Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Hidup Sehat, News Anak dan Remaja Rentan Tuli karena Suara Bising.

Anak dan Remaja Rentan Tuli karena Suara Bising.

Sumber: detik.com      ilustrasi Foto: Rachman Haryanto

Sketsanews.com, Jakarta – Paparan suara bising dapat menyebabkan gangguan pendengaran hingga tuli permanen. Pakar mengatakan anak-anak dan remaja paling rentan mengalami masalah ini.

dr Damayanti Soetjipto SpTHT-KL(K), Ketua Komisi Nasional Penanggulangan Gangguan Pendengaran dan Ketulian (Komnas PGPKT), mengatakan sejatinya, gangguan pendengaran dan ketulian karena bising bisa terjadi pada siapa pun tanpa melihat usia. Namun ada alasan tersendiri mengapa anak-anak dan remaja memiliki risiko paling tinggi.

“Sekarang kan generasi iPod. Ke mana-mana selalu pakai headset atau earphone untuk dengarkan musik. Sampai kita yang di dekatnya saja kadang mendengar suara musiknya, tandanya itu kan volume suaranya keras sekali,” tutur dr Dama kepada wartawan, baru-baru ini.

Dijelaskan dr Dama, anak-anak berisiko tinggi mengalami tuli karena bising setelah pengamatan yang dilakukan oleh Komnas PGPKT. Pengamatan dilakukan di 16 kota besar di arena permainan dan tempat hiburan anak.

Hasil pengamatan menunjukkan rata-rata kebisingan yang terjadi di arena permainan dan tempat hiburan anak mencapai 97-100 desibel. Padahal batas aman desibel adalah di bawah 80 desibel.

“Di arena permainan suaranya keras sekali karena ada berbagai macam permainan tembak-temabakan, dance, balapan dan lain-lain. Ini membuat anak-anak terancam mengalami ketulian sejak dini main di situ lebih dari 30 menit,” tuturnya lagi.

Selain arena bermain anak, bengkel pelatihan di Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) juga memiliki risiko tinggi. Data Komnas PGPKT menunjukkan kebisingan yang ditimbulkan bisa mencapai lebih dari 100 desibel.

Sayangnya, perhatian kepada masalah ini cenderung rendah. Pengamatan Komnas PGPKT di SMK menunjukkan tingkat penggunaan earmuff atau peredam suara di telinga masih sangat rendah.

“Ini harus jadi perhatian karena ketulian dapat menghambat produktivitas hingga mengancam masa depan remaja di Indonesia,” tutupnya, seperti dilansir dari detikcom.

(Fya)

%d blogger menyukai ini: