ta Sen menafsirkan peristiwa itu bahwa sekelompok pasukan pengawal menolak perintah para perwira untuk mengejar Wijaya karena sadar sedang memasuki zona berbahaya tepat di markas musuh mereka. Mereka akhirnya membunuh ketiga perwira itu dan meninggalkan pasukan kekaisaran. Sangat mungkin banyak dari anggota pasukan pengawal yang dapat bertahan dan selamat dari peperangan itu menetap di Jawa. Jika bergabung kembali dengan pasukan Mongol yang ditarik mundur, mereka pasti akan dibunuh karena telah mengabaikan perintah untuk bertempur melawan musuh.

Mengenai 3.000 orang prajurit yang tewas, cerita ini diduga kuat hanyalah karangan Shi Bi. Semua prajurit yang hilang, termasuk yang tidak ikut kembali ke China, dianggap tewas dan dilaporkan seperti ini. Karena serangan ke Jawa dipandang gagal, para komandan mendapatkan hukuman dari Kaisar. Shi Bi dan Gao Xing lalu memilih untuk membuat cerita yang dibuat-buat dan tidak benar tentang akibat dari peristiwa Wijaya demi keuntungan mempertahankan diri mereka sendiri. (hlm. 262-265)

Saat Cheng Ho beberapa kali mengunjungi Jawa antara 1405-1433, juru tulisnya, Ma Huan, melaporkan ada banyak orang China Muslim di Jawa. Mereka itulah sisa pasukan Mongol yang tidak mau ikut pulang ke China. Mereka beranak pinak di Jawa. Mereka juga terlibat dalam Islamisasi Jawa. Wallahu a‘lam.

FB. Muhammad Isa Anshory | Pemerhati Sejarah Islam di Nusantara

 

(in)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: