Naikkan Harga Rokok atau Rehabilitasi Perokok?

ilustrasi tembakau dan rokok. ©2012 Merdeka.com

ilustrasi tembakau dan rokok. ©2012 Merdeka.com

ilustrasi tembakau dan rokok. ©2012 Merdeka.com
ilustrasi tembakau dan rokok. ©2012 Merdeka.com

Sketsanews.com, Jakarta – Solusi atas masalah rokok kembali diperdebatkan Tim Sukses Pasangan Calon (Paslon). Dalam diskusi yang digelar Lembaga Kajian dan Konsultasi Pembangunan Kesehatan (LK2PK) kedua tim memberi penyelesaian yang berbeda

Dilansir dari detikcom, Tim Kemenangan Nasional (TKN) merujuk pada harga rokok. Harga produk ini dinilai masih terlalu murah bila dibandingkan negara lain. Rokok yang menimbulkan kecanduan adalah akar dari berbagai penyakit, misal TB dan gangguan jantung.

“Kita liat di negara lain, harga rokok sudah mahal sekali. Nantinya kenaikan tidak berlangsung sekaligus. Saya rasa kita bisa menerapkannya dengan kenaikan yang bertahap,” kata Mariya Mubarika dari TKN yang merupakan tim sukses paslon 01.

Menurut Mariya, timnya sudah memiliki cetak biru kenaikan harga rokok. Kenaikan inilah yang akan digunakan untuk beragam kepentingan yang diperlukan masyarakat.

Badan Pemenangan Nasional (BPN) memilih solusi yang berbeda. Solusi diperoleh dengan mempertimbangkan sifat adiktif rokok. Mereka yang sudah kecanduan akan membeli rokok meski harganya mahal. Rokok bisa menjadi pengeluaran terbesar mengalahkan beras.

“Kami akan memberikan nicotine replacement theraphy bagi yang sudah kecanduan. Sedangkan bagi yang belum kami akan melakukan usaha promotif lewat media sosial. Misal menaikkan hashtag bahagia tanpa rokok,” ujar Harun Albar dari Satgas Kesehatan BPN.

Menurut tim sukses paslon 02, perokok adalah korban dari produk tembakau. Mereka harus dibantu untuk melepaskan diri dari ketergantungannya. Sementara bagi yang tidak merokok harus dibantu untuk menerapkan hidup sehat.

Sayangnya kedua tim tidak membahas kerja sama pembatasan rokok dengan pemerintah daerah. Misal tata laksana terapi, atau pembagian pajak dan cukai dengan pemerintah pusat. Aturan pemda dan pusat harus punya visi yang sama membatasi konsumsi rokok. Kebijakan pemda saat ini paling dekat dengan kehidupan masyarakat.(Hw)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: