Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Hidup Sehat, News Babi, Penyebar Bakteri Meningitis Pada Manusia

Babi, Penyebar Bakteri Meningitis Pada Manusia

foto :Tribun Bali/Prima/Dwi S

Sketsanews.com, Jakarta – Selama beberapa tahun terakhir, penularan infeksi bakteri ini pada manusia mengalami peningkatan secara signifikan terutama pada wilayah Asia Tenggara, yang mana dianggap sebagai penyakit endemik karena terdapat populasi babi dalam jumlah yang sangat banyak. Dokter Spesialis Saraf RS Evasari Awalbros , Dr. Lilir Amalini, Sp.S mengatakan meningitis adalah adalah peradangan selaput otak atau meninges.

Penyebabnya bermacam-macam biss bakteri, jamur, virus atau yang lain. Meningitis babi adalah salah satu jenis meningitis yang disebabkan bakteri gram positif, meningitis streptococcus suis (MSS) yang penularannya dari babi ke manusia. “Sama seperti meningitis yang lain. Adanya demam/riwayatdemam, perubahan kesadaran, kaku kuduk (nyeripadatengkuk), sakit kepala dan sering menimbulkan tuli saraf,” ujar Lilir.

Dampaknya bagi tubuh, lanjut Lilir, yang paling sering tuli, lainnya seperti syokseptik, arthritis (radang sendi), pneumonia (radangparu), endocarditis (penyakitjantung), endophthalmitis (infeksimata), dan peritonitis bacterial (radangperut) hingga kematian. Meskipun tingkat kematian dari penyakit ini bisa tinggi, bervariasi dari 7%-30%, infeksi dapat dicegah dengan mengobati luka lecet dengan segera, memakai sarung tangan saat menangani daging babi, sepatu boot, cuci tangan dengan teknik yang benar dan memasak daging sampai benar-benar matang.

Mengenal Meningitis Babi yang Menyerang Manusia

Pertolongan harus diberikan dengan segera mengingat cepatnya progesivitas penyakit hanya dalam beberapa hari pasien dapat koma. Jika ada tanda-tanda tersebut dan ada riwayat kontak atau makan daging babi, penderita harus dibawa ke dokter untuk pemeriksaan fisik, neurologis dan laboratorium, dan jika positif harus segera diterapi dengan antibiotik yang sesuai.

Penanganan pasien tergantung dari daya tahan tubuh, seberapa cepat terdeteksi dan cepatnya penanganan yang sesuai. “Pemberian antibiotik sendiri sekitar 14 hari dan dapat disertai dengan pemberian terapi kortikosteroid. Pasien dapat sembuh total atau meninggalkan gejala sisa seperti gangguan pendengaran. Namun bila terlambat berisiko kematian terjadi antara 7-30%,” terangnya, seperti dilansir dari laman majalahkartini.

(Fya)

%d blogger menyukai ini: