Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Headlines, Hidup Sehat, News Demi Perbaikin Gizi, Kata Pakar: Masyarakat Indonesia Harus Beralih ke 5 Sehat 8 Sempurna

Demi Perbaikin Gizi, Kata Pakar: Masyarakat Indonesia Harus Beralih ke 5 Sehat 8 Sempurna

Kunjungan Universitas Sahid Jakarta

Sketsanews.com, Jakarta – Masyarakat Indonesia sudah banyak yang mengenal istilah “4 Sehat 5 Sempurna”. Konsep hidup sehat itu menjadi pedoman untuk bisa hidup yang lebih baik. Namun, sepertinya konsep tersebut sudah harus digantikan dengan yang lebih baik.

Adalah “5 Sehat 8 Sempurna”. Konsep tersebut saat ini telah diamini oleh banyak pakar gizi maupun kementerian kesehatan sebagai ujung tombak kebijakan negara sebagai bentuk perbaikan gizi di zaman milenial sekarang ini. Perkembangan ini pun mengacu pada perbaikan pola hidup yang juga dinamis di masyarakat.

Dipaparkan Guru Besar Ilmu Gizi Prof. Dr. Ir. Hardinsyah, MS, “5 Sehat 8 Sempurna” itu adalah pangan pokok, lauk pauk, sayuran dan buah-buahan, minuman, dan membatasi gula, garam, dan lemak. Kemudian penyempurnanya ialah aktivitas fisik, menjaga kebersihan diri, dan cek fisik dan kesehatan secara rutin.

dikutip dari Okezone, “4 Sehat 5 Sempurna memiliki kelemahan yang kondisinya juga sudah tidak bisa diterapkan di masyarakat sekarang. Makanya, konsep baru ini harus dipahami dengan betul oleh semua orang dan diharapkan akan membawa dampak yang baik, khususnya ke pertumbuhan kesehatan masyarakat Indonesia,” katanya dalam acara Danone: Journalist Goes To Campus, di Bogor, Selasa (22/8/2017).

Prof. Hardi melanjutkan, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai upaya tambahan dalam mengaplikasikan konsep tersebut. Salah satunya adalah memilah mana makanan yang baik pun yang buruk.

Mengaca pada penelitian yang pernah diterbitkan sebelumnya, ternyata ada beberapa kategori makanan sehat sebagai penunjang hidup sehat. Penjelasan mengenai hal tersebut adalah makanan yang sehat itu adalah makanan yang porsinya pas.

Kemudian, dalam satu piring makan, Anda sebisa mungkin untuk menambahkan unsur pangan yang bergizi tinggi, makanan juga beragam, atau Anda mengonsumsi full makanan sehat.

Sementara itu, terkait dengan pengaturan gula, garam, dan lemak, hal itu juga harus menjadi perhatian. Sebab, GGL tersebut menjadi pemicu beberapa penyakit tidak menular yang trent-nya menjadi penyakit yang paling banyak diderita masyarakat Indonesia sekarang ini.

Bicara mengenai “5 Sehat 8 Sempurna”, Prof. Hardi menambahkan, kenapa akhirnya pemerintah menambahkan aktivktas fisik di dalamnya, menurut dia, itu karena kebiasaan masyarakat sekarang malas gerak.

“Zaman dulu, tidak dicantumkan, ya, karena orang-orangnya bekerja dengan tenaga yang banyak. Lalu, aktivitas luar ruangan yang dilakukan anak-anak pun banyak. Tidak seperti sekarang yang kebanyakan duduk,” tegasnya.

Kemudian, konsep “4 Sehat 5 Sempurna” juga harus diubah karena tidak ada porsi yang tepat untuk asupan yang baik. Jadi, sebetulnya, konsep lama tersebut hanya menjelaskan dan mengharapkan adanya konsumsi beragam jenis pangan. Nah, sekarang hal tersebut sudah terjadi, tetapi rasanya belum cukup untuk membuat masyarakatnya sehat.

“Makanya, porsi makanan pun sekarang menjadi penting karena ternyata itu juga berdampak langsung kepada kesehatan manusianya. Mulai dari makanan pokok yang harusnya lebih berkurang dibandingkan sayuran. Kemudian, buah juga harus selalu ada di setiap makanan,” tetang Dr. Ir. Drajat Martianto, MSc, di acara yang sama.

Drajat menambahkan sedikit, menurut dia sebaiknya keberagaman tetap dipertahankan. Hal itu agar Indonesia tetap memiliki banyak makanan pokok aslinya, tidak akhirnya hanya sekadar nasi saja. “Anda tidak apa-apa kok menggantikan nasi dengan sumber karbohidrat lainnya. Asal tetap mencukupi asupan gizi setiap hari, ya, sah-sah saja,” pungkasnya.

Bicara mengenai makanan pokok, Indonesia sendiri sekarang memiliki 77 jenis pangan pokok yang bisa mengganti nasi. Beberapa di antaranya adalah bihun, jagung, singkong, kentang, roti putih, talas, ubi, atau tepung-tepungan. Dengan perhitungan yang tepat, asupan nasi itu bisa diminimalisir.

(Ro)

%d blogger menyukai ini: