Sketsa News
Home Berita Terkini, News, Peristiwa 34 Warga Demak Diduga Menjadi Korban Penyanderaan di Mimika

34 Warga Demak Diduga Menjadi Korban Penyanderaan di Mimika

Keluarga 34 warga Desa Kedondong, Kecamatan Demak Kota, Kabupaten Demak, khawatir anggota keluarga mereka turut menjadi korban penyanderaan kelompok bersenjata di Papua. Mereka mengadukan nasib ke kepala desa setempat, Minggu (12/11/2017). TRIBUN JATENG/HESTY IMANIAR

Sketsanews.com, Demak – Kapolres Demak, AKBP Sonny Irawan mengungkapkan 34 warga Desa Kedondong diduga menjadi korban penyanderaan oleh sekelompok orang bersenjata di Tembagapura, Mimika, Papua.

Jumlah warga yang menjadi korban penyanderaan ini diketahui dari laporan warga dan Kepala Desa Kedondong.

“Atas laporan tersebut, kami dari Polres Demak, langsung melaporkan hal ini ke Polda Jawa Tengah, dan Mabes Polri, untuk seterusnya mengambil langkah-langkah untuk menyelamatkan ke-34 warga Demak ini,” katanya.

Kepala Desa Kedondong, Sistianto membenarkan, keluarga 34 warga yang diduga menjadi korban penyanderaan di Tembagapura mengadu kepadanya.

Sejak beberapa hari lalu, Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) menyandera 1.300 warga di dua desa, yakni Kampung Kimberly dan Kampung Banti, Tembagapura, Mimika, Papua.

Pernyataan dari Polri menyebut, kelompok yang beranggotakan sekitar 100 orang, termasuk 25 orang bersenjata, menduduki kedua desa tersebut dan mencegah 1.300 orang untuk pergi.

Hanya perempuan dan anak-anak yang boleh keluar masuk kampung untuk berbelanja logistik, sementara para laki-laki ditahan di dalam kampung.

Kabar penyanderaan 1.300 warga dua desa di Tembagapura, Mimika, Papua, membuat Tri Atmi (49) ketar-ketir.

Anak Tri, warga Desa Kedondong, Kecamatan Demak Kota, Kabupaten Demak, diduga termasuk dalam ribuan warga korban penyanderaan. Selain keluarga Tri Atmi, 33 warga lain Kedondong juga tersandera.
Tri Atmi mengungkapkan, anaknya sudah tiga minggu tidak melakukan komunikasi dengannya. Sang anak, kata dia, bekerja sebagai buruh tambang di sekitar lahan PT Freeport, Papua.

“Dia memang sudah biasa bekerja sebagai buruh tambang di Papua. Biasanya, hanya lima bulan sampai satu atau dua tahun di sana, nanti pulang. Saat di sana, dia rutin berkomunikasi dengan saya, sekadar menyampaikan kabar,” kata Tri, saat mengadu ke kepala Desa Kedondong, Minggu (12/11/2017).

Tri menyatakan, sudah tiga minggu belakangan, sang anak tidak memberi kabar.

“Bahkan, lokasi penyanderaan di Mimika sama dengan lokasi anak saya menjadi buruh. Tentu saya cemas karena anak saya tidak ada kabarnya sampai saat ini,” kata Tri.

Warga lainnya, Hilda (23), menyatakan, suaminya yang menjadi buruh tambang di lahan sekitar PT Freeport, juga telah tiga minggu tidak memberi kabar.

“Suami saya, bersama warga lain, pergi merantau ke Papua untuk menjadi buruh tambang di sekitar lahan PT Freeport. Sejak tiga minggu ini, suami saya juga tidak ada kabar sama sekali,” kata Hilda. Dikutip dari Tribun.

(Eni)

%d blogger menyukai ini: