Nasib 1.351 Penjaga Pintu Tol yang Resmi Digantikan Robot oleh Pemerintah Indonesia

FOTO: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

FOTO: ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

Sketsanews.com, Jakarta – Otomatisasi memang tidak bisa dibendung. Korbannya adalah manusia. Posisinya kini digantikan oleh mesin-mesin berteknologi tinggi.

Otomatisasi atau dikenal dengan istilah robot menggantikan peran manusia pada lapangan pekerjaan sudah mulai terjadi di Indonesia.

Salah satunya pada pegawai penjaga gerbang tol. Pemerintah Indonesia memutuskan untuk menerapkan transaksi diseluruh pintu tol dengan non tunai. Dengan begitu, kehadiran penjaga tol pun sudah tidak lagi dibutuhkan.

Otomatisasi memang memberikan manfaat yang cukup besar bagi pelayanan dan keuntungan yang lebih besar tentunya. Namun dampak buruknya manusia tersingkirkan. Masalah ini tentu harus segera diatasi dengan penyediaan lapangan kerja yang seluas-luasnya bagi para pekerja yang terkena dampak.

Lalu bagaimana nasib para penjaga tol?

Melansir Detikfinance yang telah menghubungi beberapa operator jalan tol baik perusahaan pelat merah atau BUMN maupun swasta yang beroperasi di tanah air. Seperti PT Jasa Marga (Persero), yang mengaku memiliki program pemberdayaan pegawai yang terkena dampak kebijakan otomatisasi.

PT Jasa Marga pernah mengungkapkan bahwa penerapan elektrifikasi pada gerbang tol memberikan dampak kepada 1.351 penjaga gerbang tol. Corporate Secretary (Corsek) Jasa Marga Agus Setiawan mengatakan, program pemberdayaan pegawai tersebut dinamakan Alife.

Adapun, dalam program tersebut para pegawai yang terkena dampak otomatisasi diberikan pilihan-pilihan, mulai dari alife pertama pindah menjadi staf di kantor pusat. Kedua, pindah menjadi staf di kantor cabang. Ketiga, menjadi pegawai di anak usaha. Keempat, menjadi wiraswasta di rest area jalan tol milik perseroan. Kelima, pensiun dini.

“Kita punya program untuk solusi elektrifikasi peralatan tol. Diberi nama Alife,” kata Agus, Jakarta, Kamis (27/6/2019).

Penerapan program transaksi non tunai diseluruh gerbang tol terjadi pada Oktober 2017. Menurut Agus, manajemen Jasa Marga pun telah menawarkan program Alife sebelum dan sesudah penerapan.

Lebih lanjut Agus menyebut, banyak penjaga gerbang tol Jasa Marga yang sudah pindah bagian ke divisi lain seperti menjadi admin, hingga bekerja di training centre. “Sebagian yang sudah senior mengambil program pensiun dipercepat dengan diberikan pelatihan wirausaha dan insentif,” ujar dia.

Hal yang sama juga dilakukan oleh operator jalan tol swasta seperti PT Astra Infra Toll Road yang memutuskan untuk mengalokasikan petugas gerbang tol ke bagian lain. Head of Corporate Communication PT Astra Infra Toll Road Danik Irawati mengatakan pihaknya sampai saat ini masih mengalokasikan penjaga gerbang tol ke bagian lain yang berada di kantor gerbang tol.

“Kalau ngomong elektrifikasi kan tidak semua hilang, di gerbang tol kan ada pengawas itu kan ada yang disalurkan ke fungsi-fungsi itu, ada yang disalurkan ke fungsi lain. Intinya itu,” jelas Danik.

Hingga sampai ini, kata Danik manajemen Astra Infra Toll Road masih melakukan pemindahan bagi penjaga gerbang tol ke fungsi lain yang masih ada di sekitaran gerbang tol. Misalnya, ke bagian seperti pengawas gerbang tol, penjaga gerbang tol yang tugasnya membatu top up alias isi ulang saldo kartu elektronik, hingga membantu tap kartu pengendara mobil.

“Sampai saat ini masih seperti itu, masih dialokasikan ke fungsi lain,” ungkap dia.

Meski para operator jalan tol memiliki kebijakan bagi para pegawainya, namun pengamat kebijakan publik Agus Pambagio menilai pemerintah harus gerak cepat mengantisipasi otomatisasi.

Agus menyebut, pemerintah harus menyediakan lapangan kerja baru bagi para penjaga gerbang tol yang tidak bertahan di perusahaan sebelumnya. Apalagi pemerintah sekarang sudah menggembar gemborkan soal industri 4.0 yang serba digital.

“Ya kan kalau pemerintah niatnya sudah ke sana harus menyiapkan konsekuensi salah satunya SDM ini mau dikemanakan,” kata Agus.

Menurut Agus, pemerintah harus segera mempercepat program sekolah vokasi untuk meningkatkan skill atau keterampilan SDM sesuai dengan kebutuhan industri.

“Maka dengan vokasi banyak tumbuh pekerjaan baru, jadi bukan menyediakan tapi menciptakan lapangan kerja baru, kan banyak pekerjaan kreatif,” ungkap dia. (dik)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

%d blogger menyukai ini: