Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News, Politik Berkunjung ke Pesantren, AHY Ditanya Kesiapan Jadi Presiden

Berkunjung ke Pesantren, AHY Ditanya Kesiapan Jadi Presiden

Foto: Wisma Putra/detikcom

Sketsanews.com, Bandung – Komandan Komando Satuan Tugas Bersama (Kogasma) Partai Demokrat (PD), Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menggelar roadshow untuk menyapa warga di 27 kabupaten kota di Jawa Barat.

Pada hari ke tiga road show-nya, Minggu (18/3/2018), AHY mengunjungi Pesantren Yamisa, Kecamatan Soreang, Kabupaten Bandung. Kedatangan putra Presiden RI ke-6 Susilo Bambang Yudhoyono itu disambut oleh ratusan santri.

AHY langsung menyalami para santri dan menyampaikan maksud dan tujuan kedatangannya ke pesantren tersebut di hadapan para santri. Saat memberikan sambutan, AHY langsung dikerumuni para santri.

“Hari ini, hari ketiga saya tour. Saya ingin langsung bertatap muka dengan tokoh masyarakat dan para generasi muda,” kata AHY.

Setelah memberikan sambutan, AHY memberikan kesempatan untuk para santri menyampaikan aspirasinya. Tidak menunggu waktu lama, seorang santri laki-laki bernama Genta langsung mengacungkan tangan.

“Kan dulu bapak bergelut di dunia militer, sekarang masuk ke dunia politik, kenapa? Sedangkan usia bapak masih muda dan karier di dunia militer masih panjang,” ujar Genta bertanya.

“Apakah bapak siap terjun ke dunia politik? Jika bapak menjadi presiden, kan dalam politik mahasiswa banyak yang demo, apakah bapak siap?” tambahnya.

AHY langsung merespons, dan mengapresiasi pertanyaan Genta yang dinilainya cukup bagus. Menurutnya, santri dan santriwati pun dapat terjun dan bergelut di dunia politik.

“Saya mengambil keputusan yang mengagetkan banyak pihak. Tidak ada yang memikirkan saya mengakhiri dunia militer, karena saat itu karir saya cukup cemerlang, saya memutuskan setelah salat istikharah. Semua milik Allah. Saya di tentara izin Allah termasuk saya bergelut di dunia politik atas izin Allah, itu keputusan tidak saya sesali,” ungkapnya.

Ia sangat bersyukur dapat bersilaturahmi dengan para ulama dan santri di Pesantren Yamisa. Menurutnya, tujuan berkunjung ke Pesantren Yamisa, bersilaturahmi dan mendengar berbagai hal atau aspirasi yang disampaikan. “Menarik, anak-anak muda kita semakin kritis, ini perlu kita apresiasi artinya mereka selalu mencari tahu dan menanyakan secara rasional. Pertanyaan mereka tadi sangat rasional,” jelasnya.

Ia juga mengaku tertantang saat santri menanyakan terkait konsekuensi jika menjadi presiden. “Tadi juga ada pertanyaan dari seorang santri yang menurut saya luar biasa, di usia yang masih belia, mungkin umurnya 15 tahun, mengatakan kami di sini siap membela NKRI sampai mati, sampai mati, umur 15 tahun berbicara itu. Itu menurut saya luar biasa,” ujarnya.

Ia mengajak kepada generasi muda supaya tidak skeptis dan apatis terhadap politik, karena negara ditentukan oleh eksekutif, legislatif, yudikatif dan dibentuk oleh politik.

“Inilah demokrasi kita, jangan takut didemo. Dengarkan aspirasinya. Karena masa depan kita, masa depan adik-adik, yang menentukan kita sendiri. Itulah realita demokrasi, jika ada masyarakat yang ingin menyampaikan suara harus didengarkan oleh pemimpin. Harus dipelajari dan diberi solusi yang terbaik,” pungkasnya. Dikutip dari detikcom.

(Eni)

%d blogger menyukai ini: