Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Editorial, Headlines, News Aqil Pendukung Kebangkitan Neo Komunis Indonesia

Aqil Pendukung Kebangkitan Neo Komunis Indonesia


Sketsanews.com, Jakarta – Isu bangkitnya Komunis Gaya Baru Indonesia semakin menghangatkan suasana perpolitikan Indonesia.

Sebagaimana yang beredar di beberapa media bahwa kebangkitan Partai Komunis Indonesia merupakan dampak buruk dari kampanye Jokowi dalam pemilihan calon presiden 2014 yang lalu.

Isu kebangkitan Partai Komunis Indonesia pun menuai pro dan kontra, baik dari golongan awam sampai tokoh masyarakat negeri ini.

Bagi kelompok yang meyakini akan bangkitnya kembali ideologi komunis, mereka bersikap waspada karena itu merupakan bahaya laten yang sewaktu-waktu bisa muncul.

Apalagi dalam waktu akhir-akhir ini dengan munculnya simbol-simbol PKI dan kasus terakhir yakni seminar pro PKI menjadikan mereka semakin yakin akan kebangkitan Partai Komunis Indonesia.

Namun bagi mereka yang menolak akan bangkitnya Partai Komunis Indonesia, mengatakan bahwa isu ramainya PKI tahun ini berhubungan dengan tahun politik pada 2019.

Seperti yang diungkapkan oleh ketua PBNU Said Agil Siradj. Menurutnya isu yang terkait dengan Partai Komunis Indonesia (PKI) selalu mencuat ke permukaan setiap tahun terkhusus pada saat-saat mendekati puncak kejadian pada 30 September. Tetapi ia menilai, isu ramainya PKI pada tahun ini sangat erat kaitannya dengan tahun politik yang akan diselaksanakan pada 2019 mendatang.

“Setiap tahun, isu PKI pasti ramai. Jadi Presiden Jokowi dituduh PKI. Tapi tahun ini ramai karena tahun politik 2019. Ada hubungan dong pasti,” kata Said saat ditemui di kantor PBNU, Jalan Kramat Raya, Senen, Jakarta Pusat, Jumat (22/9/2017).

Selain itu menurutnya juga bahwa PKI sudah hancur sejak lama. Sebaiknya hal itu dijadikan bahan pembelajaran saja.

“Kita lebih baik berusaha agar negara ini semakin baik dan damai ke depannya,” ungkap dia.

Saat ditanya soal adanya insiden penyerangan kantor Yayasan Lembaga Bantuan Hukum (YLBHI) lantaran adanya isu PKI, Said mengecamnya.

“Tidak boleh seperti itu. Tak boleh kita main hakim sendiri,” tambahnya.

Pertanyaan yang ada dalam benak kita ada apa dengan tokoh nomor satu di organisasi Islam terbesar di Indonesia.

Apakah dia lupa akan kekejaman PKI terhadap nenek moyangnya. Alangkah ironisnya seorang lulusan Ummul Quro namun tidak mampu memahami sejarah kelam yang dialami oleh umat Islam.

Pembangkangan dan Pemberontakan Komunis setelah disahkannya Falsafah Negara yang Pancasila dan UUD 45 nya itu terjadi di berbagai tempat di Indonesia salah satunya di Cirebon.

Sebelum terjadi peristiwa pemberontakan PKI di Madiun tahun 1948, PKI ternyata lebih dulu melakukan Pemberontakan di Cirebon kejadian tersebut terjadi pada 12 Februari 1946. Adapun pembentukan Cabang PKI Cirebon sendiri terjadi pada 7 November 1945, sedangkan yang menjadi ketuanya adalah Mohamad Joesoef dan Suprapto. Meskipun demikian Cabang PKI Cirebon ini tidak diakui oleh Orang-orang komunis yang berhaluan moderat ( Yang Menyetujui Pancasila/Yang Telah menjadi Nasionalis Agamis).

PKI Cirebon pimpinan Mohamad Joesoef dan Suprapto mendatangkan Laskar (tentara) Merah PKI dari Jawa Tengah dalam upaya melakukan kudeta lokal di Cirebon, para Laskar Merah PKI tersebut tiba di Stasiun Kereta Api Cirebon pada 9 Februari 1946 dengan bersenjata lengkap, dan pada 12 Februari 1946 menginap di Hotel Ribrink, berlokasi persis sebelah utara alun-alun Kejaksan hotel ini kemudian dijadikan markas PKI Cirebon.

Apakah sejarah tanah kelahirannya dilupakan. Namun yang sangat disayangkan adalah dia begitu bencinya kepada orang Islam. Hal ini dibuktikan tatkala beberapa ormas Islam melakukan aksi damai menuntut si penista agama di penjara.

Ketua Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (PBNU), KH. Said Aqil Siradj mengatakan bahwa sholat Jumat yang dilakukan pada aksi 212 silam tidak sah. Menurutnya, peserta 212 bukan murni berniat sholat Jumat.

“Wallahi sholat jumat di Monas itu tidak sah, niatnya bukan sholat,” katanya saat peluncuran buku ‘Miqat Kebhinekaan’ di Gedung PBNU Pusat, Jakarta pada Jumat (09/06).

Sebaliknya, ia menyebutkan bahwa aksi bela Islam 2 Desember 2016 bertujuan untuk menggulingkan pemerintahan.

Kesimpulan

1. Sang DR. Lulusan Ummul Quro ini tidak bisa membedakan siapa kawan dan siapa lawan, buktinya dia membela dan mempertahankan kelompok yang sudah membantai habis saudaranya dan memusuhi saudaranya yang berusaha menuntut keadilan.

2. Bisa jadi cara pandang dan pola pikirnya sudah ada bibit Komunis.

(jp)

%d blogger menyukai ini: