Sketsa News
Home Berita Terkini, News Bom Solo, DPR Akan Tuntaskan Revisi UU Terorisme

Bom Solo, DPR Akan Tuntaskan Revisi UU Terorisme

Sketsanews.com – DPR bersama pemerintah akan segera menuntaskan revisi UU Terorisme.

warga-menyaksikan-pasca-ledakan-bom-mapolresta-surakarta_20160706_205037

Hal itu menyusul peristiwa bom di Mapolresta Surakarta, Solo, Jawa Tengah.

“Sekarang (RUU Terorisme) sedang dibahas di DPR, mendorong dengan kejadian itu untuk menuntaskannya,” kata Ade Komarudin atau Akom di Kediaman Megawati, Jakarta, Rabu (6/7/2016).

Ia mengatakan pihaknya bersama pemerintah akan menuntaskan RUU Terorisme untuk melakukan pencegahan dini.

Politikus Golkar itu mengingatkan terorisme menjadi momok tersendiri bagi Indonesia dan negara-negara Islam.

Sementara Wakil Ketua Pansus RUU Terorisme Supiadin Aries Saputra mengatakan UU Terorisme yang berlaku saat ini hanya bersifat reaktif.

“Artinya UU Terorisme tersebut hanya bisa diberlakukan ketika sudah terjadi tindakan terorisme. UU tersebut tidak memberikan kewenangan kepada Aparat Penegak Hukum maupun Aparat Intelijen untuk melakukan langkah-langkah Deteksi dini dan langkah preventif terhadap rencana aksi terorisme,” kata Supiadin.

Padahal, lanjut Politikus NasDem itu, jika aparat mempunyai kewenangan dalam deteksi dini maka rencana aksi terorisme bisa dicegah lebih awal dan aksi terorisme bisa dicegah.

“UU tersebut juga belum mengatur tentang langkah-langkah tindakan pasca terjadinya aksi terorisme,” katanya.

Ia menuturkan penanggulangan aksi-aksi terorisme dapat dilakukan secara integral dan komprehensif dengan RUU Terorisme yang baru.

Ditambah dapat melibatkan seluruh potensi dimulai dari langkah-langkah deteksi dini sampai dengan langkah-langkah pasca-aksi terorisme,” imbuhnya.

Sedangkan Mantan Kepala BNPT Ansyaad Mbai meminta UU Terorisme yang baru dapat memberikan kewenangan bagi aparat untuk bertindak pro aktif terkait indikasi teror.

“Jangan tunggu dia ngebom, segera ambil tindakan. Kalau tidak ya percuma dan jangan terlau dibelenggu HAM dalam konteks terorisme. Jangan bicara soal HAM teroris,” ujarnya.

Ia menilai pegiat HAM masih melihat dari sisi terorisme. Padahal, seharusnya berimbang dengan sisi HAM korban terorisme.

“Kita menghargai HAM perorangan tapi ketika menabrak kepentingan umum jangan mengagungkan HAM teroris,” kata Ansyaad.

(ip/Tribunnews.com)

%d blogger menyukai ini: