Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Editorial, Headlines, News Benarkah Konflik Rohingya bagian Genosida

Benarkah Konflik Rohingya bagian Genosida

Penduduk etnis Rohingya terpaksa mengungsi setelah pecah konflik lagi di Myanmar.

Sketsanews.com, Jakarta – Konflik Rohingya yang telah menjadi masalah internasional ini mulai mendapat rasa simpati dari berbagai negara.

Selain itu, beberapa pemimpin dunia menyatakan bahwa pembantaian yang terjadi di Rakhine merupakan Genosida.

Sebagaimana pendapat Presiden Turki Tayyip Erdogan. Dia mengatakan bahwa kematian ratusan orang Rohingya di Myanmar selama seminggu terakhir merupakan genosida (sebuah pembantaian besar-besaran secara sistematis terhadap satu suku bangsa atau kelompok dengan maksud memusnahkan bangsa tersebut) yang ditujukan untuk komunitas Muslim di wilayah tersebut.

Ketua Komnas HAM, Natalius menyebutkan, apa yang dialami etnis Rohingya di Myanmar merupakan genosida yang dilakukan secara masif dan terstruktur. Kondisi ini juga lah yang kini dialami oleh suku asli Papua, yang kini sedang mengalami ancaman genosida dari kelompok yang anti-terhadap ras Melanesia yang merupakan ras asli Papua.

Pertanyaannya adalah benarkah Konflik Rohingya bagian dari Genosida? Untuk bisa menentukan apakah konflik Rohingya merupakan Genosida atau bukan, alangkah baiknya jika kita mengetahui lebih dalam lagi tentang apa itu arti Genosida.

Pada 1944, seorang pengacara Yahudi Polandia bernama Raphael Lemkin (1900-1959) berupaya menggambarkan kebijakan pembantaian sistematis Nazi, termasuk pembinasaan kaum Yahudi Eropa.

Ia membentuk kata “genocide” (genosida) dengan menggabungkan kata geno-, dari bahasa Yunani yang berarti ras atau suku, dengan kata -cide (sida), berasal dari bahasa Latin yang berarti pembantaian.

Kejahatan genosida adalah setiap perbuatan yang dilakukan untuk menghancurkan seluruh / sebagian bangsa, ras, kelompok, etnis dengan cara membunuh yang mengakibatkan penderitaan fisik dan mental yang berat terhadap anggota kelompok. Contoh : Pembantaian suku bangsa Bosnia dan Kroasia di Yugoslavia oleh Serbia antara 1991 – 1996.

Kejahatan terhadap kemanusiaan adalah serangan secara luas atau sistematis yang ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil. Contoh : perbudakan, perampasan, pemerkosaan, pembunuhan, dan lain sebagainya.

Demikian arti dari kata Genosida, sekarang mari kita kilas balik awal mula konflik yang terjadi di Rakhine.

Sejarah mencatat bahwa Burma (Myanmar) pernah dijajah oleh Inggris, sebelum akhirnya dikuasai oleh jepang. Pada masa penjajahan Jepang ini, masyarakat Budha banyak yang menempati posisi strategis di pemerintahan.

Akar Masalah

Kebencian terhadap Rohingya tampaknya berawal dari dukungan Rohingya terhadap Inggris yang mengancam posisi strategis sebagian kaum elit Burma yang mayoritas Budha di zaman penjajahan Jepang.

Setelah kemerdekaan Burma, Rohingya pernah menuntut berdirinya mereka sebagai Negara otonom sendiri. Apalagi Rohingya juga menyuarakan protes terhadap kebijakan pemerintah Burma yang menetapkan Burma sebagai Negara Budha.

Tentu saja di mata pemerintahan Burma (sekarang Myanmar), aktivitas muslim Rohingya dianggap sebagai bibit tindakan pemberontakan.

Ini merupakan bibit kebencian pemerintah Myanmar kepada kaum muslim Rohingya adalah dilandasi oleh faktor ideologi bukan yang lainnya. Dan ini juga yang merupakan faktor pemicu terjadinya konflik yang tidak pernah diblow up oleh media.

Sebagai buktinya sebagaimana yang diungkapkan oleh biksu Wirathu.

“Saya tidak Ingin Myanmar seperti Indonesia, dahulu Budha mayoritas, kini setelah Islam masuk, muslim menjadi mayoritas di Indonesia kekerasan massa Budha terhadap Muslim”.

Wirathu takut Myanmar akan mengikuti jalan seperti Indonesia setelah Islam masuk ke Nusantara pada abad ke-13. Pada akhir abad ke-16, Islam telah menggantikan Hindu dan Buddha sebagai agama dominan di pulau-pulau utama Indonesia.

Karena alasan inilah maka konflik Rohingya bukan merupakan Genosida tersistematis melainkan konflik yang dilandasi oleh perang ideologi.

(Jp)

%d blogger menyukai ini: