Sketsa News
Home Berita Terkini, News Becermin dari Solo, Waspadai “Lone Wolf” ISIS

Becermin dari Solo, Waspadai “Lone Wolf” ISIS

Sketsanews.com – Berdasarkan tes sidik jari, aparat keamanan dan intelijen memastikan bahwa inisial N, pelaku serangan teror tunggal di Markas Polresta Solo adalah Nur Rohman.

DSC_7460-640x425

Hasil tes fisik pertama itu masih akan disempurnakan lagi dengan tes asam deoksiribonukleat (DNA) untuk mengetahui informasi genetikanya.

Petunjuk awal, yakni sidik jari, sudah cukup untuk memastikan pelaku adalah Nur Rohman, warga Kelurahan Sangkrah, Kecamatan Pasar Kliwon, Solo.

Dari petinggi kepolisian, lembaga antiteror, dan intelijen negara, kita mengetahui bahwa pria kelahiran 1 November 1985 itu adalah anggota jaringan Jamaah Anshar Daulah Khilafah Nusantara (JAKDN), pimpinan Arif Hidayatullah alis Abu Musaf di Bekasi.

Nur Rohman pun terkait dengan kelompok Bahrun Naim yang menjadi dalang serangan teror di Sarinah, Jakarta Pusat, 14 Januari 2016, yang menewaskan empat warga sipil.

Serangan ke Sarinah ketika itu diklaim oleh kelompok yang menamakan dirinya kekhalifahan Negara Islam di Irak dan Suriah (ISIS), yang berpusat di Raqqa, Suriah.

Terkait dengan serangan di Solo, dugaan sementara, Nur Rohman dilaporkan merakit sendiri bom-nya. Kemampuan itu didapatnya dari internet dan video tutorial.

Aparat kemanan dan intelinjen belum menemukan rekam jejak atau petunjuk apakah Nur Rohman pernah mengikuti pelatihan militer.

Pelaku tunggal

Kepala Polri Jenderal Badrodin Haiti mengatakan,  berdasarkan hasil penelusuran sementara, Nur Rohman diduga merupakan ‘pelaku tunggal’, seperti dilaporkan Kompas.com, Rabu (6/7/2017).

“Teror di Solo juga terkait intrik ISIS di Suriah untuk melakukan teror saat Ramadhon,” kata Badrodin, seperti dirilis Kompas.com, Selasa (5/7/2016).

Serangan oleh ‘pelaku tunggal’ belakangan ini memang terasa meningkat di berbagai negara, terutama di Irak, Suriah, Yaman, dan Libya.

‘Pelaku tunggal’ juga mulai menjalar ke luar kawasan tersebut, seperti di Turki, Banglades, dan Arab Saudi, lalu di negara tetangga terdekat kita, Malaysia, pada 28 Juni, dan akhirnya di Solo.

Mengapa ISIS memilih melakukan serangan oleh pelaku tunggal?  Untuk menjawab pertanyaan ini ada baiknya kita terlebih dahulu memahami sebuah kajian tentang strategi militansi ISIS.

Sejak koalisi Amerika Serikat, yang melibatkan belasan negara, melakukan intervensi militer di Suriah pada September 2014, dan koalisi empat negara yang dipimpin Rusia (koalisi RSII) pada September 2015, ISIS masih tetap bertaring.

Raqqa masih tetap sulit ditembusi koalisi hingga kini. Setiap ada usaha untuk mendekati pusat kekhalifahan ISIS itu, selalu ada penghadangan yang kuat dari kelompok garis keras itu.

Tiga pekan lalu, ISIS melancarkan serangan balik menyusul gempuran pasukan Suriah ke Raqqa hingga menewaskan 40 tentara Suriah.

ISIS masih tetap kuat. ISIS malah menunjukkan ketahanan yang mengejutkan meski telah puluhan ribu kali koalisi AS melakukan serangan udara, begitu juga serangan udara koalisi Rusia.

Sebuah analisis yang mengupas strategi militer ISIS mungkin dapat membantu untuk menjelaskan alasan mengapa ISIS masih kuat.

Dalam majalah propaganda ISIS, Dabiq edisi November 2014, seperti dilaporkan BBC News, inti strategi kelompok teror ini adalah konsep “bertahan dan berkembang (remaining and expanding)”.

Dengan mempraktikkan teori itu, ISIS dapat bertahan di lokasi yang disebut pusat kekhalifahan mereka di Raqqa, Suriah, sejak 2014 dan Mosul, kota besar kedua di Irak, sejak 10 June 2014.

Lingkaran geografis

Untuk bisa berkembang lebih jauh, ISIS telah membagi dunia menjadi tiga bagian.

The Institute for the Study of War (ISW), lembaga intelijen yang berbasis Washington DC, AS, mengistilahkan pembagian itu dengan ‘tiga lingkaran geografis (three geographic rings)’.

Lingkaran paling dalam ialah di Irak dan al-Sham (Suriah). Lingkaran kedua ialah Timur Tengah dan Afrika Utara. Lingkaran terluar ialah Eropa, Asia, dan Amerika Serikat.

Dalam situs internal ISW, UnderstandingWar.org, para analis memperluas lingkaran terdalam dengan memasukkan Jordania, Lebanon, Palestina, dan Sinai di Mesir sebagai core terrain ISIS.

Menurut ISW, setiap lingkaran harus dikuasai menggunakan tiga strategi militer, yakni perang konvensional, gerilya, dan serangan teror. Ketiganya digunakan secara efektif di lingkaran terdalam.

Di lingkaran kedua, dampak perang konvensional dan gerilya sudah mulai dirasakan.

Contohnya, sejumlah serangan ke militer dan polisi di Sinai dan penguasaan beberapa kota di Libya, termasuk sempat menguasai Sirte, kota kelahiran mantan orang kuat Moammar Khadafy.

Para pelaku solo atau lone wolf telah membawa strategi teror ke lingkaran terluar, seperti pernah terjadi di Australia, AS, Kanada, Banglades, Belgia, Perancis, dan kini di Indonesia.

Tentang serangan selama Ramadhan sebenarnya sudah diingatkan para analis ISW dalam laporannya bertajuk ISIS Forecast: Ramadan 2016, bahwa ISIS akan meningkatkan serangan di berbagai negara.

Serangan bom mobil bunuh diri tunggal  oleh ISIS paling buruk selama Ramadhan terjadi di Baghdad, Minggu (3/7/2016), yang menewaskan 213 orang.

Sebelumnya oleh pelaku tunggal yang telah berbaiat kepada ISIS, Omar Mateen (29) di  Orlando, AS – yang juga diklaim ISIS, tetap ditepis oleh Presiden Barack Obama.

Jangan kecolongan

Peristiwa terbaru di Solo, menyadarkan kita akan bahaya lone wolf itu, yang merujuk pada serangan oleh individu para pengikut ISIS.

Di beberapa negara, pelaku tunggal bisa saja mereka yang baru pulang setelah menjalani misi ISIS di Irak dan Suriah. Di Indonesia, ratusan WNI pergi ke Suriah untuk berjuang dengan ISIS.

Selain itu, pelaku tunggal bisa saja simpatisan yang berbaiat dengan ISIS dan belum pernah ke luar negeri untuk berjuang bersama ISIS di Irak dan Suriah. Contohnya, Omar Mateen di Orlando, dan Nur Rohman di Solo.Aparat keamanan Indonesia mesti mewaspadai serangan teror oleh pelaku tunggal ini karena kita tidak tahu ada berapa WNI yang berjuang dengan ISIS di Suriah telah pulang ke Tanah Air.

Juga karena setelah serangan mematikan di Bandara Ataturk, Istanbul, Turki, 28 Juni, ISIS telah merilis peta “sel-sel tidur” mereka di seluruh dunia,

Serangan di Solo, seperti juga terjadi di berapa kota di negara lain, termasuk di Arab Saudi, Senin (4/7/2016), kembali mengingatkan kita untuk selalu waspada terhadap “sel-sel tidur” ISIS itu.

Dari “sel-sel tidur” itu bisa muncul para pelaku tunggal yang melakukan serangan teror mematikan.  Mari kita tingkatkan kewaspadaan agar tidak kecolongan.(Dan/Kompas)

%d blogger menyukai ini: