Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News 5.000 Liter Oli Tumpah ke Saguling

5.000 Liter Oli Tumpah ke Saguling


Tumpahan Oli/DEDEN IMAN/PR
OLI menggenangi Sungai Cibingbin yang bermuara ke aliran Waduk Saguling di Kampung Cibingbin RT 01 RW 04 Desa Laksanamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat, Senin 3 April 2017. Sedikitnya 5.000 liter oli tumpah ke sana akibat keran mesin boiler milik perusahaan PT Central Georgette Nusantara Printing Mills (CGNP) bocor.*

 

Sketsanews.com, Bandung Barat – Sekitar 5.000 liter oli dari mesin steam boiler (ketel uap) PT Central Georgette Nusantara Printing (CGNP) yang pecah tumpah mencemari wilayah genangan Waduk Saguling di Kampung Cibingbin, RT 1 RW 4, Desa Laksanamekar, Kecamatan Padalarang, Kabupaten Bandung Barat. Sebelum mengalir ke perairan Saguling, oli turut merendam dua hektare lahan pertanian.

Ketua RW setempat, Rosadi menuturkan, tumpahan oli mulai dia ketahui pada Kamis 23 Maret 2017, lalu setelah dilaporkan oleh sejumlah warga. “Pagi-pagi itu sungai sudah hitam pekat dengan oli. Saya cek di genangan Saguling juga sudah penuh oli. Setelah ditelusuri, ternyata olinya itu keluar dari saluran air CGNP,” kata Rosadi di lokasi, Senin 3 April 2017.

Dia menyebutkan, keberadaan oli pada aliran Sungai Cibingbin itu tak hanya mengganggu masyarakat sekitar, tetapi juga merusak lahan pertanian seluas sekitar dua hektare yang dikelola oleh 15 petani penggarap. Selain itu, oli pun mencemari perairan Saguling di Cibingbin, sehingga tempat memancing dipenuhi oleh bangkai ikan.

“Warga terganggu, karena baunya sangat menyengat. Itu kan oli sisa pembakaran, jadinya bau. Sungainya itu mengalir ke sawah dan melewati pemukiman penduduk. Setelah lapor ke Dinas Lingkungan Hidup, perusahaan baru melakukan pembersihan. Oli yang di Saguling itu akhirnya diangkuti,” katanya, sebagaimana dilansir dari PikiranRakyat.

Seorang petani, Dede (45) menuturkan, dua petak sawah yang dia garap rusak karena tercemar tumpahan oli. Padahal, sawah itu baru sekitar 20 hari dia tanami padi. “Tanaman jadi rusak, karena airnya itu jadi hitam dan bau. Di sini ada sekitar 15 pertani yang terancam gagal panen, karena sebagian besar sawah di sini memanfaatkan air dari Sungai Cibingbin,” katanya.

Menurut dia, para petani sudah mendatangi perusahaan tekstil tersebut untuk meminta pertanggungjawaban. Walaupun CGNP menyatakan siap bertanggung jawab, hingga kini dia mengaku belum ada tindak lanjutnya. Petani lainnya, Mardiah (70) menyatakan hal serupa. Dia mengaku terpaksa membersihkan sendiri lahan pertaniannya, karena belum ada tindakan dari pihak perusahaan.

“Saya baru menanam padi empat hari sebelumnya. Saya enggak ke sawah dulu, karena baru ditanam. Dikasih tahu tetangga, ada banjir oli di sawah. Pas ke sawah, saya kaget karena sawah sudah menghitam. Saya sampai nangis, karena banyak tanaman yang rusak. Walaupun olinya ada di permukaan, tapi kan air yang sudah tercemar diserap tanaman,” tuturnya.

Kepala Bagian Personalia dan Umum PT CGNP Dwi Wahyudi mengatakan, perusahaan mulai menangani oli di genangan Saguling sejak Kamis 30 Maret 2017 lalu. Dari kapasitas mesin steam boiler sebanyak 5.000 liter oli, dia menyebutkan sudah empat truk berisikan masing-masing 14 drum oli yang diangkut.

“Diangkut pakai dumptruck. Jadi oli dan sampah di Saguling diangkut pakai karung, dimasukkan ke drum, baru dibawa pakai truk. Ada kesulitan dalam membersihkannya, karena ada banyak sampahnya juga. Medannya juga curam begini, jadi kami menanganinya pakai jaring. Kami tarik ke atas pakai karung. Kan memang sulit,” kata Wahyu, panggilannya.

Dia mengaku, mesin steam boiler yang pecah tersebut merupakan kejadian yang kedua kalinya. Beberapa waktu lalu, keran boiler yang bocor juga pernah menimbulkan tumpahan oli. “Kebetulan kemarin itu hujan deras, kejadiannya sekitar jam 22.00. Karena hujan semalam suntuk, jadi olinya meluap ke saluran air,” katanya.

Wahyu menekankan, perusahaan siap bertanggung jawab secara sosial maupun lingkungan atas tumpahan oli tersebut. Saat ini perusahaan sedang mengkalkulasikan dan memusyawarahkan bentuk pertanggungjawabannya. “Dari awal sudah kami nyatakan kepada masyarakat, bahwa kami akan bertanggung jawab. Jadi akan ada penggantian,” ujarnya.

(Wis)

%d blogger menyukai ini: