Sketsa News
Home Berita Terkini, Headlines, News, Opini Bom Bunuh Diri Solo dan Teori Balon Kelompok Radikal

Bom Bunuh Diri Solo dan Teori Balon Kelompok Radikal

Sketsanews.com – Selasa pagi, 5 Juli 2016,  Indonesia dikejutkan dengan aksi bom bunuh diri di Mapolresta Surakarta Jawa Tengah. Pelaku bom bunuh diri tewas dan seorang anggota polisi Bripka Bambang Adi Cahyanto terluka saat mencegah aksi bom bunuh diri tersebut.

Bom di Polresta Solo. ©2016 merdeka.com/istimewa
Bom di Polresta Solo. ©2016 merdeka.com/istimewa

Pelaku diduga bernama Nur Rohman, salah satu jaringan Bahrun Naim, yang saat ini terindikasi ada di Suriah, dan Arif Hidayatullah (Abu Musab), yang telah ditangkap Densus 88 Anti Teror pada 23 Desember 2015 yang lalu. Nur Rohman adalah salah satu orang yang lolos dalam penangkapan tersebut. Nur Rohman, Arif Hidayatullah dan Bahrun Naim satu kelompok di JADKN (Jamaah Ansarut Daulah Khilafah Nusantara).

Arif Hidayatullah (Abu Musab) sekarang dalam pengawasan ketat dan ditahan di tahanan Markas Brimob Kelapa Dua Depok. Nur Rohman dalam menjalankan aksi bom bunuh diri diduga mendapat instruksi langsung dari Bahrun Naim. Instruksi dilakukan dengan menggunakan aplikasi pengirim pesan berbasis web bernama Telegram.

Bahrun Naim, Arif Hidayatullah dan Nur Rohman mempunyai ikatan kuat. Hal ini juga menunjukkan bahwa antara  bom Thamrin dan bom bunuh diri di Solo ini mempunyai hubungan kuat. Penyidikan polisi tentang alur komunikasi, keuangan, dan material yang digunakan sebagai bom akan membuktikan hubungan tersebut.

Bom bunuh diri di Solo diperkirakan ada kaitan dengan aksi bunuh di Bagdad, Madina, Jedah, Dhaka, Istanbul dan tempat lainnya yang terjadi selama bulan suci ramadhan. Hal ini dipicu oleh perintah dari petinggi ISIS, Abu Muhamad Al Adnani (juru bicara),   kepada simpatisannya untuk melakukan aksi pada bulan ramadhan.

Aksi teror ISIS selama bulan ramadhan diduga tidak ada hubungan dengan ramadhan itu sendiri, namun aksi ini adalah implikasi dari teori balon. Terdesaknya ISIS di Suriah membuat kelompok ISIS tercerai berai.

Untuk dapat menjaga moral para simpatisan dan demi kepentingan ideologis (dan ekonomis) tentu perlu menjaga eksistensi kelompok. Salah satunya adalah melakukan aksi bunuh diri dan tentu saja bukan di Suriah. Teori balon sedang terjadi, ISIS ditekan di Suriah dan dampaknya akan mengembang di tempat lain.

Dalam skala nasional, teori balon juga terjadi di Indonesia. Kelompok radikal yang terkonsentrasi di Poso terdesak oleh operasi gabungan Polri dan TNI. Kelompok ini menyingkir ke Bima, namun tetap dikejar. Akhirnya kelompok radikal ini menyebar ke berbagai daerah termasuk Surabaya dan terkahir di Surakarta yang telah melakukan aksi bom bunuh diri.

Terorisme Musuh Bersama

Supaya tidak terjadi teori balon dalam mencegah dan menanggulangi terorisme maka diperlukan suatu upaya terpadu secara bersamaan oleh berbagai kalangan, tidak hanya pemerintah tetapi juga masyarakat. Upaya bersama antara pemerintah dan masyarakat secara simultan akan mencegah teori balon terjadi.

Pemerintah perlu melakukan banyak hal terutama dalam pencegahan terorisme. Aksi bom bunuh diri dan aksi perlawanan terhadap teroris dengan hard approach justru akan semakin melambungkan nama teroris. Bahkan hal ini juga bisa menimbulkan simpati kepada pelaku teror dan menambah jumlah simpatisan. Terorisme harus ditangani dengan pencegahan sejak dini.

Pencegahan terorisme memerlukan suatu kinerja intelijen yang kuat. Aparat intelijen perlu ditingkatkan kemampuannya sehingga mampu memberikan peringatan dini dan deteksi dini atas bahaya terorisme. Dari peringatan dini dan deteksi dini ini maka dapat dilakukan langkah-langkah deradikalisasi untuk mencegah aksi radikal dan teror terjadi di masyarakat.

Radar Sosial Masyarakat

Secara umum masyarakat dapat menjadi ujung tombak dalam mencegah terorisme. Teror terjadi karena adanya paham radikal, dan paham radikal dapat mendarah daging karena diawali dengan adanya narasi radikal.

Penyampaian narasi radikal ini biasanya dilakukan oleh orang dekat atau orang yang dipercaya seperti keluarga, senior dalam organisasi, bahkan tidak menutup kemungkinan dilakukan oleh guru/dosen di lembaga pendidikan atau atasan di lingkungan kerja.

Masyarakat harus peka terhadap anomali perilaku warga sekitarnya. Radar sosial masyarakat harus diasah lebih tajam. Perilaku anomali seperti tiba-tiba menarik diri dan menyampikan ujaran kebencian dapat dikenali sebagai masuknya paham radikal. Jika ini terjadi maka masyarakat harus memberikan peringatan dini kepada aparat setempat.

Pemerintah dan masyarakat harus bahu membahu mencegah paham radikal. Kompetensi aparat intelijen harus ditingkatkan. Radar sosial masyarakat harus ditajamkan. Jika hal ini dapat dilakukan secara bersama-sama maka diharapkan teori balon kelompok radikal tidak terjadi.

*) Stanislaus Riyanta, peneliti dan editor jurnalintelijen.net, menempuh studi S2 Kajian Stratejik Intelijen di Universitas Indonesia

%d blogger menyukai ini: