Sketsa News
Home News Berdasar Kalender Sultan Agung, Keraton Surakarta Tetapkan Idul Fitri Pada 7 Juli 2016

Berdasar Kalender Sultan Agung, Keraton Surakarta Tetapkan Idul Fitri Pada 7 Juli 2016

Sketsanews.com – Keraton Kasunanan Surakarta memutuskan 1 Syawal 1437 Hijiriah jatuh pada Kamis, 7 Juli 2016, berbeda sehari dengan pemerintah, Muhammadiyah dan Nahdatul Ulama (NU)  yang menetapkan pada tanggal 6 Juli 2016.

Penetapan Idul Fitri sehari setelah tanggal yang ditetapkan pemerintah ini diakui sudah sesuai patokan penanggalan yang dipakai Keraton tersebut. Penanggalan atau almanak yang dipakai adalah Penanggalan Sultan Agung.

1syawal-keraton-surakarta-grebeg-gunungan

“Kami menentapkan penanggalan sesuai dengan kalender Sultan Agung atau kalender Jawa yang sejak dulu memang dipakai oleh Keraton Kasunanan Surakarta sebagai penerus dinasti Mataram Islam,” kata KPA Winarno Kusumo, Wakil Pengangeng Sasono Wilopo Keraton Surakarta, dikutip dari detikcom, Senin (4/7).

kalender Sultan Agung atau kalender Jawa menurut Wikipedia

Kalender Jawa atau Penanggalan Jawa adalah sistem penanggalan yang digunakan oleh Kesultanan Mataram dan berbagai kerajaan pecahannya dan yang mendapat pengaruhnya. Penanggalan ini memiliki keistimewaan karena memadukan sistem penanggalan Islam, sistem Penanggalan Hindu, dan sedikit penanggalan Julian yang merupakan bagian budaya Barat.

Sistem kalender Jawa memakai dua siklus hari: siklus mingguan yang terdiri dari tujuh hari (Ahad sampai Sabtu) dan siklus pekan pancawara yang terdiri dari lima hari pasaran. Pada tahun 1625 Masehi (1547 Saka), Sultan Agung dari Mataram berusaha keras menanamkan agama Islam di Jawa. Salah satu upayanya adalah mengeluarkan dekrit yang mengganti penanggalan Saka yang berbasis perputaran matahari dengan sistem kalender kamariah atau lunar (berbasis perputaran bulan). Uniknya, angka tahun Saka tetap dipakai dan diteruskan, tidak menggunakan perhitungan dari tahun Hijriyah (saat itu 1035 H). Hal ini dilakukan demi asas kesinambungan, sehingga tahun saat itu yang adalah tahun 1547 Saka diteruskan menjadi tahun 1547 Jawa.

Dekrit Sultan Agung berlaku di seluruh wilayah Kesultanan Mataram: seluruh pulau Jawa dan Madura kecuali Banten, Batavia dan Banyuwangi (=Balambangan). Ketiga daerah terakhir ini tidak termasuk wilayah kekuasaan Sultan Agung. Pulau Bali dan Palembang yang mendapatkan pengaruh budaya Jawa, juga tidak ikut mengambil alih kalender karangan Sultan Agung ini.

(in)

%d blogger menyukai ini: