Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Citizen-Jurnalism, Headlines, News Angin Radikalisme dari Pesantren di Kaki Gunung Salak

Angin Radikalisme dari Pesantren di Kaki Gunung Salak

INVESTIGASI

KOMBATAN CILIK ISIS

Pondok Pesantren Ibnu Mas’ud, Bogor
Foto: Farhan/detikcom

Santri dan guru di Ponpes Ibnu Mas’ud, Bogor, banyak yang menjadi milisi ISIS di Suriah. Hatf Saiful Rasul hanya salah satunya.

Sketsanews.com, Bogor – Sekitar 30 anak mengenakan baju koko, celana panjang, dan peci mengaji di Masjid Ibnu Mas’ud. Mereka adalah santri di Pondok Pesantren Ibnu Mas’ud, yang berada di perkampungan kaki Gunung Salak, tepatnya di Kampung Jami, Desa Sukajaya, Kecamatan Tamansari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Saat detikX mengunjungi ponpes itu pada Rabu, 13 September 2017, pukul 16.00 WIB, sebagian santri lain meriung di dalam kamar. Sebagian besar santri di pondok pesantren ini berumur di bawah 15 tahun. Santri pria memakai celana panjang sampai mata kaki, baju koko, dan peci, sedangkan yang perempuan memakai jilbab dan cadar.

Ponpes Ibnu Mas’ud sempat digeruduk massa setelah seorang ustaznya (guru) membakar umbul-umbul Merah-Putih pada saat peringatan HUT RI pada 17 Agustus 2017. Guna meredam amarah massa, pihak pesantren, Kepala Desa Sukajaya, dan sejumlah pejabat Muspida Kabupaten Bogor pun berkumpul. Saat itu disepakati perjanjian bahwa ponpes bakal ditutup. Ponpes diberi batas waktu sampai sebulan atau 17 September 2017 untuk angkat kaki dari Kampung Jami.

Warga marah karena Ponpes Ibnu Mas’ud dinilai tak menghormati simbol dan bendera Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ponpes ini tergolong baru, didirikan pada 2012. Namun, sejak 2016, ponpes ini sering didatangi pasukan Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri terkait aksi terorisme di sejumlah tempat.

Nama ponpes ini menyeruak pertama kali ketika aparat Densus 88 melakukan penggeledahan pascaserangan bom di Sarinah, Jalan MH Thamrin, Jakarta, pertengahan Januari 2016. Salah satu pelaku bom yang tewas, Sunakim alis Afif, disebut pernah berada lama di ponpes ini. Polisi juga sempat menggeledah kontrakan dan istri Afif di Tamansari.

Satu bulan kemudian, 19 Februari 2016, empat warga negara Indonesia ditangkap polisi Singapura di Bandara Changi. Mereka adalah Muhammad Mufid Murtadno, 15 tahun, kelahiran Jakarta; Untung Sugema Mardjuk (49), kelahiran Jakarta; Mukhlis Khoitur Rofiq (23), kelahiran Bekasi; dan Risno (28), kelahiran Purbalingga. Keempatnya diketahui berasal dari Ponpes Ibnu Mas’ud yang akan berangkat menuju Suriah.

Sementara itu, mengutip Reuters, sedikitnya 12 orang dari ponpes itu telah terbang ke Timur Tengah untuk bertempur bersama Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). Mereka diketahui berangkat dalam kurun waktu 2013 hingga 2016. Dari 12 orang itu, delapan di antaranya adalah guru dan empat santri.

Dan terakhir, seorang mantan santri ponpes itu, Hatf Saiful Rasul, tewas di Suriah pada 1 September 2016. Hatf baru berusia 12 tahun ketika pergi ke Suriah menjadi kombatan cilik ISIS. Anak terpidana terorisme Poso, Syaiful Anam alias Brekele, itu belajar di Ibnu Mas’ud dua tahun.

“Terkait bagaimana sikap warga menjelang 17 September nanti, saya mah ikut bagaimana desa saja. Tapi bagaimana lagi, emang sudah pegel juga sih lihatnya,” ujar salah seorang warga di sekitar pesantren yang enggan disebutkan namanya kepada detikX.

Diakuinya, warga sudah lama menaruh curiga pesantren itu mengajarkan pemikiran radikal kepada para santrinya. Warga pun melihat ada perbedaan penerapan ibadah agama Islam yang biasa dijalankan di pesantren itu dengan warga sekitar pada umumnya.

Para santri membaca Alquran di masjid pondok pensantren.
Foto: Farhan/detikcom

Jumadi, salah seorang pengurus Ponpes Ibnu Mas’ud, membantah anggapan bahwa pihaknya mengajarkan pemikiran radikal kepada santri. Ia mengaku bingung terhadap isu yang diembuskan pihak lain. “Yang menurut kami benar belum tentu menurut pemilik kekuasaan benar. Soal Pancasila, (kami) memang tidak mengajarkan, karena di sini belajar Alquran,” kata Jumadi, yang ditemui detikX, Rabu, 13 September 2017.

Jumadi menerangkan sistem pendidikan di pesantrennya lebih mengutamakan pendidikan Alquran, yang dikenal dengan nama tahfiz Alquran atau menghafal Alquran. Para santri mulai beraktivitas pukul 03.00 WIB melaksanakan qiyamul lail (salat malam), salat subuh, dilanjutkan setoran hafalan Alquran sampai pukul 07.00 WIB.

Setelah itu, sampai siang dilaksanakan pemberian motivasi untuk para santri, mengaji kembali sampai menghafal Alquran setelah salat asar. “Pendidikan selain menghafal Alquran ada. Kita ajarkan hadis-hadis. Bahwa ada larangan itu berdasarkan hadis juga,” terang Jumadi.

Ponpes Ibnu Mas’ud dipimpin oleh Mahyadi. Saat itu pesantren menempati lahan seluas 1.900 meter persegi dengan satu bangunan seadanya. Jumlah santri 25 orang dengan 10 ustaz. Sejak banyak donator, lahan ponpes bertambah menjadi 3.000 meter persegi. Bangunan bertambah menjadi tiga plus masjid serta gedung koperasi dan satpam.

Pada tahun ini, tercatat sudah ada 250 santri dengan 40 ustaz. Para santri berasal dari Jabodetabek, Sulawesi, Kalimantan, Sumatera, dan Jawa. Ponpes ini berada di bawah naungan Yayasan Al-Urwatul Wutsqo, yang dipimpin oleh Agus Purwoko. Agus merupakan alumnus sebuah perguruan tinggi di Libya.

Suasana di Pondok Pesantren Ibnu Mas’ud, Bogor
Foto: Farhan/detikcom

Yayasan Urwatul Wutsqo berdiri pada 2007 dan bergerak di bidang sosial. Agus Purwoko, Mahyadi, Jumadi, bersama delapan orang lainnya merasa terpanggil melihat kaum duafa dan yatim-piatu. Sebelumnya, yayasan ini beralamat di Depok, lalu pindah ke Babelan, Bekasi, dan pindah lagi ke Cimanggu, Kota Bogor.

Bila sampai saat ini pesantren belum tutup, Jumadi mengatakan bukan berarti hal itu bentuk perlawanan terhadap aparat hukum. Pesantren dan yayasan berharap ada penjelasan yang lebih gamblang soal masalah yang tengah muncul ini. “Kita pasrah, kita pasrah. Mau bagaimana lagi? Tapi, kalau Pak Agus (Ketua Yayasan Al-Urwatul Wutsqo) sendiri berkeinginan tetap bertahan di sini, tapi bukan berarti melawan. Kalaupun harus dibubarkan, ya jelaskan masalahnya,” ucap Jumadi.

Ia mengaku pascapembakaran umbul-umbul, ponpes terpaksa menandatangani perjanjian pembubaran karena merasa tertekan oleh arogansi pihak yang ingin membubarkan pesantren. Santrinya banyak yang kecewa terhadap tekanan massa yang meneriakkan NKRI tapi sikapnya seperti itu. “Kita disuruh bangga terhadap NKRI, tapi mereka bersikap seperti itu. Lalu apa yang mau dibanggakan? Saya sesalkan, kenapa seperti itu,” ujarnya.

Jumadi hanya mengatakan, bila sampai pembubaran terjadi, anak yang menjadi santri akan dipulangkan terlebih dahulu kepada orang tua masing-masing. Namun, menjelang batas perjanjian untuk penutupan, pihak Ponpes Ibnu Mas’ud masih melanjutkan proyek pembangun gedung yang tengah dikerjakan 10 orang.

Direktur Eksekutif Amnesty International Usman Hamid
Foto: Ari Saputra/detikcom

“Masih, pembangunan masih berlanjut. Itu sedang bangun blok untuk santri perempuan. Tidak ada persiapan apa-apa, tidak ada persiapan khusus.”

Sementara itu, Agus Purwoko meminta bantuan kepada LBH Jakarta dan Amnesty International terkait penutupan paksa Ponpes Ibnu Mas’ud oleh masyarakat dan muspida setempat. Aktivis HAM pun menyuarakan keprihatinan atas sikap kepolisian yang mudah didikte oleh tekanan massa, yang berpotensi menghasilkan pelanggaran HAM terhadap kelompok minoritas.

“Penutupan suatu pondok pesantren ataupun sebuah badan hukum haruslah berdasarkan hukum dan tunduk pada prinsip HAM,” kata Usman Hamid dari Amnesty International dalam keterangan pers bersama LBH Jakarta dan Pusat Bantuan Hukum Dompet Dhuafa di Jakarta, Kamis, 4 September 2017. (Wis/X.detik)

%d blogger menyukai ini: