Sketsa News
Home Berita Terkini, Citizen-Jurnalism, News Ahli Hukum Nilai Pemberitaan Okezone dengan menyebut “Ketika Terdakwa Penista Salami Raja Salman” Sesuai Fakta

Ahli Hukum Nilai Pemberitaan Okezone dengan menyebut “Ketika Terdakwa Penista Salami Raja Salman” Sesuai Fakta

Sketsanews.com – Ahli hukum pidana, Suparji Ahmad menyatakan pemberitaan Okezone terkait Ahok bersalaman dengan Raja Salman sudah sesuai fakta, bukan fitnah.

Hal tersebut ia katakan melihat teguran yang diberikan Dewan Pers untuk media pemberitaan online Okezone.com.

Surat teguran Dewan Pers tertanggal 13 Maret 2017 terkait berita Okezone yang berjudul ‘Ketika terdakwa Penista Agama Salami Raja Salman di Bandara’ yang viral di media sosial | Foto Twitter

Suparji menjelaskan bahwa media bebas menyampaikan pendapat selagi berada di koridor bukti dan sesuai fakta. Oleh karena itu ia mengaku tidak mempermasalahkan judul berita.

“Tetapi kebebasan harus profesional. Semua harus fakta harus profesional,” ujarnya, Sabtu (18/3/2017).

Dia melihat pemberitaan Okezone tidak ada masalah karena sesuai fakta. “Ya ga ada, wong itu sesuai fakta. Yang penting kan apa yang diberitakan itu sesuai fakta, bukan fitnah, tidak mengada-ngada. Kan kalau baik ga baik itu sesuai selera,” paparnya.

Terpisah Pengamat Komunikasi Politik Hendri Satrio menegaskan judul berita yang dibuat Okezone memang sesuai dengan fakta bahwa Gubernur noaktif DKI Jakarta Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) saat ini sedang menjadi terdakwa dalam kasus penodaan agama.

“Pendapat saya tidak ada yang salah dengan judul terdakwa penista agama, karena memang demikian adanya,” kata Hendri kepada Okezone, Sabtu (18/3/2017).

Dosen Universitas Paramadina itu juga berpendapat, Dewan Pers harusnya tidak punya mekanisme memperingatkan media. Sejauh perjalanan Republik Indonesia, kata Hendri, hanya ada satu rezim yang pernah melakukan teguran, seperti yang dilakukan Dewan Pers seperti saat ini.

“Kok muncul lagi Dewan Pers model begini ini di masa saat ini,” tandas Hendri.

Hendri pun berharap Dewan Pers tidak mundur kembali ke zaman ketika kebebasan pers dikekang oleh penguasa.

 

(in)

 

%d blogger menyukai ini: