Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, Citizen-Jurnalism, Headlines, News Desa di Tapal Batas Ini Sabar Menunggu Listrik PLN

Desa di Tapal Batas Ini Sabar Menunggu Listrik PLN

Rangkaian pipa PLTMH Suruh Tembawang (Rachman Haryanto/detikcom)

Sketsanews.com, Entikong – Layanan setrum dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) belum sampai di semua pelosok dusun terpencil. Di desa kawasan perbatasan Indonesia-Malaysia, listrik dipernuh bukan dari PLN.

Mereka mencukupi kebutuhan listrik dengan memanfaatkan arus sungai yang dibendung. Memang daya listrik yang dihasilkan tak besar, tapi mereka rasa ini cukup untuk menunjang hidup sederhana.

“Kalau bicara soal listrik, masyarakat di pelosok masih menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH). Mudah-mudahan ke depan lebih baik, bisa dikoneksikan ke PLN, dan PLN bisa membangun jejaring untuk wilayah perbatasan,” kata Bupati Sanggau, Paolus Hadi, di rumah dinasnya, Kecamatan Kapuas, Sanggau, Kalimantan Barat, Kamis (13/7/2017).

Jalanan menuju Suruh Tembawang (Rachman Haryanto/detikcom)

Ada 10 pusat desa di wilayah Kabupaten Sanggau yang belum dialiri listrik. Dari 868 dusun masih ada 294 dusun yang belum merasakan terangnya lampu listrik. Paolus menyatakan pemerintah daerah dengan APBD-nya tak bisa berbuat apa-apa soal listrik, soalnya kini perkara energi menjadi urusan Pemerintah Pusat.

“Dulu saya punya pemikiran ‘Sanggau Terang’, APBD boelh memangun jaringan. Sekarang nggak bisa lagi. Aturan sudah berubah,” tutur Paolus.

Tim detikcom pergi ke Suruh Tembawang, desa di Sanggau yang berbatasan langsung dengan Malaysia. butuh waktu tempuh dua jam lebih untuk menempuh jarak sekitar 40 km dari pusat kecamatan Entikong. Jalanan yang ditempuh adalah Jalan Paralel Perbatasan, kondisinya masih dalam tahap pengerjaan dan belum bisa dilewati kendaraan roda dua.

Mayoritas medan jalan berupa kerikil dan tanah, menanjak dan menurun. Bila hujan, jalanan tanah akan berubah menjadi kubangan lumpur. Lebih baik tak naik sepeda motor bila musim hujan tiba melainkan naik perahu menyusuri Sungai Sekayam. Beruntung, hujan tak terlalu intens saat kami ke sana, sehingga perjalanan ke Suruh Tembawang bisa ditempuh menggunakan sepeda motor trail.

Sesaimpainya di sana, Kepala Desa Suruh Tembawang Gak Mulyadi menjelaskan bahwa desa di sini memang tak menggunakan aliran listrik PLN, melainkan menggunakan listrik dari PLTMH. Masyarakat juga sudah merasa cukup dengan kondisi listrik seperti ini.

“Untuk desa, kita terus terang tidak merasa ada keluhan dengan tenaga mikrohidro,” kata Gak di Suruh Tembawang, Kecamatan Entikong, Minggu (16/7/2017).

PLTMH memang merupakan pembangkit listrik yang ramah lingkungan. Pembangkit listrik jenis ini mengandalkan aliran air sebagai faktor vital. Semakin deras arus air yang mampu menggerakkan baling-baling di turbin, maka semakin besar pula energi listrik yang bisa dihasilkan generator.

Jalan kaki menuju PLTMH Suruh Tembawang (Danu Damarjati/detikcom)

Maka masyarakat di sekitar PLTMH bakal menjaga kelestarian hutan agar ketersediaan air terjamin. Ketersediaan air berarti ketersediaan listrik, kalau airnya tidak ada ya sama saja tidak ada listrik.

Kepala Dusun Suruh Tembawang bernama Toyib dan Kepala Dusun Lebak Raya bernama Martinus mengajak kami untuk pergi mengunjungi lokasi PLTMH. Tempatnya ada di dekat Sungai Aweh. Pak Toyib bilang kita tinggal berjalan kaki saja selama 10 menit. Tapi bagi kami yang tak terbiasa dengan medan di sini, butuh waktu hampir setengah jam untuk mencapai lokasi.

Siang itu cuaca sedang gerimis, kami menuju generator dan bendungan desa. Pertama, jalan setapak ditempuh. Pak Toyib yang cuma pakai sandal jepit terlihat enteng menuruni tanah licin dan menaiki batu menanjak yang dialiri air. Gesit sekali. Saya dan kawan-kawan agak tercecer di belakang, perlu berhati-hati menempuh medan di tengah hutan seperti ini.

Sampai juga di rumah pembangkit listrik. Sayang sekali penjaga pintunya keburu pergi karena kami dirasa terlalu lama untuk sampai ke sini. Terdengar derasnya aliran air dari tempat kami berdiri. Di bagian atas ada kabel yang tersalur ke permukiman dusun. Berlawanan arah, ada pipa panjang berdiameter hampir 1 meter menuju ke atas. Di sana ada bendungan.

Rumah Generator PLTMH Suruh Tembawang (Danu Damarjati/detikcom)

Kami berjalan menuju bendungan dengan meniti pipa warna abu-abu yang basah kena gerimis. Sementara saya sibuk berhati-hati supaya tak terpeleset jatuh ke sungai atau jurang, Pak Toyib gesit melangkah. Naik ke atas batu dengan susah payah, akhirnya terlihat sungai berbatu dengan air yang cukup melimpah.

Ini adalah bendungan untuk sistem PLTMH. Air yang dibendung di sini kemudian disalurkan lewat pipa menuju turbin dan generator di bawah tadi. Namun bendungan ini relatif kecil, bahkan hanya sebagian kecil saja air yang dibendung dan masuk pipa ketimbang air yang lolos.

“Bendungan ini kurang bagus,” kata Toyib.

Dia menjelaskan bahwa bendungan ini perlu diperbesar supaya generator bisa menghasilkan listrik dengan kuantitas yang lebih. Namun mereka perlu semen, sementara semen di sini harganya cukup mahal. Di Entikong, satu sak semen harganya Rp 85 ribu, adapun di Suruh Tembawang harganya mencapai Rp 300 ribu. Pasir di sini harganya Rp 15 ribu untuk ukuran satu blek (kaleng) saja.

Foto: Jalan kaki menuju PLTMH Suruh Tembawang (Danu Damarjati/detikcom)

Martinus, menyusul dari belakang, membenarkan keterangan Toyib. PLTMH ini punya daya 120 Watt. Bila bendungan ditinggikan maka dayanya bisa menjadi 300 Watt.

“Bila bendungan lebih besar, maka dinamo juga perlu diganti dengan yang lebih besar,” kata Martinus.

PLTMH ini dibangun lewat Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri tahun 2010, memakai dana bantuan dari pemerintah pusat sebesar Rp 350 juta plus dana swadaya masyarakat. PLTMH di pusat desa ini termasuk yang tahan lama. PLTMH di dusun lain sudah ada yang rusak atau beroperasi dengan debit air yang minim sehingga tidak maksimal menghasilkan listrik, seperti di Dusun Pool dan Badat.

Jalan kaki menuju PLTMH Suruh Tembawang (Danu Damarjati/detikcom)

Bahkan generator di sini juga pernah rusak. “Kemudian dibawa ke Pontianak, ongkos perbaikannya Rp 12 juta lebih termasuk ongkos membawa kembali ke sini. Sekarang sudah lancar lagi,” kata Toyib.

Listrik ini menerangi kampung sejak pukul lima sore hingga pukul tujuh pagi. Bila hari Minggu, listrik menyala 24 jam. Masyarakat Dusun Suruh Tembawang dan Dusun Lebak Raya kembali bisa merasakan manfaat dari PLTMH ini, meski terbatas pada jam-jam tertentu saja. Kini mereka perlu perhatian pemerintah untuk memperbesar daya listrik dari PLTMH.

“Kalau bendungan diperbesar, maka siang hari listrik bisa digunakan. Seharusnya juga ada dua PLTMH. Kalau cuma satu, nggak akan mampu,” kata Martinus, berjongkok di pinggir bendungan Sungai Aweh.

Keterbatasan listrik dari PLTMH juga berimbas pula ke praktik pendidikan di sini. Ada satu Sekolah Dasar Negeri (SDN) 05 Suruh Tembawang di sini, salah satu guru bernama Djumadi mengatakan keterbatasan listrik di sini memengaruhi kegiatan belajar mengajar siswa. Tak ada pengajaran teknologi informasi atau komputer untuk murid-murid.

“Waduh, jauh. Karena kendalanya listrik. Listrik itu cuma bisa hidup malam hari saja,” tutur Djumadi.

PLTMH memang sederahana, ramah lingkungan, dan cocok untuk orang pelosok. Namun mereka tetap mengharapkan aliran listrik PLN meski sadar fasilitas akses jalan menuju ke sini masih belum memadai. Bagi mereka, pemenuhan aliran listrik adalah mimpi kedua setelah pemenuhan fasilitas jalan mulus.

“Memang kita masyarakat meminta adanya listrik dari PLN. Tapi kondisi jalan belum memadai. Jadi ya, kita sabar dulu lah,” ucap Gak Mulyadi.

(Ro)

%d blogger menyukai ini: