Sketsa News
Home Analisis, Berita Terkini, News Bom Surakarta, Aksi Lone Wolf dan ISIS

Bom Surakarta, Aksi Lone Wolf dan ISIS

Bom di Polresta Solo. ©2016 merdeka.com/istimewa
Bom di Polresta Solo. ©2016 merdeka.com/istimewa

Sketsanews.com – Bom meledak di halaman depan Mapolresta Surakarta sehari sebelum umat Islam merayakan idhul fitri.

Kejadian itu terjadi ketika sedang melakukan apel pagi, sebagaimana diungkapkan oleh Kadiv Humas Polri Irjen Boy Rafli Amar. Menurutnya, saat itu mapolresta Solo sedang melakukan apel pagi seperti biasanya, tiba-tiba ada seorang yang memaksa masuk ke halaman tempat apel tersebut.

Seperti dikutip viva.co.id, Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Martinus Sitompul mengungkapkan, ledakan tersebut terjadi pada sekitar pukul 07.30 WIB.

Ketika itu, ada seseorang yang tidak dikenal yang memakai sepeda motor mencoba masuk Mapolres Surakarta. Anggota Provost yang tengah berjaga di sana mencoba menghentikan pengendara tersebut.

“Namun pengendara sepeda motor tersebut tetap menyerobot masuk melalui penjagaan,” kata Martinus dalam keterangannya.

Anggota Provost, Brigadir Kepala Bambang Adi, mencoba mengejar pengendara tersebut. Namun, ketika pengejaran itu, tiba-tiba terjadi ledakan tepat di depan SPKT Mapolresta Surakarta. “Secara tidak diduga suara ledakan keras berasal dari badan pengendara motor tersebut,” sebut Martinus.

Kepala Kepolisian Resor Kota Surakarta Komisaris Besar Polisi Ahmad Luthfi menambahkan bahwa pelaku pengeboman di depan Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Markas Kepolisian Resor Kota Surakarta, Selasa pagi, seorang pria berusia antara 30 sampai 50 tahun.

“Pelaku laki-laki usai antara 30 hingga 50 tahun, dan tewas di lokasi, hancur di bagian paha hingga punggung,” katanya.

Luthfi menuturkan pelaku yang mengendarai sepeda motor seorang diri menerobos masuk ke Markas Kepolisian Resor Kota (Mapolresta) Surakarta karena jalan buntu dia kembali dan mengucapkan syahadat.

Petugas sempat mengejar pelaku tapi sebelum petugas sempat bertanya, pelaku merogoh saku jaket dan kemudian bom meledak. Akibat kejadian itu satu petugas terluka ringan karena terkena ledakan. “Dan langsung dibawa ke rumah sakit,” kata Ahmad.

Siapa Nur Rohman

Pelaku peledakan bom yang terjadi di halaman mapolresta Solo mengarah kepada seorang laki-laki yang bernama Nur Rohman. Nama ini muncul setelah beredar foto mayat pelaku bom berikut kartu tanda penduduk yang tertera identitas Nur Rohman.

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigadir Jenderal Agus Rianto belum bisa memastikan bahwa pelaku teror bom di Solo adalah Nur Rohman. “Identitas pelaku masih dalam pendalaman. Data yang kami miliki dari personel kami masih harus didalami,” ucap Agus saat memberikan keterangan pers di kantor Divisi Humas Mabes Polri.

Kalau memang benar Nur Rohman pelaku serangan bom bunuh diri di halaman Mapolresta Solo, Jawa Tengah pada pukul 07.45 WIB Selasa (5/7), maka itu bukan nama baru dalam jaringan teror.

Kapolri Jenderal Badrodin Haiti bahkan meyakini Nur Rohman adalah jaringan Bahrun Naim, WNI asal Solo yang kini telah berada di Suriah. Pernyataan Badrodin soal Bahrun Naim ini sebenarnya bukan kabar baru.

Hal ini berawal ketika Densus AT 88 menangkap Abu Mus’ab alias Arif Hidayatullah yang memiliki hubungan dengan Bahrum Naim. Karena dia menerima dana dan order dari Bahrum Naim untuk melakukan aksi terror di Indonesia.

Selain itu, Arif juga memperiapkan penginapan bagi tiga orang yang diduga terkait dengan kasus bom Sarinah di Jalan Thamrin Jakarta beberapa bulan yang lalu. Mereka adalah Ali, Nur Rohman dan Andika.

Densus AT 88 telah berhasil menangkap Ali yang mana dia diduga telah disiapkan sebagai pengantin, dan Andika berhasil ditangkap akhir-akhir ini di Solo. Dia berperan untuk meracik bom, sedang Nur Rohman masih menjadi buron sampai terjadi peledakan bom di halaman mapolresta Solo.

Dari identitas Nur Rohman ini berkembang nama kelompok yang dikenal dengan istilah JADKN (Jamaah Anshorut Daulah Khilafah Nusantara).

Pertanyaan yang muncul adalah benarkah aksi ini merupakan aksi Lone Wolf sebagaimana yang diberitakan oleh media. Pertanyaan yang lain adalah benarkah aksi itu murni dilakukan oleh kelompok tertentu tanpa adanya campur tangan atau permainan intelijen.

Analisa

Untuk menjawab pertanyaan itu kita harus memahami definisi kata Lone Wolf dan sejarah munculnya Lone Wolf itu sendiri.

lone

Lone Wolf (serigala tunggal) adalah istilah suatu kejahatan kekerasan (terorisme) dengan memberi dukungan terhadap suatu ideologi, gerakan dan kelompok tertentu,  namun pelakunya adalah pejuang tunggal yang sama sekali terlepas dari organisasi atau struktur kelompok tertentu, bisa dikatakan pejuang tunggal ini hanya merupakan simpatisan individual yang melakukan aksinya sendiri atas inisiatif sendiri tanpa komando kelompok tertentu.

Istilah ini dipopulerkan oleh FBI yang pada tahun 90’an membuat suatu operasi “Lone Wolf” untuk menangkap Alex Curtis dan Tom Metzger pelopor “white supremacists” atau supermasi kulit putih, bagi Alex Curtis dan Tom Metgzer mereka melakukan kampanye kepada sesama kaum rasis di Amerika untuk tergerak melakukan tindakannya sendiri – sendiri tanpa komando untuk melakukan pembunuhan, penggunaan senjata biologis untuk menghancurkan ras lain, hal ini untuk mencegah penangkapan terhadap anggota lain yang mudah dilakukan kalau itu berupa kelompok (tentunya tercatat). Alex Curtis mempopulerkan 5 kata apabila seorang lone wolfers tertangkap yaitu: “I have nothing to say”. Tom Megzer juga mengembangkan perjuangan yang berdiri sendiri, tanpa pemimpin dengan sel individu yang tidak ada hubungannya dengan sebuah organisasi.

Pada kenyataannya memang perjuangan dengan “Lone Wolf” sulit sekali di deteksi, karena pelaku adalah tunggal dan tidak pernah punya kontak pribadi dengan kelompok yang lebih besar sehingga sulit melakukan kegiatan intelejen terhadap pelaku teroris tunggal dibanding kelompok teroris konvensional.

Contoh Aksi Lone Wolf

timothy

Timothy McVeigh, pelaku pemboman Kota Oklahoma menggunakan bom truk akibat perbuatan “lone wolfer” timothy mc veigh yang menewaskan 168 orang dan ratusan orang lainnya terluka. ia sering disebut sebagai contoh klasik dari “Lone Wolfer”. Meskipun ada tersangka lain bernama Terry Nichols dihukum karena bersekongkol dengan dia, ia bekerja sama karena dibawah tekanan. McVeigh mengancam Nichols akan membunuh dirinya atau keluarganya jika ia tidak bekerja sama dalam membantunya mencampur pupuk dan bahan lainnya untuk dibuat bom. McVeigh dinyatakan bersalah dan dihukum mati pada tanggal 19 April 1995.

teodore

Theodore Kaczynski , yang dikenal sebagai “Unabomber “. Ia antara tahun 1978 hingga 1995 terlibat dalam pengiriman “paket bom” ke banyak orang, menewaskan tiga orang dan melukai 23 lainnya. Ia adalah seorang anti kemapanan yang mengancam untuk melanjutkan pemboman kecuali manifesto anti-industrinya diterbitkan oleh New York Times disetujui oleh pemerintah AS. Ia membuat bomnya pada sebuah gubuk ditengah hutan yang tanpa dialiri listrik yang sesuai dengan “anti kemapanannya”, sebenarnya Kaczynski adalah seorang Jenius lulusan Universitas Havard, ia divonis seumur hidup oleh pengadilan AS.

ahmad bin

Ahmad bin Abu Ali, seorang tunawisma pelaku bom sepeda yang nyaris menewaskan 2 anggota polantas di pos Kalimalang Jakarta. Ahmad bersimpati terhadap perjuangan islam di seluruh dunia dari media yang dilihat dan dibacanya, ia membuat bom sederhana dari bahan dasar petasan dan paku yang ditaruh di sepedanya, ia berniat membawa bom dan ditaruh pada sepedanya dan akan meledakkannya dekat anggota polisi yang bertugas. Namun sayangnya ledakan itu kurang tepat sehingga mengenai dirinya sendiri, ledakan itu terjadi sekitar pukul 08.00 WIB pada tanggal 30 Sept 2009 dan terjadi di belakang AKP Heri yang sedang mengatur lalu lintas.

Dia menderita luka parah dan patah tulang dan meninggal beberapa jam kemudian, dari hasil penyelidikan polisi ia tidak terkait dengan kelompok teroris manapun, ia adalah seorang “lone Wolfer”.

Siapakah Dibalik Serangan Mapolresta

Dari identitas nama pelaku peledakan itu muncul nama kelompok yang dikenal dengan Jamaah Anshorut Daulah Khilafah Nusantara. Sebagaimana yang dikatakan oleh Kepala BNPT komjen Tito Karnavian, menurutnya, Nur Rohman pelaku bom Solo memiliki kaitan dengan Bahrun Naim, otak bom Thamrin. Keduanya terhubungan oleh sosok Abu Musab yang telah ditangkap di Bekasi pada Januari lalu.

tito-karnavian-nn_20160622_215616

“Abu Musab ini berhubungan atau satu sel dengan JADKN (Jamaah Ansarut Daulah Khila fah Nusantara), agak beda sedikit dengan Bom Thamrin yang dilakukan JAD (Jamaah Ansarut Daulah),” ujar Tito. JADKN kata Tito, berafilisasi dengan Bahrun Naim. Sedangkan JAD berafiliasi dengan Abu Jandal.

Dari pernyataan tersebut bisa dipastikan bahwa dibelakang aksi tersebut adalah ISIS. Hal ini sejalan dengan apa yang dilontarkan oleh Irfan Idris, dia mengatakan bahwa ISIS merupakan ancaman besar bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Masalahnya hari ini adalah bebahayakah ISIS bagi Negara Indonesia, Ulama terkemuka asal Yordania Syeikh Ali Hasan Al Halabi menilai jaringan ISIS di Indonesia bukanlah ancaman yang membahayakan bagi keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Menurutnya, paham radikal ISIS dengan sendirinya akan hilang di negeri ini jika Indoenesia mengedepankan kehidupan agama yang toleran terhadap sesama.

“Syria (Suriah) dan Indonesia dalam hal ISIS beribu kilometer jaraknya. Padahal Syria (Suriah) dan Irak hanya beberapa kilometer saja dengan ISIS. Jadi kalau boleh saya katakan, ISIS di Indonesia tidak berbahaya dan akan hilang apabila tetap mempertahankan nilai toleransi,” ujar Syeikh Halabi, kepada pers di Kemayoran, Jakarta Pusat, Senin (23/3).

Kesimpulan

Berdasarkan data dan analisa diatas, bisa kita ambil kesimpulan, yaitu:

  1. Aksi tersebut bukan merupakan aksi Lone Wolf karena pelaku masih ada kaitannya dengan kelompok tertentu. (JADKN dan ISIS)
  2. Kalau boleh kita belajar dari beberapa kasus pengeboman yang terjadi di Indonesia ini, sebagai contoh kasus bom Bali I dan lain-lainnya, polisi dan densus dalam mencari pelaku dan dalang memerlukan beberapa waktu lamanya untuk menguak siapa dibalik layar peristiwa itu. Berbeda dengan kasus bom Thamrin dan bom mapolresta, polisi tidak membutuhkan beberapa hari untuk mengungkap pelaku. Mereka hanya butuh waktu kurang dari 12 jam sudah bisa mengungkap siapa dalang pelakunya.
  3. Pernyataan Dean Mogot berkenaan dengan kasus Cikini yang terjadi pada jaman pemerintah Soekarno. Pada saat itu terjadi kasus terorisme dan dalam waktu sehari semua pelaku bisa tertangkap. Dia mengatakan ini tidak mungkin terjadi kalau bukan sebuah rekayasa.

“Apakah tidak menutup kemungkinan aksi terror yang terjadi merupakan hasil rekayasa dari pihak intelijen dan pihak-pihak yang berkepentingan untuk melancarkan aksi politiknya dengan mengkambinghitamkan umat Islam.”

(Bz)

%d blogger menyukai ini: