Sketsa News
Home Berita, Berita Terkini, News, Peristiwa DPR Sebut Sikap Aung San Suu Kyi Beda dengan Ayahnya Perlakukan Rohingya

DPR Sebut Sikap Aung San Suu Kyi Beda dengan Ayahnya Perlakukan Rohingya

Pengungsi Rohingya melintasi jalan berlumpur setelah menyeberangi perbatasan Bangladesh-Myanmar di Teknaf, Bangladesh. (Foto: Reuters/Mohammad Ponir Hossain)

Sketsanews.com, Jakarta  —  Penasehat negara Myanmar, Aung San Suu Kyi dinilai tak berbuat banyak mengatasi konflik yang dialami oleh etnis Rohingya di negara bagian Rakhine. Sikap Suu Kyi dianggap berbeda dengan ayahnya, Aung San yang mengakui kewarganegaraan etnis mayoritas muslim itu di Rakhine State.

Anggota Komisi I DPR RI, Sukamta mengatakan semasa pemerintahan militer Jenderal Aung San, para warga etnis Rohingya diterima secara terbuka sebagai warga Myanmar. Pasalnya mereka dianggap telah berjasa dan membantu perjuangan rakyat Myanmar dalam merebut kemerdekaan dari tangan Inggris

“Mereka (Rohingya) sudah alami pasang surut dengan suku lain di Myanmar. Dulu Aung San (Ayah Suu Kyi) memberi apresisasi kepada mereka karena turut membantu dalam kemerdekaan Myanmar,” kata Sukamta dalam Diskusi Redbons ‘Tragedi Rohingya, Antara Nobel Perdamaian dan Kemanusiaan’ di Kantor Redaksi Okezone, Kebon Sirih, Jakarta Pusat, belum lama ini.

Saat penjajahan Inggris, Myanmar akhirnya berhasil memperoleh kemerdekaannya pada 4 Januari 1948. Bahkan Inggris disebut-sebut mengakui bahwa etnis Rohingya itu merupakan bagian dari masyarakat negara bagian Rakhine, Myanmar. Namun setelah kepemimpinan Aung San, militer kemudian mencabut status kewarganegaraan etnis itu.

“Tapi kemudian rezim militer (setelah Aung San) mencabut status kewarganegaraan (Rohingya) itu. Ada konflik politik ekonomi, bercampur jadi satu. Tapi apa pun permasalahannya, tidak layak mengorbankan nyawa manusia. Kalau sampai ratusan bahkan ribuan orang dibunuh, ini sudah tragedi yang sangat luar biasa,” ungkapnya.

Partai yang dipimpin Aung San Suu Kyi sendiri (NLD), dua tahun lalu memperoleh suara terbanyak di Myanmar. Namun, usaha itu dibarengi dengan cara berkoalisi dengan junta militer. Sejumlah pihak menilai, posisi Suu Kyi dilematis. Antara harus mengatasi konflik kemanusiaan atau melawan koalisi sendiri.

[As]

%d blogger menyukai ini: