Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News, Video Abu Tholut, Guru Imam Samudra yang Kini Suarakan Nasionalisme dan Lawan Terorisme

Abu Tholut, Guru Imam Samudra yang Kini Suarakan Nasionalisme dan Lawan Terorisme

Abu Tholut dalam seminar kebangsaan di Gedung NU Kudus. Foto: Ahmad Rosyidi

 

Sketsanews.com, Kudus – Sebuah gedung berlantai dua di tepi Jalan Pramuka nomor 20, Desa Mlati Lor, Kota Kudus, tampak dipadati puluhan orang. Suara tepuk tangan terdengar saat seorang narasumber memberi pemaparan dalam acara Sarasehan Kebangsaan. Narasumber tersebut yakni Imron Byhaqi alias Abu Tholut, seorang mantantan teroris. Guru Imam Samudra itu kini banyak memberikan ceramah tentang nasionalisme dan mengecam aksi teror.

“Imam Samudra itu murid saya, mungkin dia tidur waktu mata pelajaran saya dulu, jadi dia meneror bangsa sendiri,” kata Abu Tholut yang kemudian diikuti tepuk tangan dan tawa peserta yang sebagian besar kader Nahdhatul Ulama (NU).

Dalam acara Sarasehan Kebangsaan yang diselenggarakan Ikatan Pelajar Nahdhatul Ulama (IPNU) PC Kudus, dan Ikatan Pelajar Putri Nahdhatul Ulama (IPPNU) PC Kudus itu, pria berjenggot panjang tersebut mengungkapkan, dirinya pernah beberapa kali selamat dari maut. Sejak 2014 dia keluar dari kelompok garis keras dan memilih untuk independen. Dia juga menjelaskan, sudah menjadi narasumber di 17 Kabupaten, menyuarakan tentang nasionalisme dan melarang terorisme.

“Saya bergabung dengan Jamaah Islamiah tahun 1985. Karena di Indonesia saat itu semua dibungkam, saya mau saja diajak Ustad Abdullah Sungkar ke Afganistan. Semua lini sudah pernah saya coba, termasuk medan pertempuran. Beberapa kali saya hampir mati, Alhamdulillah saya masih selamat. Allah belum menghendaki saya meninggal,” terang Abu Tholut dalam acara bertema “Ideologi Transnasional VS Pancasila dalam Kehidupan Berbangsa dan Bernegara”.

Pada 2009 dia keluar dari Jamaah Islamiyah (JI) yang dipimpin Abdullah Sungkar. Dia kemudian bergabung dengan Jamaah Anshrut Tauhid (JAT), karena diajak langsung oleh Abu Bakar Ba’asyir saat bertemu di Kudus. Dia kemudian keluar dari JAT pada tahun 2014, saat JAT menyatakan bergabung dengan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS).

“Saya keluar karena saya tidak mau bergabung dengan ISIS tahun 2014. Teman-teman saya yang tidak mau bergabung dengan ISIS juga banyak, mereka mendirikan kelompok baru. Tapi saya memilih untuk independen, jadi saya bisa berbaur dengan semua golongan,” ungkap pria kelahiran Semarang itu.

Menurutnya, masyarakat perlu menjaga kehormatan agama, bangsa, dan kehormatan orang lain. Jadi harus menjunjung tinggi rasa kemanusiaan, tidak boleh merenggut hak untuk hidup orang lain. “Bangsa kita kan sudah tidak seperti pada tahun 1985, semua dibungkam tidak bisa bersuara. Jadi tidak perlu lagi ada teror, bom, dan sebagainya. Kita sudah bisa bebas berpendapat sekarang,” tambah warga Desa Bae, Kecamatan Bae, Kudus itu.

Dikutip dari laman SeputarKudus, Abu Tholut juga menjawab pertanyaan satu di antara puluhan peserta tentang cara recruitment jamaah tersebut. Yang pertama memunculkan rasa simpati, yang kedua memunculkan rasa untuk membela, dan terakhir baru keyakinan. “Kalau sudah simpati, ingin membela, dan seiman, pasti tertarik untuk bergabung,” jelasnya.

(Wis)

  • Hairusa

    Oh ini to… Abu Tholut itu? Sudah sepuh. Dapet pekerjaan baru dari BNPT

%d blogger menyukai ini: